Jangan Ditutup Sekolahku

cropped-burgerone_header.jpgAdalah 10 universitas tertua seperti dikutip dari www.collegestats.org. Ini untuk kita ketahui saja bahwa dari dulu orang pingin pintar untuk kemajuan diri dan bangsanya:

  1. Universitas Al-Karaouine di Fes, Maroko. Awalnya, universitas ini adalah sebuah masjid yang didirikan pada tahun 859 oleh seorang wanita bernama Fatima al-Fihri.
  2. Universitas Al Azhar di Mesir, menempati urutan kedua sebagai universitas tertua yang didirikan pada 970-972.
  3. Universitas Nizamiyya. Universitas ini adalah satu dari sejumlah universitas yang didirikan oleh Khwaja Nizam Al-Mulk pada abad 11 di negara yang saat ini dikenal dengan Iran.
  4. Universitas Bologna.Universitas ini adalah lembaga pendidikan tinggi pertama yang didirikan di belahan dunia Barat pada tahun 1088, di Bologna, Italia.
  5. Universitas Paris. Proses belajar mengajar di universitas ini telah berlangsung sejak 1096.
  6. Universitas Oxford. Secara formal disebutkan dibangun pada tahun 1096. Universitas ini ini berkembang pesat sejak tahun 1167, saat Henry II melarang pelajar Inggris untuk belajar ke Universitas Paris.
  7. Universitas Montpelier di Montpelier, Prancis. Diyakini, usia universitas ini jauh lebih tua dari tanggal pendiriannya pada tahun 1150.
  8. Universitas Cambridge. Universitas berbahasa Inggris tertua kedua setelah Oxford. Universitas ini dibentuk oleh para sarjana yang meninggalkan Universitas Oxford selama terjadi sengketa tahun 1209.
  9. Universitas Salamanca di Salamanca, Spanyol yang didirikan pada 1218 dan memperoleh gelar “universitas” oleh Paus Alexander IV pada tahun 1225.
  10. Universitas Padua adalah universitas tertua kedua di Italia setelah Universitas Bologna yang didirikan pada tahun 1222.

Perlu diketahui bahwa Universitas Cambridge didirikan tahun 1209 sedang Kerajaan Majapahit yang  keren di sejarah kita berdiri tahun 1293. Majapahit itu baru berdiri 84 tahun setelah Universitas Cambridge didirikan. Jadi ksatria-ksatria jaman Majapahit itu saling beradu ilmu kanuragan, terbang-terbang di langit, naik kuda putih, dengan pukulan-pukulan dewa, di rentang waktu yang sama di Inggris sana, ada mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di kelas, atau melakukan riset ilmiah untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Bangsa kita memang ketinggalan, tapi apa yang terjadi jika tidak ada pendidikan. Jika sekolah sekolah tidak ada. Kita belajar siang malam, full day atau full night sampai nangis darah saja masih ketinggalan dengan negara lain apalalagi kalau tidak sekolah, tidak belajar.

Nah, belum lagi bangsa ini pernah dijajah oleh negara2 seperti:

  1. 1509 – 1595 M : Portugis hanya menjajah Maluku, dan berhasil diusir tahun 1595.
  2. 1521 – 1692 M : Spanyol hanya menjajah Sulawesi Utara, dan berhasil diusir tahun 1692.
  3. 1602 – 1942 M : Belanda menjajah seluruh Indonesia, dan berhasil diusir tahun 1942, tetapi datang kembali tahun 1945, setelah Jepang pergi dan tahun 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.
  4. 1806 – 1811 M : Perancis secara tidak langsung menguasai Jawa, karena kerajaan Belanda takluk pada kekuatan Perancis. Berakhir pada tahun 1811, saat Inggris mengalahkan kekuatan Belanda-Perancis di Pulau Jawa.
  5. 1811 – 1816 M : Inggris, Kapitulasi Tungtang adalah penjanjian berisi penyerahan Pulau Jawa dari Belanda kepada Inggris. Lalu pada tahun 1816, pemerintah Inggris resmi berakhir menguasai Indonesia.
  6. 1942 – 1945 M : Jepang menjajah Indonesia 3,5 tahun,dan berakhir pada 1945, sejak kekalahan Jepang kepada sekutu.

Dampak penjajajahan tidak hanya membuat bangsa ini menjadi miskin, sengsara dan terbelakang tetapi dampak terhadap mental bangsa kita masih terasa saat ini yaitu mental inlander. “Mental Inlander” cocok sebagai sebutan mental kaum terjajah. “Inlander” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Pribumi” atau “Masyarakat asli’. Wujud dari sindrom mental inlander yakni bangsa kita tidak percaya diri, tidak yakin dengan kemampuan sendiri, selalu menganggap bangsa lain lebih unggul, lebih bagus, lebih berpengalaman, dan lebih pintar. Belum lagi kita ini masyarakat yang suka di adu domba. Maka membuat semakin tidak PD saja kita ini jadi rakyat Indonesia.

Mari kita jadi guru pembelajar untuk membuat pintar siswa kita dan jangan punya ide untuk menutup sekolah atau minta sekolah ditutup. Jadi apa bangsa ini nantinya?.

Salam guru pembelajar dari https://falahyu.wordpress.com

Sumber :

10 Universitas Tertua di Dunia, diakses dari : http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/23/10261579/Ini.Dia.10.Universitas.Tertua.di.Dunia, tanggal 10/10/2015

University of Cambridge dan Kerajaan Majapahit, diakses dari : https://labanapost.com/2014/05/general/university-of-cambridge-dan-kerajaan-majapahit/, pada tanggal 10/10/2015

Sejarah Indonesia, diakses dari : https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia , pada tanggal 10/10/2015

Syndrom Mental Inlander, diakses dari: http://guraru.org/guru-berbagi/syndrome_quotmental_inlanderquot_mental_kaum_terjajah/, pada tanggal 10/10/2015

Geram Pada Guru

guru_smk1smdMenurut http://www.kreasiberita.com (09/2016), Wakil Presiden Jusuf Kalla sedikit geram dengan kondisi guru sekarang. Banyak guru yang lebih cenderung mementingkan kesejahteraan, sedangkan tugas mereka untuk meningkatkan kapasitas murid jadi berkurang.

Contoh sederhananya, ujar JK, pada suatu pertemuan dia membahas soal peningkatan mutu guru dan anak didik hampir semua guru diam. Mereka kurang antusias. Tapi, begitu membahas soal tunjangan dan kesejahteraan langsung riuh dan semangat sekali.

“Tunjangan telat sedikit saja mereka protesnya bukan main. Padahal tunjangan mereka itu sudah lebih tinggi dari profesi-profesi lain,” kata JK saat melakukan audiensi dengan 12 rektor Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK), di Istana Wakil Presiden jalan Medan Merdeka Selatan.

Dia menegaskan paradigma seperti itu harus diubah. Guru harus lebih berwibawa dan mencintai profesinya agar mutu pendidikan di Indonesia lebih baik lagi. JK secara khusus pernah membandingkan mutu pendidikan di Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. “Ujian untuk SD di Singapura seperti ujian SMP disini. Kalau dengan Malaysia tertinggal dua tahun kita,” keluh JK.

Yah menurut saya yang penting : “jadi guru yang baik atau tidak sama sekali”. Tapi coba ingat kata-kata ini untuk menginspirasi menjadi guru baik, begini:

Ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, kaisar Jepang mengumpulkan para rakyatnya. “Masih berapa jumlah guru yang tersisa di negeri ini ?” tanya kaisar kepada rakyatnya, seusai negeri itu dibombardir pasukan Amerika. Pertanyaan kaisar ini diprotes oleh tentara Jepang yang juga yang juga hadir dalam pertemuan darurat itu. “Wahai kaisar mengapa tuan tak menanyakan jumlah kami yang tersisa, sebab kamilah yang mati-matian membela negeri ini”, ujar seorang perwira militer yang luput dari serbuan ganas tentara AS.

“Jika di negeri ini masih ada guru, kita akan segera bangkit dari kekalahan kita. Dari gurulah nanti akan lahir insinyur, dokter, dan tenaga-tenaga terampil lainnya guna membangun negeri ini”, jawab kaisar.

Ucapan kaisar terbukti benar, hingga sekarang Jepang merupakan salah satu raksasa dunia yang menguasai sektor perdagangan dunia dengan produk-produk hasil teknologi mereka.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru didefinisikan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan status profesi kualifikasi akademis guru minimal diploma empat (D-IV) atau sarjana. Kemudian, guru juga harus memiliki kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional yang diraih lewat pendidikan profesi. Persyaratan berikutnya adalah sertifikat atau semacam lisensi dari perguruan tinggi tertentu yang terakreditasi. Kalau tiga persyaratan tadi sudah terpenuhi, baru seseorang bisa diangkat menjadi guru dengan hak-hak kesejahteraan yang jauh lebih besar daripada PNS lain. Setidaknya, ada 17 hak kesejahteraan yang akan diterima guru. Selain gaji pokok, guru berhak atas banyak tunjangan. Yaitu, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi satu kali gaji pokok dari APBN/APBD, tunjangan fungsional berupa subsidi APBN dan atau APBD, dan tunjangan khusus satu kali gaji pokok. Guru yang ditempatkan di daerah khusus (terpencil dan konflik) juga berhak atas rumah dinas dari pemda setempat. Kemudian, ada tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, penghargaan (tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam), pelayanan kesehatan, kemudahan pendidikan bagi putra-putri, dan bentuk kesejahteraan lain. Bagi guru di daerah khusus, negara juga akan memberikan kenaikan pangkat rutin otomatis, naik pangkat istimewa satu kali, dan perlindungan profesi baik hukum maupun keselamatan fisik. Guru juga diberi hak cuti studi dengan tetap memperoleh gaji penuh. ’’Hak dan penghasilan guru itu berlaku juga bagi mereka yang bekerja di sekolah swasta sepanjang memenuhi persyaratan guru.

Untuk menjaga kehormatan dan wibawa guru, setiap pendidik diwajibkan masuk organisasi profesi yang independen. Organisasi profesi itu harus memiliki kode etik dan dewan kehormatan guru.

Guru Yang Berdaya 

Dalam buku The Power of Empowerment, David Clutterbuck bilang bahwa “tidak ada seorang pun bisa diberdayakan oleh orang lain; individu-individu harus memberdayakan diri mereka sendiri”. Menjadi berdaya adalah mempersepsi bahwa sang diri itu memiliki potensi luar biasa dan, secara mandiri, orang yang berdaya tak lelah-lelahnya untuk menunjukkan kehebatannya kepada orang lain tanpa bergantung kepada pihak lain.

