Balada Guru Simon

Oleh : Novi Riany
*) Novi Riany adalah mantan siswa SMK Negeri 1 Samarinda, saat ini telah menjadi wanita karir

guruSiang itu panas menyengat, debu beterbangan diterpa angin siang, semua isi kelas menggeliat kepanasan dan ceceran peluhnya kelihatan membasahi baju seragam sekolah. Di luar kelihatan lalu lalang kendaraan, aneh, perasaanku kendaraan hari ini lebih ramai dari biasanya, sehingga kebisingannya masuk ke jendela kelas. Aspal di jalan raya menggeliat kepanasan berkeringat mengkilat dan menguapkan badannya. Sungguh suatu hari yang panas hari ini. Kepalaku saja terasa berdenyut-denyut dan tenggorokanku terasa kering kerontang.
Hari ini jam pelajaran sungguh menyebalkan, sejak pagi mulai bel berbunyi kelas kosong tidak ada pelajaran tidak ada tugas. Mau pulang, pintu depan terkunci dan Satpam sekolah penunggu pintu itu, tetap sabar menunggu, membuat semua siswa tidak berani keluar dari sekolahan yang hanya punya satu pintu keluar. Menyebalkan, ngapain Pak Satpam itu berdiri di sana, apa tidak takut kering badanya tersiram sinar matahari yang lagi membara. Seharusnya pergi ke kafetaria disebelahnya sebelahnya kemudian duduk yang enak dan minum es sarang burung walet, ehm itu lebih nyaman.

Jam ke 5 sudah selesai dan jam ke 6-7 adalah jam Pak Simoni guru PPKn. Walaupun PPKn mata pelajaran yang hanya dipandang sebelah mata oleh siswa, namun gaya dan penampilan Pak Simoni dalam mengajar mampu membuat aku dan teman-teman menyukainya. Bahkan mengidolakan. Bagaimana tidak, Pak Simoni itu orangnya tampan seperti bintang sinetron Anjasmara. Disamping sebagai guru PPKn beliau juga pembina OSIS dimana aku sebagai sekretaris umum. Beliau cukup terampil dan mendorong siswa untuk berkreatif. Banyak program OSIS yang jalan mulai dari ekstrakurikuler musik, teater, tari gong, tingkilan, paskibraka, Englih club, Volly, Basket, PMR, Mading, buletin PROSPECT dan seambreg kegiatan lain.

Pak Simoni juga tidak datang rupanya hari ini, sudah setengah jam kelas menunggu beliau. Suasana kelas menjadi resah dan gelisah, gaduh. Siswa sudah mulai bosan karena kosong terus dari tadi pagi. Walaupun pada umumnya siswa paling senang kalau ada jam kosong, tapi kalau kosong terus bosan juga rupanya. Kegaduhan semakin riuh, tiba-tiba terjadi keributan di bagian belakang tempat duduk para pria.
“Ngomong apa kamu …. “, teriak Arifin
“Apa, memangnya kenapa?, ini hak privasi gue tahu!” bantah Asro tidak kalah sengitnya
“Ya tapi omonganmu itu menghina, menyakitkan ”
“Kalu lu merasa tersinggung memang mau apa?, kelahi… ayo… siapa takut?
“Sial, kamu nantang ya?”
“Brengsek, elu. Banci lu”

