Pak Guru dan Hantu Kuyang

Oleh : Yn. Valah

hantu kuyangJam 1.30 malam saya pulang dari lembur kerja di sekolah, maklum saya tidak punya komputer sendiri di rumah padahal banyak pekerjan pengetikan yang sedang saya kerjakan. Sebagai guru obyekan saya selain mengajar adalah menjual jasa pengetikan skripsi untuk mahasiswa dan guru-guru yang sedang mengikuti program PGSM. Saya terpaksa mengetik di sekolah, entahlah apa pekerjaan saya ini termasuk korupsi dengan menggunakan fasilitas sekolah untuk keperluan pribadi.

Di perjalanan masuk ke perumahan Sempaja Lestari Indah harus melewati jalan yang masih sepi sekitar dua kilometer. Malam ini kebetulan hujan dan dingin sekali, saya berdebar-debar kalau mulai masuk ke perumahan melalui jalan sepi karena belum dibuat perumahan lagi. Bagaimana tidak, jalan keperumahan masih gelap, ada listrtik tapi lampunya banyak yang mati. Kejadian-kejadian penodongan, dan cerita yang seram-seram sering saya dengar dari orang-orang yang pernah mengalaminya. Vespa Sprint tahun 1976 saya geber dengan kencangnya, mulut saya bersuara keras menyanyi dan ngomong sendiri untuk memukul kesepian dan ketakutan.

Masuk ke jalan yang gelap ini hujan malah turun deras, dan jalanan banjir, disamping itu jalannya berlubang-lubang. Saya semakin ngeri dan ketakutan, mulai dari tadi bulu kuduk berdiri terus. Ini pertanda ada setan sedang gentayangan. Betul juga, di depan saya ada sekitar 20 anjing sedang berlari-lari dengan gonggongan yang aneh. Aauungggg, Aungggg ….. . anjing-anjing itu menghalangi jalan saya, saya amat takut dan lemas kaki saya. Gemeretak gigi saya, badan menggigil, mau berdo’a sudah terlambat kenapa tidak dari tadi. Mulut terasa sulit dibuka, cuma bisa Au, Au doang.

Sorot lampu kebetulan mengarah ke anjing hitam dan besar-besar itu. Entah dari mana ada anjing yang besarnya sebesar anak sapi, anjing hitam-hitam itu matanya menyala, membara, taringnya moncong seperti taring babi. Dia melototi saya, menggeram dan bergonggong melingkari saya. Tapi untungnya salah satu diantaranya, mungkin pemimpinnya kemudian lari dan teman-teman yang lain mengikuti dia. Anjing itu berlarian ke semak-semak ketika ada sebuah cahaya yang menyorot lewat begitu saja. Saya tidak begitu jelas. Tapi yang jelas anjing itu sedang mengejar cahaya.

Lega hati saya kemudian saya geber kendaraan saya lagi. Tapi tiba-tiba mesin mati.

“Dasar Vespa tua bikin susah saja”, gerutu saya. Lalu saya starter lagi, starter lagi.

“Sialan, mati lagi, padahal tadi sore ganti busi”, umpat saya. Terpaksa saya pinggirkan Vespa geblek itu lalu membuka tutup mesinnya.

Belum sempat mengambil kunci busi, tiba-tiba di depan ada suara dan kelebat perkelahian. Masya Allah itu adalah perkelahian setan dengan manusia, dalam keremangan malam dan ketika petir menyambar serta kilatan halilintar. Didepan saya jelas ada sosok makhluk yang aneh, saya tidak percaya tapi terpaksa melihatnya walaupun jelas sangat ketakutan. Gemetaran kaki dan lutut saya, tanpa sengaja air kencing saya keluar. Ini menandakan bahwa saya amat ketakutan.

Bagaimana tidak dua makhluk itu berkelahi. Yang satu cuma kepala, leher tanpa badan. Yang satu orang biasa. Orang biasa, seumuran saya. Oh, saya ingat sekarang, yang satunya adalah Pak Thalib yang biasa mengangkut sampah-sampah warga perumahan kami ke TPK. Mereka berkelahi sambil bertertiak-teriak :

“Pergi kadak ikam dari sini “, teriak pak Thalib
“Kadak, ulun lawas di sini. Rumah ulun di sini”, hantu itu berkilah
Karena hantu kepala dengan bagian dalam tubuhnya yaitu jantung, hati, dan usus yanng terburai-burai itu ngotot tidak mau pergi. Pak Thalib menyerang dengan kerisnya, kerisnya mengeluarkan cahaya dan membabat ke tubuhnya.