Hernowo (www.mizan.com),  merinci cara-cara agar para guru menjadi benar-benar berdaya :

Pertama, para guru perlu berusaha keras untuk memiliki keterampilan belajar dan mengajar. Ini artinya para guru, misalnya, harus diberi peluang selebar-lebarnya untuk mempelajari materi-materi yang sangat baru berkaitan dengan proses pemelajaran. Misalnya, mereka perlu memahami brain-based learning (belajar berbasiskan cara bekerjanya otak) yang merevolusi pendidikan di milineum ketiga ini.

Selain itu, para guru juga perlu tahu lebih jauh tentang metode-metode belajar-mengajar, seperti Quantum Learning, Quantum Teaching, Accelerated Learning, Cooperative Learning, Multiple Intelligences, Neuro Linguistic Programming, Active Learning, CTL (Contextual Teaching and Learning), metode mencatat Mind Mapping, dan masih banyak lagi. Ringkasnya, pada bagian ini, para guru perlu menyadari bahwa mereka tidak lagi mengagung-agungkan pentingnya mendahulukan penguasaan atas kurikulum (what) melainkan lebih dahulu memperlengkapi diri mereka dengan hal-hal yang berkaitan erat dengan “how to teach” dan lebih-lebih lagi”how to learn“.

Tanpa para guru mau berusaha keras untuk mengubah cara berpikir mereka berkaitan dengan apa yang perlu didahulukan agar dapat menjadi guru yang berdaya-yaitu lebih mendahulukan how ketimbang what–ada kemungkainan mereka akan terus-menerus diperdaya oleh keadaan. Marilah kita merenung sejenak. Mengapa kelas-kelas yang ada di sekolah saat ini cenderung membosankan? Mengapa buku-buku yang beredar di sekolah hanyalah buku-buku pelajaran? Mengapa perpustakaan-perpustakaan di sekolah bagaikan kuburan? Mengapa para guru mandul menulis dan tak mampu melahirkan karya-tulis yang inovatif? Mengapa peringkat perguruan tinggi kita merosot jauh dibandingkan dengan perguruan tinggi yang ada di Vietnam dan Malaysia?

Kedua, para guru perlu benar-benar menguasai ilmu atau materi yang diajarkannya secara total dan tidak sekadarnya. Ini berarti para guru perlu belajar dan berlatih reading and writing skill. Membaca dan menulis perlu dijadikan kebiasaan rutin para guru. Tanpa membaca dan menulis, mustahil para guru dapat secara terus-menerus meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang pengajar.

Bahkan, kalau memungkinkan, para guru pada akhirnya harus dapat menjadi ‘ROLE MODEL’ baca-tulis bagi anak didiknya. Lewat membaca, seorang guru akan memperluas dan memperkaya kosakata sehingga kalau bercerita di depan anak didik akan senantiasa mengasyikkan, sementara lewat menulis sang guru dapat merekam pengalamannya atau “mengikat” pengetahuan yang kemudian dikonstruksi menjadi semacam ilmu (ingat, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.) yang bermanfaat.

Lewat proses mengikat (makna) itulah para guru benar-benar dapat membuktikan bahwa dirinya telah menguasai ilmu yang dimiliki yang akan diajarkan kepada anak didik. Lewat menulislah sang guru kemudian akan dapat mengaitkan ilmunya dengan pengalaman pribadinya. Apakah ilmunya memberdayakan dirinya? Apakah ilmunya benar-benar sesuai dengan karakter dirinya? Apakah ilmunya dapat memberi manfaat kepada orang lain? Apakah ilmunya memang layak diajarkan kepada anak didik dan menggembirakan anak didik?

Ketiga, para guru perlu mendidik dirinya sendiri agar memiliki kepribadian yang unggul dan bernilai. Bayangkan ada guru yang, setiap berhadapan dengan anak didiknya, memancarkan kewibawaan, kehormatan, dan keteladanan. Kewibawaan, kehormatan, dan keteladanan inilah yang akan membuat seorang guru dapat diterima oleh lingkungannya. Pertama, dia dihormati dan dihargai oleh murid-muridnya dan diterima sebagai orang yang akan mengarahkan murid-muiridnya menjadi manusia mulia (bermoral luhur). Kedua, dia diakui kehebatannya oleh rekan-rekan guru lainnya dan senantiasa mau menolong, membagikan pengalamannya, serta memotivasi rekan guru lain untuk meningkatkan diri. Ketiga, dia dapat menjadi mitra yang baik terhadap pengelola sekolah, terutama kepala sekolah, dan juga dengan orangtua murid, aktivis pendidikan, pemerintah, dan lain-lain.

Guru yang seperti ini jelas akan dapat mengubah lingkungan dan dirinya sendiri menjadi terus membaik. Inilah sosok guru yang sudah mulai menuju ke suatu wilayah yang di wilayah itu “guru kehidupan” berada. “Guru kehidupan” sangat berbeda dengan “guru kurikulum”. “Guru kehidupan” benar-benar mau dan mampu mengajarkan sesuatu yang bermakna. Dan makna yang diajarkannya itu bukan merupakan “makna yang dirumuskan” sebagaimana yang sering diajarkan oleh “guru kurikulum”. “Guru kehidupan” lebih menekankan untuk mengajarkan “makna yang dihayati”, yaitu makna yang tidak sekadar tercantum di kurikulum atau buku, melainkan makna yang bersentuhan dengan kehidupan sejati.

Agar dapat menjadi “guru kehidupan”, seorang guru perlu mengasah kecerdasan emosinya. Emosilah yang mampu memberi arti–bukan arti sekadar arti sebagaimana tertulis di buku, namun arti yang membumi yang mampu menjadikan sang diri terus bersemangat untuk memperbaiki diri. Masalah kecerdasan emosi ini memang sudah banyak dan sering dibicarakan. Namun, jarang pembicaraan itu menyentuh bidang-bidang penting dalam sebuah kehidupan, apalagi mengaitkan emosi dengan arti kehidupan sejati.

Dalam buku menariknya (dan ketika diterbitkan pertama kali, buku ini sempat mendapat label “buku menggemparkan”), Emotional Intelligence, Daniel Goleman menjelaskan secara panjang lebar soal pentingnya kecerdasan emosi. Lewat riset-riset intensifnya, Goleman menemukan bahwa yang membuat seseorang sukses itu bukanlah kecerdasan akademis (IQ). IQ tetap penting. Namun, IQ hanya menyumbang seseorang untuk meraih sukses hanya sebesar 20%. Sementara itu, sekitar 80% disumbang oleh kecerdasan emosi (EQ).

Dalam bukunya yang lain, yang lebih menggugah, Working with Emotional Intelligence, Goleman kemudian mengajari kita untuk menggunakan “peta emosi” agar kecerdasan emosi kita melejit. “Peta emosi” itu berkaitan dengan diri-personal dan diri-sosial. Dalam diri-personal, ada tiga hal penting yang perlu kita kuasai: (1) sadar-diri dan mampu memahami diri, (2) mengelola diri, dan (3) memotivasi diri. Tanpa kita dapat memahami diri, mustahil kita dapat mengelola diri kita sendiri. Dan jika kita tidak dapat mengelola diri kita, akibatnya kita tidak mungkin dapat memotivasi diri untuk terus-menerus memperbaiki diri.

Dalam diri-sosial hanya ada dua hal penting, yaitu (1) memahami orang lain, dan (2) empati. Namun, sebelum kita beranjak ke diri-sosial, sebaiknya kita berupaya keras lebih dahulu untuk menyentuh hal-hal paling mendasar dari diri-personal–kalau perlu sampai ke sumur terdalam bernama inner self. Tanpa kita mau berupaya sungguh-sungguh untuk memahami diri, apa mungkin kita mampu memahami diri orang lain? Tanpa kita mampu lebih dahulu mengelola diri sendiri, apa mungkin kita dapat mengelola diri orang lain? Tanpa kita mampu memotivasi diri sendiri, apa mungkin kita memotivasi diri orang lain–bahkan ikut berempati kepada penderitaan orang lain?. (www.mizan.com, 25/04/05).

Berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang, guru memberikan sumbangan dalam prestasi belajar siswa (36%), selanjutnya manajemen (23%), waktu belajar (22%), dan sarana fisik (19%). Aspek yang berkaitan dengan guru adalah menyangkut citra/mutu guru dan kesejahteraan (Indra Djati Sidi, 2000).

Di dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat telah dikembangakan konsep Next Century School (NCS) sebagai berikut : (i) guru sebagai pelatih yang mendorong siswanya untuk mau meningkatkan prestasinya, guru tidak selalu lebih pintar dari siswa. Guru bersama-sama siswa  berupaya keras untuk meningkatkan prestasi siswa. Mereka merupakan team work yang padu, (ii) Sebagai konselor, sebagai sahabat siswa yang menjadi tempat mendiskusikan berbagai masalah kehidupan, bersama-sama mencari solusi. Guru dapat menjadi teladan atau idola siswa; (iii) guru menjadi manajer belajar, artinya bersama-sama dengan siswa mencari pengaturan yang optimal untuk mengelola waktu belajar. Dengan singkat dapat disampaikan bahwa hubungan antara guru dengan siswa tidak dibatasi oleh ruang kelas, di pasar, dilapangan, di perpustakaan, di tempat rekreasi dan lain-lain. Hal inilah yang akan menciptakan suasana yang kondusif yang didasarkan hubungan harmonis antara guru dengan siswa (Indra Djati Sidi, 2000).

Masyarakat meyakini pendidikan selalu identik dengan sekolah walaupun kita tahu bahwa sekolah bukanlah satu-satunya sarana pendidikan. Maka sekolah mempunyai peranan penting dalam aktivitas  pendidikan yang mencetak dan membentuk kepribadian siswa, mencerdaskan dan membuat menjadi terampil dalam kompetensinya. Perhatian guru terhadap pendidikan adalah proritas. Maka guru perlu memahami peranan dan fungsinya serta dapat mengatasi kendala yang timbul dalam menjalankan tugas. Guru juga wajib meningkatkan mutunya ditekankan pada proses berkelanjutan melalui pemberdayaan diri sendiri.

Sumber Pustaka  :

Falah Yunus, Menjadi Guru Yang Baik atau Tidak Sama Sekali, diakses dari http://www.geocities.com/guruvalah

Hernowo,  Menjadi Guru Yang Berdaya, di akses dari www.mizan.com, tanggal 25/04/05

Indra Djati Sidi, Pendidikan dan Peran Guru Dalam Era Globalisasi, dalam majalah Komunika No. 25/tahun VIII/2000

 

Ada Korupsi di Sekolah

Anak sekolah ternyata  juga sudah berani korupsi, ini saya alami pada anak sekolah dimana saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Begini kejadiannya, sekolah itu mempunyai Koperasi namanya Koperasi Siswa (Kopsis), suatu program  sekolah untuk mendirikan koperasi yang anggotanya dari siswa, untuk siswa. Ini sekalian mempraktikkan pelajaran ekonomi di sekolah. Tentu saja Koperasi ini sangat bermanfaat bagi para siswa dimana keperluan siswa dapat dibantu melalui Koperasi siswa. Dalam perjalanan Koperasi Siswa yang mulia ini dikotori oleh salah satu siswa yang menjadi bendahara Koperasi, tidak tahunya uang Koperasi dipinjam untuk tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh siswa. Alhasil Koperasi mengalami kerugian yang membuat Koperasi terpaksa tutup. Sementara  siswa yang Korup malah mengundurkan diri dari sekolah dan pihak sekolah tidak bisa meminta pertanggunga jawaban uang Rp 25.000.000,- dari siswa mengingat siswa dari kalangan miskin.