Semua kelas memandang kedua orang itu yang sedang berbantah-bantahan, namun tiba-tiba mereka berkelahi seru sekali. Entah siapa yang memulai memukul duluan kelihatannya mereka yang memang sudah lama menyimpan dendam mulai sepakat untuk saling menyakiti, dugaan saya adalah masalah wanita.
‘Heh, Apa kenapa aku juga dipukul ” Teriak Vinsen dengan amarah ketika pukulan Asro meleset dan mengenai Vinsen.
“Mau ikut-ikutan tidak terima, mau balas dendang eh dendam. Ayo pukul gue …”teriak Asro yang sudah kemasukan jin dari mana saya tidak tahu.
Rupanya Vinsen cepat tanggap, dia langsung melompat dan menendang dengan tendangan pisang, Jiaat … Desss. Sayang kali ini meleset dan justru kena Anda Supandas, karuan Anda Supandas jadi panas, dan naik pitam. Brag, blug, blog, kres, gabruk …. perkelahian menjadi bertambah seru, tiba-tiba sepuluh lelaki di kelasku berkelahi semua. Mereka membela yang mana aku tidak tahu. Gadis-gadis yang lain berteriak-teriak “jangan-jangan”. Kali ini kursi-kursi berhamburan, berderak-derak. Apa yang ada disekitar mereka kalau bisa untuk memukul mereka gunakan. Kapur, buku, penggaris. Betul-betul hancur-hancur kelasku ini.
“He berhenti ! ” Aku baru ingat kalau aku ketua kelas di sini dan baru sadar kalau aku terlambat melerai perkelahian ini.
“he berhenti, semua apa-apan kalian ini ”
“Ahh cewek jangan ikut campur, ini pekerjaan laki-laki, tahu Ciaat… “teriakan Gogon yang mempunyai ilmu beladiri dari Jepang ini sambil menempeleng jidat Adi. Karuhan saja jidat Adi bercucuran darah, kena pukulan Cukiukik Gogon yang dijarinya ada cincin akik yang besar dan menonjol.
“berhenti, jangan?” Teriak cewek-cewek.
“Berhenti” Teriakku dengan putus asa karena sebagai pemimpin kelas ternyata tidak menyangka akan memperoleh persoalan berat seperti ini.
“Jangan ….. Ahhhh”, sebuah teriakan petir menggelora dari siapa aku belum begitu pasti.
“Novi, Intan pingsan Nov”, Teriak Astrid
“Apa?
“Intan, Intan pingsan”
Rupanya bersamaan dengan itu datang para guru ke kelasku, dan kelas-kelas lain pada keluar untuk menonton kegaduhan.
“He, berhenti. Diam semua” Teriak Pak Mono guru Penjas
“Berhenti semua!, He Novi ada apa kelasmu ini ” Teriak pak Daliansyah sang Wakasek.
“Asik Pak. Kita lagi berkelahi”, jawab Suprapto dengan logat Banyuamasan yang medok itu dengan tanpa beban
“Mau, gabung pak. Come on. Pokoke Inyong jamin bapake pasti klenger!!
“Berhenti …. Brakkk ” teriak pak Mono sambil tangannya menggebrak meja, untung mejanya tidak hancur.
Seketika perkelahian berhenti, suasana gaduh menjadi senyap dan tak seorangpun yang berbicara. Para boxer itu baru sadar kalau ada guru yang datang. Hening seketika, semua boxer dan semua murid termasuk aku jadi ketakutan, mau diapakan kita nanti oleh pihak sekolah?. Tiba-tiba aku teringat teriakan Astrid tadi. Intan, yang berteriak bagai halilintar tadi, Intan yang jantungan ini pingsan.
“Pak Intan, pingsan Pak” hanya itu yang bisa aku ucapkan.
“Intan, Ketua kelas bawa Intan ke ruang UKS, tolong Mas yang tidak kelahi bantuan membawa Intan ke riang UKS”, teriak pak Nisun
Aku dibantu beberapa laki-laki mengangkat Intan ke ruang UKS, seperti biasanya PMR sekolah cepat tanggap untuk melakukan P3K dengan melakukan napas buatan. Namun Intan tidak bangun, tidak bangun, bahkan malah ngorok. Kami semua ketakutan, ada apa ini. Kenapa Intan tidak sadar-sadar?, kenapa.
“Intan, bangun Intan”, kataku panik
“Panggil semua guru”, teriakku
Hari ini saya dan teman-teman dan beberapa guru membawa Intan ke RSU A. wahab Syahrani, sedang Judith, Wakilku ku suruh untuk menelpon ke orang tuanya Intan, mengingat dia juga tetangga dekatnya Intan

***
Kematian, itulah yang tepat dikatakan dari peristiwa perkelahian di kelasku. Kematian Intan itulah yang terjadi, apakah penyebabya dari penyakit jantung koronernya itu atau apa yang jelas akibat dari perkelahian itu. Orang jantungan seperti Intan itu rentan terhadap kejutan-kejutan, sehingga jika tidak tahan akhirnya menjadi kolik dan bisa sampai pada kematian.

Duh, Intan betapa cepat kamu meninggalkan kita semua. Anak yang semata wayang bagi kedua orang tuanya itu telah meninggal, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi orang tua Intan menghadapi cobaan, pasti pahit sekali. Intan adalah teman sekelasku yang biasa-biasa bahkan sering menyendiri karena minder dengan teman-temannya yang sehat dan lincah. Tapi aku dan teman-teman sebenarnya merasa biasa saja dengan dia, dianya saja yang menutup diri. Sekarang malah meninggalkan kita duluan.

Setelah kejutan Intan, aku dan teman-teman juga mendapat kejutan baru. Pak Simoni ditahan Polisi. Pak Simoni diadukan oleh orang tua Intan karena kelalaiannya dalam menjalankan tugas akibatnya Intan meninggal. Sungguh aku tidak paham dunia orang tua, padahal menurut pendapatku Intan meninggal karena terkejut adanya peristiwa perkelahian para lelaki di kelas. Seharusnya mereka yang dipersalahkan, para laki-laki itu yang cuma 10 orang tapi kerjaannya kelahi dan merusak kelas, yang masuk bui bukan guru saya.

Kami tidak menyangka Pak Simoni, idola kita semua. Pembina OSIS ku, mendekam diruangan yang sempit dan dingin, banyak nyamuknya lagi. Pak Simoni bakal kena hukuman karena kelalaiannya. Alasan Orang tua Intan, jika Pak Simoni mengajar pada jam tersebut pasti perkelahian itu tidak ada, dan Intan tidak meninggal. Kelihatannya benar juga alasannya.
Kami semua bersedih, apalagi aku dan pengurus OSIS lainnya. Sebab pak Simoni telah banyak membimbing kami dan menarik perhatian kami terutama para gadis-gadis karena kemacoannya itu, walupun sebenarnya beliau telah beristri dengan tiga anak lelaki, namun kemacoannya masih kami dambakan. Pak Simoni betapa malang nasibmu.