Hantu itu melayang-layang dengan lincahnya. Pak Thalib juga melayang ke udara memburu hantu itu. Wess. wesss .. kena rambutnya. Cuma rambunya!
“Ikam bandel yah, sekali lagi ikam pergi kadak”, teriak pak Thalib
“Kadak, Pak ai, ulun kadak handak pergi”, jawab hantu dengan sorot matanya merah membara
‘Ulun sudah ratusan tahun, tinggal di sini. Sejak di sini masih hutan”, jawab hantu itu sambil menyeringai dan menyerang Pak Thalib.
Sekarang aku tahu, hantu itu seorang wanita, mulutnya ada taringnya dan meneteskan tetesan merah. Apa itu mungkin darah?. Saya tidak ingat itu hantu jenis apa, tapi hantu seperti itu pernah saya lihat di Pulau Bali melayang-layang di atas rumah, waktu itu saya masih menjadi mahasiswa dan menggelandang di Bali. Saya juga ingat pernah melihat hantu itu di Thailand, di pantai Pattaya ketika saya dengan teman-teman melakukan studi pendidikan ke sana setahun yang lalu. Hantunya sama dan kenapa saya melihat hantu kepala, gigi bertaring dan meneteskan darah serta rambut panjang berurai-urai dan hanya dengan bagian dalam tubuhnya. Kemana badan, tangan dan kakinya.

Perkelahian antara pak Thalib, terus berlanjut. Kelihatan Pak Thalib terdesak, dia kena sodokan jidatnya hantu yang keras, dan melayang jatuh tepat di depan saya. Hantu itu menyeringai penuh kemenangan. Matanya, matanya memelototi saya dan sekarang hendak menyerang saya. Saya jatuh terduduk, lemas otot saya.
“Am….pun, buk ai”, itu saja yang sekarang bisa saya ucapkan setealah lama mulut tergembok
“Pak Thalib, pak “, kataku
“Oh, pak Guru Valah, baru pulang ya Pak”, jawab pak Thalib tenang
“Pak, tolong hantu itu mau makan saya!”
“Tidak pak Guru Valah. Hantu itu tidak makan orang kok. Begini saja sebaiknya Pak Guru pulang, ini sudah jam tiga malam lho Pak. Besok bapak kan mengajar”

Tanpa ngomong lagi saya pasang tutup mesin Vespa, saya starter Vespa.

“Lho kok hidup lagi, kenapa tidak dari tadi”, gerutu saya. Dengan tanpa peduli dengan keadaan pak Thalib saya tancap gas pulang ke rumah.

Sampai di rumah saya gedor-gedor pintu, karena saking takutnya. Badan basah kuyup, saya gemetaran. Istri saya cemas sekali :
“Ada apa Pak, ada apa?”
“Aku, aku, aku …
“Makanya sudah dibilang tidak usah mengerjakan pekerjaan itu lagi. Sudah lembur sampi larut malam, hujan-hujanan segala coba hasilnya apa?”, Istri saya malah ngedumel.
“Sialan”, gerutu saya, istri saya ini rupanya tidak paham-paham juga, bahwa gaji dan penghasilan guru cukup hanya untuk hidup setengah bulan. Sedang untuk biaya hidup lima belas hari kemudian dari mana?. Dia ini betul-betul menyebalkan. Sudah tahu suaminya ketakutan masih sempat ngedumel.
“Aku tahu, gaji bapak kurang. Tapi kalau begini, bapak kedinginan, bapak gemetaran ini kan kasihan, aduh cepat ganti baju nanti masuk angin. Hasilnya tidak seberapa, tapi Bapak yang sakit. Aku juga yang di rumah jadi ketakutan”.
“Takut, apa?
“Takut Bapak sakit, lalu meninggal. Nanti kan aku jadi janda ”
“Hus ngaco kamu”

Malam ini saya tidak bisa tidur, badan saya masih gemetaran dan ketakutan. Saya coba pura-pura tidur nyenyak disamping istri. Untung istri saya tidak tahu kalau gemetaran karena ketakutan, dia mengira saya kedinginan karena kehujanan. Saya tidak akan cerita pada dia, nanti dia ketakutan dan saya tidak boleh lagi nglembur. Semalaman saya kepikiran kejadian ketemu hantu itu, seringainya, tawanya, suaranya, wajahnya, seperti saya pernah melihat. Aneh, saya kenal wajah dan suara hantu wanita itu. Itu seperti suaranya ….