Kejadian berikutnya menyangkut  program siswa kelas XII SMK yang menginginkan pembuatan buku tahunan sekolah sebagai kenang-kenangan, mereka sepakat membuat panitia tersendiri tanpa melibatkan guru. Sepakat iuran pembuatan buku tahunan Rp 300.000,- per siswa. Pemotretan telah dilakukan oleh pihak pemborong buku dan pembayaran uang muka buku telah dibayarakan. Namun seiring perjalanan waktu uang yang terkumpul di bendahara digunakan oleh bendahara dengan alasan dipinjam oleh orang tuanya untuk keperluan keluarga. Alhasil uang tersebut sampai hari H perpisahan siswa tidak kunjung dikembalikan dan gagallah pembuatan buku tahunan. Tentu saja ini menimbulkan kericuhan siswa.

Siswa yang diberi tanggung jawab memegang uang  teman-temannya kadang-kadang tidak amanah. Uang dikorupsi untuk keperluan pribadi. Bendahara kelas korupsi uang kas kelas untuk keperluan pribadi, karena tidak tahan menahan godaan dalam memegang uang. Uang dibelikan Samrtphone, buat nraktir teman-teman dan keperluan lain menurut seleranya.

Jangankan siswa yang menjadi bendahara, siswa sendiri sering melakukan kejahatan dengan iseng-iseng, misalnya siswa makan jajan lima maka dia mengaku makan satu saja, atau DARMOJI (Dahar Limo Ngaku Siji), ini tentu merugikan lek-lek yang menjual makanan di sekolah. Siswa ulangan sekolah mencontek, ngrepek. Siswa membolos sekolah Alpha tapi mengaku sakit atau ijin dengan memalsukan surat dari orang tua.

Menurut Transparency International dalam http://www.ti.or.id, korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Menurut hukum Indonesia, singkatnya ada tiga belas pasal UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 21 Tahun 2001. Menurut UU itu, ada tiga puluh jenis tindakan yang bisa dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. Pada  bab 3, tapi secara ringkas tindakan-tindakan itu bisa dikelompokkan menjadi :

  1. Kerugian keuntungan negara
  2. Suap-menyuap (istilah lain sogokan atau pelicin)
  3. Penggelapan dalam jabatan
  4. Pemerasan
  5. Perbuatan curang
  6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
  7. Gratifikasi (istilah lain pemberian hadiah)

Jelasnya perbuatan siswa yang ngembat uang kas kelas, bendahara panitia meminjam uang yang bukan miliknya tapi tidak dikembalikan itu termasuk korupsi. Termasuk juga perbuatan suap menyuap di sekolah seperti siswa tidak diterima di sekolah negeri, agar diterima maka orang tua menyogok panitia penerimaan siswa baru agar diterima. Siswa makan dikantin, makan lima mengaku makan satu. Siswa tidak jujur dalam membolos sekolah, siswa mencontek ketika ulangan itu termasuk korupsi atau paling tidak cikal bakal tumbuhnya korupsi pada diri mereka.

Menurut Liputan6.com, Jakarta. Setiap tahunnya, koalisi anti korupsi gobal, Transparency International melansir daftar Corruption Perception Index. Sebuah hasil survey mengenai Negara terkorup menurut persepsi warga dunia. Studi tersebut dilakukan terhadap 168 negara dan memberi rentang nilai 0 hingga 100 pada tiap Negara tergantung tingkat korupsi yang pernah dilakukan. Berikut adalah 10 negara terkorup di dunia seperti dilansir dalam Business Insider, Kamis (28/1/2016):

  1. Meksiko. Peringkat pertama jatuh pada Meksiko. Hal ini dikarenakan Negara ini merupakan gudang obat-obat terlarang yang biasa sering diselundupkan ke beberapa negara termasuk Amerika Serikat (AS). Tingkat kriminalitas di Meksiko juga tergolong tinggi.
  2. Turki. Pada tahun 2014, negara ini dikejutkan dengan kasus pidana korupsi masif yang terkuak melibatkan sejumlah nama pejabat. Mereka terbukti bersalah dengan ikut serta dalam tindak pencucian uang, penipuan hingga penyuapan.
  3. Italia. Korupsi di negara pemangku ekonomi Eropa ini biasanya diasosiasikan dengan kehadiran Perdana Menteri Silvio Berlusconi. Ia telah dijerat tindak pidana korupsi berkali-kali dan telah telah terbukti menyuap seorang senator pada tahun 2015.
  4. Yunani. Tindak korupsi di Yunani telah membludak sejak survei yang diadakan tahun lalu. Dikenal dengan istilah “fakelaki”, warga Yunani biasa untuk memberikan uang suap agar mampu mendapatkan servis yang lebih baik
  5. Slovakia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus “Gorilla Scandal” telah berkembang pesat di Slovakia. Gorilla Scandal merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh politisi, pejabat, dan eksekutif bisnis untuk memberikan suap demi mendapatkan kontrak.
  6. Hungaria. Hungaria telah menjadi Negara lebih korup dalam satu tahun terakhir. Tindak korupsi yang paling sering dilakukan adalah memberikan dokter dan ahli bedah suap dalam tiap praktiknya. Masyarakatnya bahkan telah menganggap bahwa tindakan ini merupakan tindakan yang normal.
  7. Korea Selatan. Korupsi merupakan masalah besar di Korea Selatan. Pada tahun 2015, Perdana Menteri Lee Wan-koo dipaksa mengundurkan diri pada bulan April setelah dituduh menerima suap dalam kasus bunuh diri dari seorang pengusaha terkemuka. Korea Selatan mendapat nilai 56 dari indeks 100 pada indeks korupsi.
  8. Republik Ceko. Nilai yang didapat negara ini adalah 56, naik 4 poin dari yang tahun lalu hanya mencapai 51 poin. Hal ini dikarenakan banyaknya skandal politik yang terjadi dan menyeret Perdana Menteri Petr Necas.
  9. Slovenia. Terdapat beberapa skandal korupsi besar yang telah terjadi di Negara ini. Pada tahun 2013 dan 2014, protes besar-besaran terjadi untuk menuntut Perdana Menteri Janez Janza dan pemimpin oposisi Zoran Janković karena mereka dituduh menyembunyikan asset pribadi mereka sebenarnya
  10. Israel. Negara ini mencetak nilai 61 dari 100 poin survei. Skandal korupsi terbesar Israel terjadi pada tahun 2015 saat mantan Perdana Menteri Ehud Olmert terbukti bersalah saat mendapatkan uang sebesar US$ 150.000 dari perusahaan properti asal Amerika.

Juga dari Liputan6.com, Jakarta. Nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2015 dinilai membaik bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Poinnya naik sebanyak 36. Indonesia kini menempati peringkat ke-88 dari 168 negara. Hal ini pun diapresiasi baik oleh Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto. Meski belum signifikan, tapi trennya membaik. Sumbangsih upaya reformasi birokrasi dalam upaya meningkatkan akuntabilitas pelayanan publik dan menekan risiko korupsi menjadi poin penting naiknya IPK tahun 2015 ini,” kata Gun Gun di Jakarta pada Kamis 28 Januari 2016.

Upaya pencegahan untuk mengurangi ataupun menghilangkan kejahatan korupsi menjadi solusi yang paling baik dan lebih mudah dilakukan daripada mengatasi tindak kejahatan korupsi. Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu diupayakan bersifat masif untuk menjadi kekuatan gerakan anti korupsi yang lebih efektif. Salah satu ini yang dapat dilaksanakan sebagai upaya pencegahan tindak pidana korupsi adalah Pendidikan Anti Korupsi (PAK) bagi generasi muda khususnya siswa di sekolah.

Warga Sekolah perlu menyadari akan arti pentingnya kata korupsi yang sangat menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa. Menyadari betapa akutnya tindak korupsi di Indonesia dan dampaknya bagi kehidupan kebangsaan ini maka warga Sekolah harus beperan serta dalam pemberantasan korupsi. Maka Sekolah harus mengaplikasikasikan pembudayaan anti korupsi dengan mengintegrasikan nilai-nilai anti korupsi dalam setiap kebijakan, langkah-langkah, dan aspek pengelolaan sekolah. Tujuan pengintegrasian tersebut adalah untuk memberikan pemahaman yang benar tentang anti korupsi dan membangun budaya baru “tanpa korupsi”.

Perlunya sekolah untuk mencegah korupsi dengan melakukan pendidikan anti korupsi dimulai dari contoh pendidik dan tenaga kependidikan serta stakeholder pendidikan untuk memberi contoh tauladan untuk tidak melakukan tinakan korupsi. Tapi yang paling penting adalah dari rumah mereka, dimana sebuah keluarga membawa keluarganya untuk berlaku sewajarnya sebagai manusia yang beradab, keluarga yang berusaha menjauhkan diri dari siksa api neraka.

Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan [at-Tahrîm/66:6]

Untuk mengingatkan kita akan bahaya korupsi ayo menyanyi

DI PENJARA

Intro: C     G    C   2X    G

C

KINI KU SENDIRI

G

TINGGAL DI PENJARA

F

KARENA KORUPSI

G                               C

MAKA AKU DI BUI

C                                             G

NA NA NA NA NA NA NA NA NA

                                                         C

NA NA NA NA NA NA NA NA NA

C

KAWAN BEBAS SEMUA

DI ALAM BEBAS MERDEKA

                                        G

AKU TERPERANGKAP

                                    C

DI DALAM PENJARA

C

KAWAN BERNYANYI RIANG

BERCANDA BERSUKA RIA

G

AKU KESEPIAN

                                  C              G7

DI DALAM PENJARA

Sumber:

http://www.ti.or.id Transparency International

https://almanhaj.or.id/4126-jagalah-dirimu-dan-keluargamu-dari-api-neraka.html

http://bisnis.liputan6.com/read/2422978/10-negara-paling-korup-di-dunia-mana-saja

Kesalahan Pendidik Jika Tidak Memperhatikan Teori, Konsep dan Prinsip dalam Pendidikan.

Oleh : Yoseph Payong Ado, M. Pd.

Rasionalisasi

YosephPayongADSektor pendidikan adalah sesuatu yang sangat menentukan di dalam pembangunan suatu bangsa. Karena lewat pendidikan suatu bangsa dapat mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi. Misalnya, persoalan kemiskinan, kebodohan, lapangan kerja, dan masih banyak lagi. Semuanya ini dapat diatasi lewat pendidikan. Karena hanya orang-orang yang terdidiklah yang dapat mencari jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Kalau suatu bangsa mau maju dan berpartisipasi aktif dalam pertarungan internasional, maka janganlah mengabaikan sektor pendidikan. Dengan demikian maka pendidikan menjadi hal yang sangat menentukan keberadaan suatu bangsa, dan harus menjadi kebutuhan yang sangat vital.

Pembukaan UUD 1945 secara tegas dinyatakan dalam alinea ke 4 bahwa salah satu tujuan Negara kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dasar amanat ini maka bagi Negara kita sektor pendidikan ini ditempatkan pada posisi yang sangat strategis di dalam pembangunan nasional kita. Maka menjadi tugas kita semua untuk berpartisipasi aktif guna menjadikan sektor pendidikan ini sebagai sarana untuk mencerdaskan seluruh anak bangsa menuju bangsa yang mandiri yang sanggup memenangkan persaingan internasional yang semakin ketat ini.

Menyadari betapa pentingnya sektor pendidikan ini, maka para pengelola pendidikan di Negara kita diharapkan menaruh perhatian yang serius di dalam mengembangkan pendidikan, karena lewat pendidikan yang dikelola dengan baik dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa kita di mata internasional. Perhatian yang serius artinya bukan hanya pada tataran wacana belaka, akan tetapi harus mampu diwujud-nyatakan dalam tindakan nyata. Seperti pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas pendukung pendidikan, biaya pendidikan yang terjangkau sampai kepada masyarakat yang paling bawah, dan yang tak kalah pentingnya adalah perhatian terhadap keberadaan para pengabdi pendidikan, guru.

Guru menjadi ujung tombak pendidikan. Berhasil tidaknya pendidikan sangat tergantung pada guru. Karena di pundak merekalah harapan besar akan keberhasilan pendidikan ini diletakan. Namun demikian guru terkadang dilupakan keberadaannya di masyarakat. Sudah saatnya masyarakat dan bangsa kita memberikan apresiasi yang wajar terhadap para pengabdi pendidikan yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa ini. Tidak boleh lagi guru dipandang dengan sebelah mata lantaran jasa-jasa yang pernah ditorehkan pada segenap anak bangsa dewasa ini. Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa guru, mulai dari pendidikan tingkat bawah sampai tingkat selanjutnya telah banyak memanusiakan manusia di Negara kita ini. Banyak yang telah menjadi orang penting di masyarakat kita lahir dari tangan guru. Laksana busur, maka guru telah banyak melepaskan anak panah pendidkan dan persis kena pada sasaran yang tepat.

Guru Dalam Keseharian

Tugas pokok seorang guru adalah membawa anak-anak bangsa kita ke suatu situasi yang baru. Artinya bahwa, anak yang datang ke sekolah pada awalnya belum tahu apa-apa. Fungsi gurulah yang membimbing, mengarahkan dan mendampingi mereka untuk memulai tahu apa yang belum diketahuinya, mulai membaca apa yang belum pernah dibacanya, dan menulis apa yang sebelumnya belum bisa dibuatnya sendiri. Inilah tiga hal yang menjadi tugas guru yang paling utama. Di atas ketiga hal ini, pembentukan karaketer anak didik sesuai dengan kepribadian bangsa kita adalah hal yang sangat mutlak dan tak dapat ditawar-tawar. Dari sinilah pembentukan peserta didik menjadi pribadi yang utuh harus dimulai. Dan karenanya, untuk menjadi guru harus benar-benar melalui suatu pendidikan dan latihan yang memadai dan bukan suatu pelatihan yang asal jadi. Sehingga pada saat berdiri di depan kelas guru sungguh menjadi model bagi anak didiknya, karena tahu apa yang seharusnya dilakukan bagi anak didiknya. Guru yang seperti inilah yang mampu membawa anak-anak memasuki situasi pendidikan yang memberi harapan akan masa depan.

Ada 3 hal yang penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan. Teori, konsep dan prinsip pendidikan. Ketiga hal ini sangat menentukan keberhasilan pendidikan yang dilakukan oleh para guru. Lewat pemahaman teori yang baik seorang guru mampu mengembangkan pendidikan anak-anaknya. Tanpa teori maka jalan menuju ke suatu situasi yang baru menjadi tidak terarah. Guru berhasil memberikan penampilan terbaiknya di depan kelas karena guru tersebut mengusai teori pendidikan dengan baik. Maka dengan kualifikasi yang memadai seorang guru akan memiliki kepercayaan diri yang mantap menuntun para siswanya untuk mengetahui lebih banyak hal yang indah demi masa depan para siswanya. Dengan demikian maka haruslah dikembangkan terus kemampuan guru akan perkembangan teori pendidikan yang semakin hari semakin kompleks.

Guru juga harus mengetahui dengan jelas konsep pendidikan yang dikembangkan dalam suatu satuan pendidikan. Lewat konsep yang baik guru dapat mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada para siswanya. Guru mampu mengarahkan para siswanya kepada konsep pendidikan yang benar tentang apa yang dipelajari dan untuk apa  suatu hal itu harus dipelajari. Guru mampu mengarahkan para siswanya untuk menjadi manusia seutuhnya karena memahami konsep pendidikan yang baik. Maka konsep pendidikan kita yang berlandaskan pancasila menjadi sangat penting untuk dipahami dan harus dilaksanakan oleh seorang guru dalam membimbing anak-anaknya. Membimbing anak-anak di dalam sebuah kelas bukan hanya untuk menguasai sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan, akan tetapi juga untuk membentuk mental spiritual anak menuju pribadi yang sempurna, yang pada gilirannya nanti dapat bertingkah laku yang baik di masyarakat sebagai manifestasi dari tingkat kognitif yang baik yang diperolehnya lewat pendidikan.

Di samping itu Prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan di Negara kita juga harus mendapat perhatian guru. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam  pendidikan, guru harus tahu benar prinsip-prinsip yang harus dikembangkan sesuai dengan tuntutan pendidikan nasional kita. Secara umum prinsip pendidikan terhadap seorang anak adalah bagaimana membuat seorang anak dapat belajar dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki dalam dirinya. Guru harus tahu benar kebutuhan anak dalam belajar. Guru hendaknya mampu menempatkan dirinya dalam situasi anak sehingga anak merasa didampingi dan nyaman dalam belajar. Dalam mengembangkan suatu pendidikan haruslah diciptakan suasana belajar harmonis di mana siswa menemukan dirinya dan mau menjadi sumber belajar bagi dirinya sendiri. Selanjutnya guru sebagai fasilitator untuk berusaha membawa siswanya untuk menemukan hal-hal baru yang berguna bagi dirinya. Belajar tidak berarti harus mendapat ilmu sebanyak-banyaknya dari guru. Siswa juga harus diarahkan untuk menemukan sendiri segala sesuatu yang penting bagi diri dan masa depannya. Prinsip seperti inilah yang harus diperhatikan dan dikembangkan oleh guru dalam pendidikan.

Dilema Guru

Kesalahan besar sering terjadi dalam dunia pendidikan adalah, terkadang guru tidak memperhatikan tiga hal pokok seperti yang telah diuraikan di atas. Dalam praktek sehari-harinya, guru sering mengabaikan teori, konsep dan prinsip dalam pendidikan, dan menyelenggarakan pendidikan yang asal jadi. Seperti telah dikatakan sebelunya, betapa teori, konsep dan prinsip pendidikan itu sangat  penting, namun tidak dilakukan oleh guru. Hal ini biasa terjadi pada kondisi guru yang tidak memiliki spirit guru, atau yang tidak menyadari tugas pokok sebagai guru yang adalah memanusiakan manusia. Sehingga yang terjadi adalah unsur mengajar dan bukan dibarengi unsur mendidik. Dalam pelaksanaannya guru hanya memberikan ilmu sebanyak-banyaknya tanpa sedikitpun menyadari bahwa pada diri anak sebenarnya terdapat potensi besar yang kalau dikembangkan secara maksimal akan membawa hasil luar biasa bagi diri anak itu sendiri. Konsekuensi dari praktek yang seperti ini adalah anak menjadi pasif, tinggal menerima apa yang disampaikan oleh guru, tidak punya cukup waktu untuk mengemukakan pendapatnya, tidak punya cukup waktu untuk menemukan sendiri apa dianggapnya baru sebagai usaha mengembangkan potensi dalam dirinya. Semuanya ini bisa terjadi di samping karena guru yang tidak mempunyai spirit guru, juga Karena guru yang tidak mempunyai kualifikasi guru yang  memadai.

Yang menjadi dilema guru adalah karena tekanan system. Bahwa alasan tidak memperhatikan pentingnya teori, konsep dan prinsip dalam pendidikan disebabkan karena tidak ada spirit dan motivasi pada seorang guru, maka hal itu bisa diterima.  Yang menjadi masalah adalah bagi guru yang punya spirit guru yang luar biasa dan punya motivasi yang tinggi akan tetapi terkadang tidak memperhatikan pentinya teori, konsep dan prinsip dalam mengembangkan suatu pendidikan dan pengajaran. Hal ini terjadi karena tekanan system dari pengelola pendidikan kita.

Di dalam pendidikan dan pengajaran kita kenal adanya input, proses dan output    (IPO). Input adalah siswa yang masuk ke sebuah sekolah. Proses adalah proses belajar mengajar yang dikembangkan oleh sekolah (guru). Sedangkan output adalah lulusan (hasil) dari proses belajar mengajar itu. Seharusnya dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan yang harus mendapat perhatian lebih adalah pada tingkat prosesnya. Yang terjadi dewasa ini adalah kita (para guru) yang karena tekanan system sangat mengejar hasil (output). Bahwa hasil pendidikan dan pengajaran kita harus bagus dan maksimal, apapun prosesnya tidak penting. Bahayanya, karena kita mengejar output (hasil) maka tidak pernah kita memperhatikan prosesnya. Tekanan system itu terjadi karena situasi pendidikan kita sudah terkontaminasi oleh nuansa lain yang memanfaatkan pendidikan sebagai tolok ukur keberhasilan dari sistem itu.

Pada kondisi ini sebenarnya para guru menyadari betul akan manfaat dan pentingnya teori pendidikan diterapkan, konsep  dilaksanakan dan prinsip-prinsip dijalankan dengan baik. Akan tetapi karena adanya tekanan system maka terabaikanlah semuanya itu, yang paling penting adalah bagaimana memperoleh hasil yang maksimal apapun caranya. Dengan tidak memperhatikan proses maka hasilnya sangat instant. Anak hanya belajar untuk bisa berhasil lulus, tanpa menghiraukan apa jadinya setelah itu di kemudian hari. Dengan demikian maka akibatnya pendidikan tidak memperhatikan perkembangkan mental spiritual anak didik dan hasilnya malah menimbulkan banyak masalah sosial yang merebak di mana-mana di tanah air kita.