***

Pagi setelah mengantarkan anak-anak sekolah, saya sengaja mbolos mengajar. Mata saya masih ngantuk, saya baru bisa pejamkan mata setelah sholat subuh. Biarlah saya mampir ke rumahnya Pak Thalib, ingin mengetahui keadaanya, sebenarnya saya menyesal meninggalkan dia sendirian tadi malam, tapi mau apalagi.
“Assalamu’alikum, Pak Thalib”, sapa saya.
“Waalikum salam”, terdengar jawaban dari dalam rumah.
Kemudian Pak Thalib keluar rumah untuk menyongsong saya
“Oh, pak guru Valah. Tumben mampir ke sini Pak, ada apa ?. Jawab pak Thalib.
Kelihatan pak Thalib masih segar bugar dan tidak lelah. Dia memang seorang pekerja keras dengan mengangkut sampah ke TPK. Saya benar-benar baru tahu kalau dia bisa berkelahi dengan hantu, semakin penasaran saya untuk mengetahui kejadian tadi malam.
“Pak Thalib kok kelihatan tidak ngantuk dan lelah sehabis tadi malam pak?”
“Oh itu, Pak guru. Saya yakin pasti pak guru ke sini mau membahas soal itu. Kalau begitu masuk ke rumah pak sambil minum kopi. Mak buatkan kopi dua dan sarapan sanggar itu bawa ke mari “.
Istri pak Thalib membuatkan kami kopi dan sarapan sanggar yang masih hangat, dari kebun Pak Thalib sendiri.
“Jadi begini pak guru, jika pak guru melihat saya masih segar bugar sebenarnya tidak juga. Badan saya pegal semua pak. Tapi sebenarnya yang bapak lihat tadi malam itu bukan badan saya Pak”
“Bukan, badan bapak?”, saya terkejut.
“Ya, itu adalah roh saya. Roh saya sedang keluar dari badan. Itu seperti keris keluar dari warangkanya. Jadi roh saya sedang berkelahi dengan hantu, dan hantu itu juga roh. Jadi roh melawan roh”
“Oh, jadi itulah sebabnya bapak bisa melayang, layang ”
“Ya betul, sebab roh itu sangat ringan dan seperti kapas. Pasti sebagai orang terdidik, pak guru tidak paham apa yang saya katakan?”
“Ehh, bagaimana yah. Tapi setelah melihat kejadian tadi malam, saya percaya kok Pak.
“Baiklah pak guru, hantu itu sangat sakti dan saya belum bisa menaklukannya. Semakin banyak darah bayi yang dihisap, semakin sakti dia, semakin susah matinya. Nanti malam dia akan mencoba menghisap bayi, di blok C.
“Apa Pak, blok C, itu kan blok saya”
“Ada yang hamil Pak guru?”
“Ada, itu… itu istri saya sendiri, tapi istri saya belum melahirkan”
“Setiap malam hantu itu mengendap-endap di atas atap rumah orang yang lagi hamil pak. Berarti rumah Bapak juga sedang diawasi oleh hantu ini”, jelas pak Thalib
“Eh, waduh mati saya. Anakku … celaka tigabelas”, saya mulai khawatir dan mendongkol dengan ulah hantu itu.
“Begini saja pak guru, kita berdua yang akan menghadapi hantu itu. Pak guru ini kelihatannya mempunyai kelebihan lho!”
“Kelebihan, apak pak?”
“Ya, orang yang bisa melihat hantu, melihat roh. berarti orang itu mempunyai indera keenam.
“Ah, masak sih pak Thalib”.

***

Mungkin betul yang diucapkan pak Thalib, saya punya indera keenam. Buktinya saya bisa melihat anjing-anjing sebesar anak sapi, saya bisa melihat hantu yang kata Pak Thalib hantu seperti Leak dari pulau Bali, yakni berupa kepala manusia dengan organ-organ yang masih menggantung di kepala tersebut. Hantu ini dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah bayi yang masih di kandungan. Saya bisa melihat Pak Thalib bukan dalam badan wadagnya tapi dalam bentuk roh. Saya sekarang tahu siapa hantu itu sebenarnya, ya saya tahu, tapi bagaimana cara memusnahkannya baik dalam bentuk manusia maupun bentuk hantu. Kalau jadi manusia nanti saya bisa dikatakan sebagai pembunuh, kalau berbentuk hantu pak Thalib saja kewalahan melawan dia apalagi saya.

Saya tidak mau kehilangan anak saya. Malam itu istri saya bawa ke rumah sakit, dia mengeluh perutnya mulas, saya suruh baca Al Quran terus. Saya tidak mau diberi bulu landak oleh pak Thalib, karena tidak yakin bulu landak dapat mengusir roh jahat. Mungkin hantunya tidak tahu kalau istri saya di rumah sakit, hampir jam empat pagi belum kelihatan tanda bayi kami mau lahir. Akhirnya saya ijin pulang sebentar pada istri setelah bidan memastikan istri saya belum ada tanda-tanda melahirkan, selain itu untuk memastikan apa hantu itu memang mau datang ke rumah.

Seperti biasanya ketika jam 4.00 pagi itu saya pulang lewat jalan yang gelap itu, hantu itu sedang asik berkelahi lagi dengan Pak Thalib. Karena waktu keburu subuh dimana hantu itu mau pulang ke sarangnya maka saya segera tinggalkan perkelahian itu. Saya menyelinap ke salah satu rumah terkaya di perumahan saya itu yang rumahnya dipojokan. Saya masuk dengan mudah ke rumah itu karena hanya di huni oleh satu orang wanita, seorang janda. Saya masuk ke rumah begitu saja karena saya yakin penghuninya tidak ada di rumah. Kebetulan rumah tidak terkunci. Saya mengendap-endap ke dalam rumah, sungguh perasaan saya seperti seorang pencuri.

Di kamar ada sosok tubuh yang sedang tidur, mengerikan, tanpa kepala, tapi saya beranikan untuk melongoknya, betul juga tubuh itu tanpa kepala. Saya longok sekali lagi bagian leher, ada lobangnya. Bolong. Seperti kata Pak Thalib, janda inilah yang jadi hantu. Kalau siang jadi manusia biasa kalau malam jadi hantu, dia sedang menjalani ilmu hitam asli dari pedalaman Kalimantan. Seperti kata pak Thalib badan tanpa kepala dan bagian dalam tubuh itu saya balikkan tengkurap. Subuh hampir tiba, kelihatan kepala terbang itu sedang pulang, saya segera keluar rumah dengan panik dan berteriak-teriak :
“Ada hantu Kuyang, ada hantu kuyang …. hantu kuyang!”
Spontan seluruh warga terbangun dan berlarian mencari suara teriakan saya. Mereka membawa apa saja untuk memukul dan menggebuki hantu, padahal hantu kan bukan maling mengapa harus digebuki.
“Pak guru, mana hantunya?”, teriak pak Edi salah seorang warga kami
“Itu di dalam rumah! ”
“Ah yang benar?”
“Ayolah kita bangunkan, Ibu ….”
Akhirnya kami ramai-ramai sepakat untuk mengecek keadaan rumah janda tersebut, maksud saya untuk memastikan kepada mereka siapa sebenarnya hantu itu, dan apa tindakan yang tepat menurut hukum. Kita gedor-gedor pintu nyonya janda itu dengan paksa.
“Ada, apa?, ada apa?”, dari dalam rumah terdengar jawaban.
‘Buka pintunya, bu. Kami mau masuk?”, kata Pak RT
“Tidak bisa pak. Kadak ada lelaki di sini pak ai, kadak boleh ?”
“Pokoknya buka dulu, kita akan bicara ….
“Buka ….!!!, teriak semua warga
Dengan tanpa sabar kami dobrak pintu itu bersama-sama. Ya ampun nyonya janda itu ketakutan, malu kepada kami sambil jalan mundur dengan langkah gontai untuk menjauhi kami, maksudnya dia bukan mundur tapi maju soalnya tadi badannya saya tengkurapkan jadi dia mengembalikan kepalanya sekenanya, terbalik deh. Badan dan kepalanya berlawanan arah, badan menghadap ke muka kepala menghadap ke belakang. Kami semua tertawa terpingkal-pingkal melihat hal itu, saya sendiri sampai sakit perut.

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s