Kondisi seperti ini terjadi secara berkelanjutan. Karena kita selalu mengejar hasil dan tidak memperhatikan proses, maka hal ini ternyata ditangkap oleh para siswa kita. Opini terbangun dalam pikiran siswa kita dewasa ini adalah bahwa, walaupun tidak belajar sungguh-sungguh, pada saatnya akan lulus juga. Akibatnya tidak ada usaha keras dari siswa di dalam mengikuti proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, betapapun hal ini tidak bisa dikatakan semua siswa ada dalam kondisi itu. Keinginan siswa untuk menguasai ilmu pengetahuan untuk masa depannya menjadi sangat kecil. Dan akhirnya kita menciptakan generasi yang tidak tahan uji, tidak sanggup mengikuti persaingan global yang kini semakin ketat.

Kesimpulan

Dari semua uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa : Apabila dalam mengembangkan pendidikan para pendidik tidak memperhatikan teori, konsep dan prinsip dalam pendidikan, maka yang terjadi adalah pendidikan hanya menghasilkan generasi yang tidak tahan tahan uji, tidak mampu bersaing di era global, yang hanya mempunyai kemapuan kognitif tanpa dibarengi mental spiritual yang baik di masyarakat, tidak sanggup mengemukakan pendapat, tidak sanggup menemukan sendiri apa yang baik bagi diri dan masa depannya.

Maka yang seharusnya terjadi adalah pendidikan yang memperhatikan pentingnya teori, konsep dan prinsip dalam pendidikan agar mampu menghasilkan generasi yang sempurna. Semoga!

*) Drs. Yoseph Payong Ado, M. Pd adalah guru senior bahasa Inggris pada SMK Negeri 1 Samarinda, Dosen Bahasa Inggris pada S T Kateketik Pastoral Katolik, Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda, Dosen Bahasa Inggris pada FaHutan Universitas Mulawarman Samarinda

 

Paradigma Baru Pengajaran Bahasa Inggris

 Oleh : Drs. Yoseph Payong Ado, M. Pd *)

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

YosephPADPengajaran bahasa inggris di sekolah-sekolah  harus dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mempunyai gairah khusus untuk belajar. Hal ini penting, karena bahasa Inggris bukanlah merupakan mata pelajaran yang sangat diminati oleh para siswa di negara kita. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa  ada sebagian siswa kita sangat menggandrungi mata pelajaran yang satu ini, namun jumlahnya di dalam satu kelas masih dapat dihitung dengan jari. Alasan utama yang menyebabkan siswa tidak menyenangi  mata pelajaran bahasa Inggris adalah karena  sesungguhnya bahasa Inggris bagi negara kita adalah bahasa asing (foreign language) bukan bahasa ke dua (second language). Sebagai bahasa asing, bahasa Inggris hanya bisa digunakan oleh siswa pada saat mereka belajar di sekolah, akan tetapi, setelah pulang dari sekolah, siswa tidak pernah menggunakan bahasa itu lagi dalam interaksi sosialnya. Mereka kembali menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan menggunakan bahasa ibunya masing-masing. Dalam hal ini mereka (para siswa) tidak pernah diperhadapkan pada suatu tantangan yang ‘memaksa’  mereka harus menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian maka apa yang mereka pelajari di sekolah tidak pernah mereka wujud-nyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika demikian maka kemasan (packaging) pelajaran bahasa Inggris di sekolah sudah saatnya harus berubah yang dapat menghantar para siswa untuk terus menggunakannya setelah keluar dari sekolah.

Pemandangan yang berbeda manakala kita menyaksikan para siswa di negara-negara  yang  menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ke dua (second language). Katakanlah negara Malaysia. Ketika penulis bersama rombongan guru-guru bahasa Inggris se kaltim berkunjung ke salah satu negara bagian Malaysia, Sabah, kami semua tercengang menyaksikan suatu situasi yang hampir tidak pernah penulis dapatkan di negara kita, sekurang-kurangnya di samarinda. Para siswa di sana (setingkat SMA/SMK) mampu mempresentasikan hasil kerjanya dalam bahasa Inggris tanpa teks. Di saat sesi tanya jawab, merekapun dengan lancar memberikan jawanban dalam bahasa Inggris yang faseh sekali (very fluently). Bahkan di tempat kami menginap (di hotel Borneo Adventure) kami menemukan bahwa para cleaning service pun dapat menggunakan bahasa Inggris tingkat intermediate. Memang berbeda. Di samping para siswa  belajar bahasa Inggris di sekolah,  ada suatu tuntutan bagi mereka untuk harus tetap menggunakannya di luar sekolah di saat mereka berinterkasi sosial karena kondisi masyarakat yang menghendaki situasi tersebut harus terjadi. Jika tidak, maka sudah bisa dipastikan tidak akan terjadi interaksi sosial yang lancar. Jika di dalam hal bisnis, kemampuan bahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam menghandle suatu transaksi bisnis di tingkat manapun. Sehingga dapat dikatakan bahwa di setiap sektor kehidupan sosial  masyarakat di sana selalu diwarnai oleh penggunaan bahasa Inggris. Ada suatu hal yang bisa sangat ‘memalukan’ bagi tenaga kerja kita, adalah di saat kami ngobrol-ngobrol dengan para office boy dan waiter  di hotel tempat kami menginap tentang keberadaan tenaga kerja di sana.  Terungkaplah bahwa  tenaga kerja dari Indonesia sulit bersaing dengan para tenaga kerja dari negara-negara  lain, misalnya Philipna, Thailand, Srilangka dsb. Hanya karena tidak memiliki kemapuan berbahasa Inggris yang baik. Sehingga apabila tenaga kerja Indonesia dapat diterima bekerja di sebuah hotel atau restoran, maka mereka hanya bisa bekerja di bagian belakang, misalnya, cuci piring, memasak, membersihkan kamar dsb. Kondisi ini pasti membawa konsekuensi logis bahwa sudah pasti tenaga kerja Indonesia kalah bersaing dalam hal pendapatan finasialnya.

Menyimak kondisi riil di atas, Mari kita menoleh ke belakang melihat kondisi di negara kita. Sudah sejauh mana kita menjadikan bahasa Inggris sebagai  suatu kebutuhan atau malah menjadi konsumsi ke dua dalam hidup kita dan anak-anak bangsa kita.  Sudah saatnya penguasaan Bahasa asing khususnya bahasa Inggris tidak dapat ditawar-tawar lagi, apalagi di dalam menghadapi era masyarakat Asean di tahun 2015 ini. Jika tidak, kita harus rela menjadi orang asing di negara kita sendiri. Oleh karena itu, harus ada suatu keinginan yang kuat (strong desire)  untuk memberdayakan penguasaan terhadap Bahasa Inggris ini. Kita harus berani membuat suatu penetrasi dalam membudi-dayakan kemampuan bahasa Inggris ini di kalangan masyarakat dan bangsa kita. Tidak ada yang salah memang. Namun kita semua, pada posisi masing-masing mempunyai andil di dalam menciptakan suatu situasi di mana ‘memaksa’ kita untuk menggunakan bahasa Inggris ini di dalam keseharian kita. Dan untuk itu Sekolah sebagai suatu institusi formal yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kecerdasan  bangsa harus memandang kondisi di atas sebagai suatu tantangan untuk mau berbuat lebih di dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut.

2.  Rumusan Masalah

Agar jelas bagi kita untuk melangkah maju di dalam menanggapi fenomena di atas, maka permasalahan yang muncul dapatlah dirumuskan sebagai berikut.

1). Sejauh mana pentingnya paradigma baru dalam pengajaran Bahasa Inggris?

2).   Apakah ada pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran Bahasa Inggris?

  1. Tujuan Penulisan

1).  Untuk memberikan perbendaharan pengetahuan bagi guru-guru bahasa Inggris akan adanya usaha untuk meningkatkan kwalitas pengajaran bahasa Inggris di sekolah.

2).  Untuk memberikan masukan yang bermanfaat bagi guru-guru bahasa Inggris akan adanya paradigma baru pengajaran bahasa Inggris yang seharusnya dikembangkan disekolah.

 TINJAUAN PUSTAKA

 1. Pengertian Paradigma

Menanggapi kondisi di atas, adalah penting bagi kita untuk  mempunyai paradigma yang jelas dalam memandang sesuatu. Karena hal ini dapat menuntun kita untuk meraih sesuatu yang lebih berguna bagi kehidupan kita sendiri maupun orang lain. Lewat paradigma yang dimiliki diharapkan dapat membantu kita untuk memecah kebuntuan yang kita hadapi dalam kehidupan sosial kita. Sehingga Thomas Kuhn dalam bukunya “The Structure of Science Revolusion” menjelaskan paradigma dalam dua sisi. Di satu pihak dia memandang paradigma  merupakan suatu keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain ia menjelaskan bahwa paradigma sejenis unsur pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas. Pada pengertian yang ke dua dari Kuhn ingin mengajak kita untuk merefleksikan diri dalam kehidupan sehari-hari terlebih pada saat di di mana segala sesuatu terlalu menjadi teka-teki bagi kita. Kita harus terus berusaha menemukan solusi terbaik dari teka-teki hidup kita itu dengan berupaya menemukan cara terbaik untuk keluar dari teka-teki itu.

Sangat penting bagi kita untuk memiliki suatu paradigma dalam setiap menghadapi persoalan hidup kita sehari-hari.  Karena lewat paradigma itu kita terbantu untuk  merumuskan apa yang seharusnya kita pelajari,  persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.  Kamus psychology menjelaskan paradigma diartikan sebagai  1) suatu model atau pola untuk mendemonstrasikan semua fungsi yang memungkinkan kadar dari apa yang tersajikan . 2) rencana riset berdasarkan konsep-konsep khusus, dan, 3) satu bentuk experimental. Dari penjelasan ini sangat mungkin bagi kita bahwa, lewat paradigma dapat membantu kita untuk selalu berusaha menemukan model atau pola terbaru untuk membimbing kita mencapai hasil yang menggembirakan dari suatu usaha dalam bidang ilmu pengetahuan, juga kita dituntut untuk selalu berexperimen terhadap sesuatu yang baru guna membuat apa yang hendak kita lakiukan itu lebih berhasil guna. Karena secara etimologi arti paradigma adalah suatu model dalam teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir.

Suatu paradigma hanya bisa cocok digunakan  untuk suatu bidang ilmu pada suatu permasalahan dan pada suatu periode tertentu. Karena jika kita mengikuti pendapat Kuhn di atas maka lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya terikat oleh ruang dan waktu. Dari sinilah kita sedapat mungkin selalu berinovasi terhadap sesuatu dalam hubungannya dengan suatu ilmu pengetahuan agar tidak ketinggalan oleh derasnya arus perubahan di segala bidang kehidupan kita. Kita diminta untuk tidak bertumpu pada sesuatu yang kita yakiini adalah baik yang pada dasarnya sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman,  jika kita ingin berusaha untuk mendapatkan  suatu yang terbaik untuk diri kita juga orang lain. Maka menjadi keharusan bagi kita untuk berpindah dari suatu paradigma ke paradigma lain jika hal itu mampu memberikan ‘mutiara’  dalam usaha dan perjuangan kita. Untuk sampai pada titik itu, pastilah bukan hal yang mudah. Kita butuh suatu perjuangan yang besar yang harus pula didukung oleh hal-hal yang lain yang membuat kita memiliki semangat juang yang tinggi untuk terus berkreasi memanfaatkan setiap potensi diri kita dalam meraih mutiara tersebut di atas.

Memiliki paradigma berarti juga memiliki kemampuan memandang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup kita. Jika sesuatu yang kita pandang itu ternyata baik, maka kita butuh suatu keberanian untuk merubah sesuatu yang yang sudah ada, sudah kita miliki dan gunakan dengan  sesuatu yang  lebih baik itu. Di sinilah Patton (1975) mendefinisikan paradigma sebagai “A world view, a general perspective, a way of breaking down of the  complexity of the real world”. (Suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata). Sesuatu yang baik menurut patton ini adalah yang mampu menjawab problematika yang tengah kita hadapi saat ini. Seiring dengan itu kamus filsafat juga menjelaskan bahwa paradigma merupakan cara pandang sesuatu yang sekaligus menjadi dasar untuk menyeleksi  problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Dari pengertian paradigma di atas jelaslah bagi kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan suatu paradigma yang jelas yang mampu membawa kita kepada suatu perubahan yang lebih baik. Paradigma yang kita miliki haruslah sesuai dengan apa yang ingin kita lakukan, apa yang menjadi problema dalam hidup kita yang harus kita pecahkan dan apa yang harus kita perjuangkan untuk mendapat sesuatu yang terbaik dalam hidup kita. Kita butuhkan suatu keberanian yang luar biasa untuk keluar dari kebuntuan dalam usaha untuk memperbaiki apa yang sedang kita hadapi, betapapun kita butuh dukungan yang berarti dari pihak-pihak yang terkait agar apa yang kita impikan pada gilirannya menjadi kenyataan. Memang berat. Akan tetapi jangan putus asa, apabila apa yang kita pandang itu baik yang dapat memecah kebuntuan dan mampu menunjang perjuangan kita, dan apabila kita siap melaksanakannya dengan iklas maka pada saatnya akan memberikan mutiara  yang luar biasa bagi kita.

2. Pembahasan

Dalam pengajaran bahasa Inggris tidaklah cukup bagi para guru bahasa Inggris untuk bertahan dalam menggunakan suatu metode pengajaran dalam kesehariannya. Guru bahasa Inggris mempunyai tugas untuk menjawab  kondisi real di atas dalam usaha menjadikan bahasa Inggris sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk menghadapi percaturan global yang semakin keras ini. Oleh karena itu guru bahasa Inggris sangatlah diharapkan menemukan suatu pendekatan yang membuat para siswa menyenangi pengajaran bahasa Inggris, sehingga dengan demikian para siswa mau belajar dengan hati yang senang, gembira dan sungguh-sungguh dan kemudian mampu menggunakannya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Untuk membuat situasi ini terjadi, kreatifitas guru dalam menciptakan iklim belajar yang menyenangkan sangatlah diharapkan. Situasi pembelajaran bahasa Inggris yang harus ada  seperti misalnya, teknik menyapa siswa di saat memulai pelajaran, bagaimana memulai pelajaran. Guru bahasa Inggris hendaknya tidak langsung masuk pada materi pelajaran yang akan diajarkan pada hari itu. Mulailah dengan menciptakan suat kondisi yang membuat siswa bisa tersenyum atau malah tertawa sebelum memulai pelajaran. Untk membuat mereka tertwa, guru haruslah berkreasi dengan menampilkan apa saja yang langsung bersentuhan dengan hati para siswa. Misalnya, membuat kuis yang segar, atau bercerita tentang suatu kehidupan yang dirasakan langsung oleh para siswa, dsb.  Guru harus juga berusaha mendekati siswa secara pribadi untuk memberikan motivasi dengan pertanyaan – pertanyaan tentang bagaimana belajar bahasa Inggris. Kedekatan emosional dengan para siswa itu sangatlah penting dan patut  selalu dijaga agar siswa merasakan kehadiran guru memang sangat dibutuhkan. Di sinilah guru harus memiliki kepekaan positif bagaimana mengelola kelas di saat siswa tengah belajar dan mengalami kesulitan dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Jangan biarkan para siswa berjuangan memecahkan kesulitannya tanpa ada guru di sampingnya. Pada kondisi ini guru bahasa Inggris harus mampu memposisikan dirinya sebagai teman belajar yang siap membantu para siswa. Teman belajar, dimaksudkan bahwa, guru harus memposisikan dirinya untuk menjadi orang disenangi tapi tetap disegani, dan hindari perasaan ‘ditakuti’ oleh siswa dalam belajar. Pada posisi yang demikian dapat memungkinkan para siswa untuk selalu menantikan guru tersebut jika jam pelajaran itu tiba.

Untuk menjawab sekaligus memecah kebuntuan seperti yang dilukiskan di atas, maka penulis menyodorkan ada dua paradigma pengajaran bahasa Inggris yang harus diketahui oleh para guru bahasa Inggris. Paradigma pengajaran yang pertama adalah, yang menekankan gramatika bahasa, yang selanjutnya dikenal dengan learn English to use (belajar dulu barulah menggunakan). Pada paradigma ini, pengajaran bahasa Inggris selalu mengutamakan penguasaan pengetahuan tata bahasa Inggris sebanyak-banyaknya. Pola pendekatannya selalu menggunakan GTM (grammatical translation method) di mana porsi penekanan pengajaran tata bahasa sangat besar. Siswa diharapkan menghafal sebanyak-banyaknya semua aturan tata bahasa yang diberikan dengan tidak terlalu mempedulikan latihan penggunaan bahasa Inggris itu dalam praktek hidup sehari-hari. Hal iini pada akhirnya memunculkan kemampuan siswa dalam bahasa Inggris adalah penguasaan secara gramatikal, kemudian jika kembali ke masyarakat para siswa menjadi sulit sekali untuk mengimplementasikan kemampuan berbahasa Inggrisnya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Inilah yang kemudian mengakibatkan siswa kita memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang pasif. Jika selesai di suatu tingkatan pendidikan, bisa kita bayangkan mereka akan mengalami kesulitan yang luar biasa manakala menghadapi suatu situasi kompetitif yang menghendaki kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Mereka praktis tersingkir untuk mendapatkan peluang yang lebih baik dan menunggu jika ada peluang lain yang lebih rendah yang tidak terlalu menuntut penguasaan kemampuan berbahasa Inggris. Inilah kondisi riil yang harus kita sikapi dengan bijaksana, karena kita semua bertugas  untuk membawa anak-anak bangsa kita untuk tidak menemukan situasi hidup yang seperti diungkapkan di atas.

Paradigma kedua adalah Use English to learn (Gunakan dulu barulah belajar). Pada paradigma pengajaran bahasa Inggris ini, pola pendekatannya adalah Communicative Approach, di mana guru bahasa Inggris berupaya sekuat tenaga untuk menggiring para siswa mengutamakan latihan berbicara. Diawali dengan greeting  pada saat memasuki kelas, guru terus berusaha  berinteraksi dengan para siswa dalam bahasa Inggris. Para siswa diharapkan dapat didorong untuk berbicara bahasa Inggris di saat bertanya kepada guru atau menjawab pertanyaan ataupun dalam menyampaikan pendapat. Guru harus mau ‘membiarkan’ para siswanya membuat kesalahan gramatikalnya dalam berbicara bahasa Inggris, dan tidak selalu dikoreksi setiap kesalahan yang terjadi. Pada posisi ini guru diharapkan membuat catatan tentang kesalahan apa saja yang terjadi pada saat siswa berbicara. Setelah selesai proses pembelajaran, pada bagian penutup barulah guru memberikan umpan balik (feedback) terhadap apa saja yang ada dalam catatan guru tersebut. Guru menjelaskan semua kesalahan siswa, baik dari segi grammar, intonasi, pengucapan, diksi dan atau ungakapan-ungkapan yang digunakan. Di sinilah penekanan pembelajaran tentang grammar terjadi. Grammar hanya dipelajari setelah siswa selesai belajar menggunakan bahasa Inggris dalam situasi pergaulan sehari-hari baik di situasi resmi atau tidak resmi sesuai dengan topik yang diajarkan pada saat itu. Sehingga dalam paradigma pengajaran ini, porsi latihan penggunaan bahasa Inggris jauh lebih besar dari pada pengajaran tentang tata bahasa (grammar).

Dari uraian diatas dapatlah dikatakan bahwa bukan berarti pengajaran tata bahasa itu tidak penting. Dalam mempelajari bahasa apa saja, tata bahasa (grammar) sangat penting untuk diketahui. Karena Sophie Loannou, mengungkapkan bahwa, “The ultimate goal of teaching grammar is not for children to learn forms and abstract rules but also to be able to convey their intended meaning effectively.” Bagaimana mungkin kita bisa mengerti seseorang dan dimengerti oleh orang lain apabila kita berbicara dengan tata bahasa yang kacau dan tidak teratur. Sehingga lebih lanjut, Sophie mengatakan bahwa, “Although communication is the primary goal, no one can communicate effectively and appropriately if their use of language is inaccurate.” Lewat tata bahasa yang baik dan benar pasti akan membawa kita kepada suatu interaksi  sosial yang lancar, saling mengerti dan memahami, dan akhirnya menjadi cerminan kepribadian kita sendiri dalam berbahasa (language always mirrors the personality of the users). Oleh karena itu, bagaimanapun, tata bahasa sangat penting untuk dipelajari. Namun haruslah disadari bahwa, bahasa itu harus diucapkan dan bukanlah dituliskan semata (language is spoken not writing). Inilah bedanya antara seorang yang berqualifikasi bahasa dengan orang yang berqualifikasi disiplin ilmu lainnya. Seorang yang berqualifikasi bahasa akan diketahui kompetensinya lewat sejauh mana ia mampu berbicara dengan baik dan benar dari bahasa yang menjadi bidangnya itu, akan tetapi seorang dari disiplin ilmu lain akan ketahuan kompetensinya setelah yang bersangkutan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan bidang keahliannya.

Paradigma use English to learn seperti digambarkan di atas merupakan paradigma baru pengajaran bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh para guru bahasa Inggris sebelum  mempersiapkan diri untuk tampil di depan kelas. Bahwa mengajar bahasa Inggris berarti kita mengajar orang lain (siswa) untuk bisa menggunakan bahasa Inggris itu dalam kesehariannya. Oleh karena itu kelas bahasa Inggris haruslah diupayakan menjadi suatu kelas di mana situasi komunikatif sungguh mewarnai  proses yang ada dalam kelas itu. Ada kesempatan siswa berbicara, ada kesempatan siswa berargumentasi dengan bebas namun terarah dan ada kesempatan siswa di bawah bimbingan guru bernyanyi atau memainkan kegiatan lain yang pada prinsipnya membawa para siswa untuk terus berlatih berbicara bahasa Inggris. Dengan demikian kelas bahasa Inggris diharapkan menjadi kelas yang lebih ‘hidup’ dibandingkan kelas yang lain. Jika kita sudah sampai pada titik itu, maka kebuntuan yang kita hadapi selama ini di mana siswa hanya bisa menghafal konsep-konsep kebahasaan  tanpa bisa menggunakannya secara aktif di masyarakat terpecahkan. Dan inilah ciri dari model pembelajaran yang dikembangkan di kursus-kursus bahasa Inggris. Kita bertanya, kenapa orang yang hanya mengikuti kursus bahasa Inggris selama tiga atau enam bulan akhirnya bisa berbicara bahasa Inggris, sedangakan di tingkat sekolah bahasa Inggris diajarkan selama bertahun-tahun namun tidak bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik. Jawaban  atas pertanyaan ini mungkin baik menjadi permenungan kita semua sehubungan dengan paradigma pengajaran bahasa Inggris yang kita anut seperti yang dijelaskan di atas.

Pasti kita semua sepakat, bahwa apabila anak didik kita pada gilirannya mampu meraih sukses di masyarakat karena memiliki kemampuan yang merupakan hasil jerih payah kita, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia. Jika demikian maka, kita juga harus sepakat bahwa mengajar itu seni (teaching is an art). Lewat pemahaman ini, kita sebagai guru bahasa Inggris harusnya belum puas apabila siswa kita belum mampu berbicara bahasa Inggris. Untuk sampai pada tingkat ini, kita, para guru bahasa Inggris selalu selalu mengusahakan agar kelas bahasa Inggris itu merupakan kelas yang penuh dengan warna warni kebahasaan di mana kita dan para siswa sibuk berlatih untuk membuat yang terbaik dalam penggunaan bahasa Inggris.

Dalam berekspresi kebahasaan, kita harus ‘membiarkan’ para siswa menyampaikan pendapat, pertanyaan ataupun jawabannya  yang variatif saat mereka berbicara bahasa Inggris, baik dari segi ungkapan bahasa Inggrisnya, pilihan katanya, ataupun terminologynya. Yang paling penting dilakukan oleh kita guru bahasa Inggris adalah berusaha sekuat tenaga agar tujuan kita membuat anak itu menguasai pengetahuan bahasa Inggris baik tertulis maupun lisan, tercapai dengan baik. Itulah yang menjadi kebahagiaan kita guru bahasa Inggris yang berhasil menjadikan pengajaran bahasa Inggris sebagai suatu seni dalam kehidupan karier kita.

PENUTUP

 1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa adalah sangat penting bagi kita untuk terus membuat suatu terobosan yang baru yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Inggris, agar para siswa kita akhirnya dapat menyenangi pengajaran bahasa Inggris sehingga pada saatnya mereka kembali ke masyarakat atau dunia kerja, mereka mampu bersaing dengan para pencari kerja dari manapun mereka berasal.

Paradigma baru yang ditampilkan dalam makalah ini penting sekali untuk dikembangkan di sekolah-sekolah kita, apalagi kita yang berkecimpung di sekolah kejuruan yang sudah menjadi kewajiban kita dalam  mempersiapkan para lulusan kita untuk bersaing dengan orang lain, bukan hanya dari segi kompetensi mereka masing-masing, tapi juga kemampuan berbahasa Inggris yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Dengan demikian, jika kita telah mengaplikasikan paradigma baru di atas dengan konsekuen, maka pasti akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap kualitas pengajaran bahasa Inggris. Dengan terus didorong untuk berbicara bahasa inggris, para siswa kita akhirnya terbiasa untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris jika suatu saat mereka diperhadapkan ke suatu situasi yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Karena hal ini sudah berhasil dibuktikan oleh lembaga-lembaga kursus Inggris

2. Saran – Saran

Dari kesimpulan di atas,  penulis menyampaikan beberapa saran, sbb :

1).  Bagi para guru bahasa Inggris hendaknya menjadikan paradigma baru di atas sebagai pendekatan yang harus dikembangkan pada waktu mengajar bahasa Inggris di kelas.

2).   Untuk dapat melaksanakan paradigma baru di atas, para guru bahasa Inggris  hendaknya terus meningkatkan kreatifitasnya untuk pada waktu mengajar sehingga kelasnya menjadi jauh lebih hidup dari biasanya.

3).   Bagi sekolah hendaknya memperhatikan dan mengapresiasi kreatifias guru dalam pengembangan paradigma baru ini, dalam bentuk dukungan terhadap apa saja yang dibutuhkan oleh para guru agar mereka tetap bersemangat.

Daftar Rujukan

 Georgo, Sophie loannou & Pavlos Paclou, 2013. Assessing Oung Learners,  Resource  Book for Teachers, series editor, Ala Maley. Oxford University Press, New York

http://elanulaela.blogspot.com/2011/03/ pengertian-paradigma.html.

*) Drs. Yoseph Payong Ado, M. Pd adalah guru senior bahasa Inggris pada SMK Negeri 1 Samarinda, Dosen Bahasa Inggris pada S T Kateketik Pastoral Katolik, Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda, Dosen Bahasa Inggris pada FaHutan Universitas Mulawarman Samarinda

Moodbreaker

Oleh : Angela Merici Christi ~ X-Akuntansi-1

idoncarePerkenalkan nama aku Angela. Aku Pelajar kelas X-Akuntansi-1 di Smkn 1 Samarinda. Di sekolah aku berteman dengan siapa saja tetapi yang biasa akrab ya dengan Mully, Midah, Lisa, Cici, dan Vivin itulah teman-temanku, mereka punya karakter masing masing dan begitu pun juga dengan aku. Kata teman-teman ku yang kucinta mereka mengatakan bahwa aku ini adalah moodbreaker begitu katanya, tapi aku sih santai aja kaya di pantai dan gak merasa ada yang aneh sedikit pun sama diri aku sendiri hehehe. Setiap hari ku jalani hidup ku dengan apa adanya, ya seperti biasa, menjadi diri ku sendiri. sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku menjadi teman yang menyebalkan bagi teman-temanku contohnya saja .

keadaan 1 / di pagi hari

Aku datang ke sekolah seperti biasa. Jam 04:00 karena daku adalah anak yang bangun pagi dan rajin membantu orang tua setiap pagi serta rajin menabung *gadeng, aku berangkat jam 07:10 ehh lima menit lagi masukan .

“pagi teman teman”, kataku

“hm”, jawab mereka serempak

“ga kangen aku kah kalian? Kitakan lama gak ketemu”, kataku (padahal kemaren masih sekolah hmm)

“ew”, jawab mully seadanya

“ga banget deh kangen sama loe” , ucap lisa dengan gaya mendramatisir keadaan

“hmm” jawab yang lain dengan malas (Midah , Vivin, Cici)

“hahaha” jawabku ketawa padahal gak ada yang lucu dan gatau apa yang kuketawakan

Kemudian aku duduk melewati kursi Midah, namun karena aku lewat tanpa permisi dengan tas yang besar yang penuh buku di dalamnya

“arghhh, bikin badmood deh” kata Midah dengan ekspresi muka yang pahit.

Btw, midah itu orangnya ga suka diganggu gugat dan sabar bingggowww menurutkuu haha

”hah?” ucapku langsung duduk tanpa merasa bersalah sedikitpun

“gapapa”, jawab midah kalo lagi badmood karena semula mood midah bagus namun, karena aku lewat yang tanpa permisi dan tak tahu malu akhirnya mood midah pun menjadi hancur berantakan dan berserakan seperti sampah dan susah untuk disatukan kembali seperti butiran debu yang terbang kesana kemari

 

keadaan 2 / waktu pelajaran sedang berlangsung namun gurunya tidak kunjung datang

Waktu itu Mully melihatkan suatu video yang baru dia download kepada mereka ber empat ( midah, vivin, lisa, cici)

“Video apa itu Mull ? ” Tanya ku dengan penasaran

“Tutorial Makeup 200k challenge, bagus lho njell makeup mereka, murah lagi” Kata Mully menjawab pertanyaan ku yang penasaran

“Murahnya ai biasakah, masa sih, gak percaya deh” kata ku

“Gayamu Njell, kaya bisa beli aja, biarpun murah tapi makeup nya bagus kan” ucap Lisa

“iya taulah bagus betul coba kita yang pakai aneh tu pasti”, kata mully lagi

“Udah ah nonton aja pang njell, ribut betul ni aku ga dengar na dia ngomong. ” kata Midah kesal

Awal nya kita melihat video biasa aja tapi aku tidak melihat dengan jelas, dan makin penasaran . aku duduk makin mundur mundur dan mundur dan akhir nya duduk nyempil dekat Midah  aku sih merasa biasa aja, dan tiba-tiba Mully ketawa aku pun bertanya kepada ku

“Kenapa Mull” seperti biasa aku si orang kepo bertanya hmm

“Gak papa njell” ucap Mully sambal ketawa

“Ais kenapa na is Mully ni kasih tau pang aku nanti penasaran sampe rumah” kataku penasaran

“Haha, kamu itu naa nda merasa betul duduk mundur-mundur , tiba-tiba nyempil dekat Midah mukanya Midah naa gak enak betul waktu kamu nyempil dekat dia” ucap Mully sambal ketawa terbahak-bahak

“Biasa aja perasaan ku” kata ku santai

“ihhhh kamu ituu” jawab Midah kesal

Dan aku pun mulai berpikir lagi sambal tersenyum-senyum dan tertawa sendiri

 

 

Keadaan 3 / istirahat

Pada saat istirahat berlangsung aku bercerita kepada Midah seperti biasa setiap detik menitpun berganti dan Midah yang sebenar nya gak mau mendengar cerita ku , hanya meng iyakan apa yang aku bilang, mungkin karna kasihan . dan tiba-tiba aku bercerita tentang hal yang menurutku lucu dan aku pun tertawa sendiri dan sambil memukul Midah .

“Ihh apasih Njell” ucap Midah kesal

“gak papa” kataku sambil lanjut ketawa

 

Keadaan 4 / Pulang Sekolah

Dan kemudian setelah istirahat berlangsung, tiba-tiba bunyi bell masukan, dan belajar berlangsung seperti biasa, hari ini belajar Simulasi Digital . Beberapa waktu berlalu hingga bell pulang pun berbunyi, jam 02:35 hari ini aku akan pulang bersama Vivin Teman ku . Di perjalanan aku duduk di motor sambil di gonceng Vivin, kemudian tanpa sadar aku duduk makin maju. Dan Vivin Berkata

“Mundur dikit njell” Kata Vivin

“hahh” Jawabku nda tahu apa-apa

Dan kemudian Vivin menjawab lagi

“gak papa dah njell” (hanya itu yang ku dengar pada saat di motor)

Vivin mengantarkanku sampai di depan rumah

 

Keadaan 5 / Dirumah

Sesampai dirumah

“Thanks vin, hati-hati” kata ku

“Iya sama-sama” Jawab Vivin

Kemudian aku masuk ke dalam rumah, mengganti baju sekolah ku, dan langsung makan , mama sudah menyiapkan makanan yaitu nasi goreng special buat anak nya tercinta yang baru pulang sekolah hehehe dan juga buat adek ku nanti ,dan memesan kepada ku untuk sisain nasi goreng yang ada di dalam tudung , mama ku juga akan pergi ke tempat tetangga sebentar dan aku mengiyakan apa yang mama ku katakan. Akan tetapi tanpa sadar ku makan nasi goreng itu hingga habis tak tersisa .

“Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan, apa mungkin aku masak nasi goreng lagi atau beli aja di warung, bagaimana kalo rasanya tidak sama seperti nasi goreng buatan mama ku, bagaimana kalau mama ku marah” tanyaku dalam hati

Aku sangat takut karena mama ku adalah orang yang cerewet, detik demi detik berganti menit yang berlalu tanpa sadar dan tiba-tiba mama ku datang , aku belum sempat membeli atau pun memebuat nasi goreng itu.

“Bagus ,habiskan aja nasi goreng tu adek mu nanti makan apa , cepat bikin lagi nasi goreng tu” ucap mama ku kesal

“Iya ma” aku cuma bisa jawab itu karena memang aku tahu aku yang salah dan melawan orang tua itu gak baik , hmm khand maendt

Selesai memasak aku pun langsung tidur , dan bangun sekitar jam lima lewat, habis bangun aku bersih-bersih dan habis itu aku langsung mandi dan langsung belajar.

Begitulah aktivitasku sehari-hari yang “katanya” aku menjadi moodbreaker bagi teman temanku yang kucinta dan kusayangi selalu selamanya dan takkan terlupakan dan terpisahkan walaupun badai menerjang (dramatis bangetdeh) .

KONI CUP

Oleh: Maulida Misbah – XAK1-smkn1samarinda2016

Pagi ini aku sangat semangat sekali karena hari ini perlombaan dance “KONI CUP” akan dimulai. Jam 06.00 aku terbangun dari tidurku dan segera mandi.

“Tika mau kemana? Tumben bangun pagi?”,  terdengar suara mama.

“Tika mau kerumah Ka Opi ni ma, mau lomba”,  jawabku.

“Lomba apa sih? Dapet duit ga ntar?,  ucap mamaku.

“Dapet ay kalo menang ma”, jawabku kembali sambil menggerutu.

Setelah selesai mandi bergegeas aku berangkat  bersama pacarku tersayang Muhammad Abdur Reza. Sebelum kerumah Ka Opi kita mampir dulu ke YK Cosmetic untuk membeli bulu mata untuk aku pakai nanti. Lalu kami mampir lagi ke salah satu toko ATK yang berada dijalan Dr.Soetomo yaitu Sidodadi. Aku pergi kesana untuk pergi membeli sarung tangan dan gunting. Sesampainya disana tidak ada penjaga dilantai dua bagian penjual sarung tangan. Aku bingung harus mencari kemana. Jadi, aku memutuskan untuk berdiam diri sambil menunggu dan tiba-tiba…..

“Dooooorrrrrrrrrrrrrr….”, mbak karyawan toko teriak mengagetkanku.

“Astagafirullah mba yaampun kagetnya aku Yaallah gila heh”, teriakku.

“Hahahhahaha”, tawa mba karyawan yang tertawa sangat lepas.

“Cari apa adik?”,  tanya mbaknya lagi.

“Anu apa itu apa sih aduhh apa ya namanya lupa”,  jawabku sambil memikirkan apa yang sebenarnya ku cari.

“Pasti sarung tangankan?”, tebak mbak karyawan.

“Haaaa kok mbanya tau ya?”, heranku sambil menggaruk kepala.

“Yai yalah inikan tempat bagian sarung tangan, kalau bukan mencari itu lantas untuk apa kau kemari? Hahahaha”, jawabnya dengan logat Maduranya.

“Hmm yaya bodohnya diriku”, gumamku.

Sehabis mendapatkan sarung tangan aku langsung cuss kerumah Ka Opi. Oiya by the way aku belum ceritain ya Ka Opi itu siapa?, hahaha, jadi gini Ka Opi itu pelatih dance aku. Nama aslinya itu Deny Saputra, dia terkenal banget dikalangan teratas. Dia selain pelatih dance juga Make up artist and hair stylish pokoknya jago banget deh dalam segala hal. Aku bangga banget bisa bergabung dimanagement DS Entertaiment. DIVA DANCE itu nama dance aku. Kami udah dapet banyak berbagai penghargaan diberbagai lomba. Mulai tingkat SMA sampai UMUM, luar biasa bukan?, yap ini berkat kekompakan dan semangat kami semua untuk membuat Ka Opi bangga. Oke cukup dikit aja yah penjelasannya kita lanjut lagi deh kecerita tadi.

Sesampainya di rumah Ka Opi….

“Ca, beliin dulu Ka Opi makan sono ni duitnya kalo Caca sama Eja belum makan juga beli aja ya sekalian”, suruh Ka Opi.

“Maulah akuu…”, olokku.

“Cepati na uuuhhh ku lempar kamu”, marah Ka Opi.

“Haahahahahha iya iya ka canda zzaaaaa”, jawabku.

Setelah kami semua sarapan………….

“Mana sih yang lain ni ya gini ga pernah on time udah tau kakak ni mau berangkat jadi kakak pingin nasehatin kalian dulu karena besok kalian bakal berjuang sendiri”, omel Ka Opi.

“Oiya besok Ka Opi berangkat ya ke Jakarta?. Sedihnya heeeeeeee gausa gin ka masa kita harus makeup sendiri sih”, jawabku sedih.

“Umaa ay kaya apa aja kalian ni biasa juga berjuang sendirikan? Bisakan?”, ucap Ka Opi

“Yaya namanya juga Diva jagoan, gitu lhoh”, jawabku.

Tak lama kemudian anggota yang lain mulai berdatangan satu persatu. Setelah itu kami latihan lagi karena sebenarnya baru seminggu kita kita belajar Cheerleader. Yahhhh you know lah basic kami “DIVA” ini adalah sexy dance bukan cheerleader. Pada saat latihan pun banyak korbannya hahaha kalo inget tu lucu banget deh. Bayangin aja deh karena Ka Opi tau aku ni kuat dan biasa dia sebut kuli jadi disuruh ngangkat terus sampe akhirnya kejadian deh kepala ku ketendang sampe aku jatoh wkwk dan lucunya itu lagi divideo. Bayangin aja ekspresiku yang sampai menangis itu diulang berkali-kali huuhhhh……

Dan tiba waktunya kita harus berangkat ke GOR Segiri tempat kami bertanding. Dengan sederhana saja kita menggunakan motor, dan untungnya ga jauh dari rumah Ka Opi yang berada dijalan Merak.

Sesampainya disana kami sangat merasa percaya diri dengan kostum berwarna biru gelap dan pita besar dikepala berpoleskan warna silver and gold serta pompom cheer tentunya yang sangat menyatu dengan kostum kami. Dengan anggota bersepuluh kami sangat semangat dan segera gladi resik dibelakang gedung, semuanya berjalan lancar .

Jengjeng…. Tiba saatnya untuk tampil. Dengan yel-yel kompak kami “MY MY MY DIVA” kami segera berdiri tegak ditengah lapang dengan semangat yang membara. Wweehhh kaya api aja yah hahahaha. Sayangnya saat tampil pyramid kami sempat jatuh namun kami terus mencoba lagi sampai berhasil dan performance kami usai.

Aku sangat sedih karena dihari terakhir kami ditemani Ka Opi kami belum bisa membuat Ka Opi bangga, dan mulai detik itu aku berjanji pada diri sendiri untuk lebih semangat lagi berlatih.


Keesokkan harinya..

“Aduh mana nih pita ku? Gimana na teman pita ku hilang”, grusu Dira.

“Astaga heh ga tau dah aku”, jawab yang lain.

“Satu ga pake semua engga”, ucapku.

Mereka pun terdiam hening sambil memikirkan apa pengganti hiasan kepala kami. Yang kami takuti hanyalah Ka Opi, biarpun ia jauh kami tau kalo Ka Opi selalu tau apapun yang terjadi sama kita.

Akhirnya kami memutuskan untuk menyobek kain bling bling Ka Opi yang ada dilemarinya. Kami ikat dengan kuat dililitan rambut kami yang sudah kami ikat satu tinggi. Waduuuh hari ini kita tampil ala anime gitu comel hahaha dengan usaha kami yang make up sendiri yah lumayan baguslah walaupun sedikit ga rapi but kami senang dan yakin kali ini kami bisa membuat Ka Opi bangga. So kami siap untuk bertanding Final hari ini.


Ternyata kami berhasil.

“YEYYYYYYYYY, soraka kami kegirangan.

Tinggal nunggu pengumuman deg-degannya aja nih haduh takut banget. Sambil menunggu pengumuman kami balik kerumah Ka Opi sambil makan dan santai-santai. Dan hasil pengumuman keluar. Yah kami sedikit sedih lah tapi seneng juga sih. Dapet Juara Harapan 1, agak jauh ya tapi yah lumayan lah tetap dapet uangnya dan kami langsung foto bersama dan mengirimnya kepada Ka Opi melalui WA. Ka Opi sih katanya bangga tapi Cuma sedikit hahahaha yah gapapalah ini pelajaran untuk kami agar lebih semangat lagi berlatih dan ga sombong atas apa yang kami dapat kemaren-kemaren.

Sipppp segini aja nih ceritaku cape banget deh ngetiknya tapi belum seribu kata, wkwkwk ngetik apa lagi yah bingung. Oiya harapan aja deh semoga aja Diva terus kompak, anggota yang lain bisa lebih on time, semoga juga Ka Opi terus bangga sama kami. Dan inget ya siapapun yang membaca ini, DIVA itu the best bukan dance ecek-ecek bukan cewe-cewe negative yang cuma memamerkan aurat tapi kami adalah DANCER PROFESIONAL.

Tampilan DIVA