***
Sidang pengadilan untuk Pak Simoni kami semua datang, kami semua siswa dan guru sengaja memberi support kepada beliau. Di saat orang lain boleh demo, dan demo selalu dijadikan alat mencapai tujuan, kami juga meniru pola mereka. Kami-kami OSOS dan dukungan dari semua guru, setelah minta ijin ke Poltabes kota Samarinda kami berangkat demo ke Pengadilan.
Suasana pengadilan jadi kacau, kami para pendemo tidak boleh masuk ke ruang pengadilan. Namun semangat kami tetap membara dengan yel- yel dan teriakan yang membahana. Spanduk dari karton, kain sarung di tampangkan di sana, sungguh tontonan yang rasanya kurang menarik tapi masih ditonton juga.
“Bebaskan guru kami”
“Bebaskan pak Simoni, beliau guru teladan”
Si Anton bikin spanduk yang lebih seru dengan modal sendir, “SIMONI GURU SAYANG, SUNGGUH NASIBMU MALANG BENAR”. Ada pula spnduk yang rasanya aneh ditelingaku “TURUNKAN SPP, UANG KOMITE SEKOLAH, JANGAN EKSPLOITASI PENDIDIKAN”. Waduh kenapa tidak kita seleksi dulu spanduk-panduk itu tadi.
Aku yang lagi sebel dengan spanduk yang aneh dan keadaan yang melecehkan dunia pendidikan ini, melecahkan harkat dan martabat guru, ikut ikutan seperti mahasiswa, aku melakukan orasi di depan semua teman dan penonton demo. Setelah mendapat tempat yang agak tinggi aku pegang speaker dan mulai memberi kuliah:
“Bapak hakim dan buk hakim, pak jaksa dan bu jaksa, pak polisi dan bu polisi, pak guru dan ibu guru, teman-temanku sekalian serta para penonton demo yang saya anggap simpatisan kami. Merdeka, merdeka, merdeka!!. Teriak saya sambil, mengepalkan tinju ke udara.
“Merdeka”, teman-teman menjawab
“Freedom”
“Freedom”
“Merdeka!!
“Merdeka!!
“Hari ini kita sedang menyaksikan keadilan yang tidak adil, kejujuran yang tidak jujur keangkuhan, kezaliman. Bagaimana mungkin seorang guru yang kita anggap baik, suci, yang kita ikuti kata-katanya yang kita jadikan teladan telah diberangus kebebabasanya. Itu tidak mungkin, ini adalah dzolim, melanggar privacy, melanggar HAM, Saudara, sekali lagi melanggar HAM. Wahai pak dan bu hakim , pak dan bu jaksa, pak dan bu pulisi dan kedua orng tua Intan. Kami ketuk hati nuranimu, kesadaranmu. Ingatlah darimana anda memperoleh kedudukan jaksa, darimana anda memperoleh gelar sarjana, darimana anda dapat kekayaan, harta, kepintaran. Darimana?. Itu semua adalah jasa guru, ingat jasa guru.
“Minum dulu, Nov” Teriak Mawar
“Saya sudah minum saudara-saudara. Tapi rasanya seperti tercekik tenggorokan saya, saya tidak ikhlas dengan semua keadilan ini. Semua setuju kalau keadilan ini hanya mengada-ada, saja. Setuju ….!
‘Setuju….. “jawa mereka serempak
“Setujukah, jika Pak Simoni tidak bersalah, Setuju yeah …!!”
“Setuju, setuju, setuju ….
“Pokoknya kembalikan guruku, kembalikan Bapakku kembalikan …..”
“Kembalikan guruku, kembalikan guruku ….

***
Sebenarnya siapa yang paling berjasa dalam membebaskan Pak Simoni, yang jelas setiap Sidang pengadilan kasus Simoni kita warga sekolah bergiliran untuk demo ke pengadilan. Mungkin juga ke dua orang tua Intan telah sadar akan kekeliruannya, mereka telah mencabut tuntutan dan ikhlas menerima kepergian anaknya yang semata wayang. Atau hakim, jaksa atau polisi juga turut andil dalam pembebasan sebab mungkin mereka telah sadar bahwa jika tidak ada guru mereka tidak bakal menjadi orang seperti itu. Siapapun yang berjasa terhadap kebebasan pak Simoni, aku dan teman-teman tetap tidak puas sebab Pak Simoni telah satu bulan ini tidak mengajar lagi. Kedudukanya digantikan oleh Pak Edih Rahmanudin yang tidak kalah profesionalnya dalam mengajar. Namun persoalanya bukan itu, pak Simoni telah dimutasi ke sekolah lain dan bukan sebagai guru melainkan hanya pegawai tatausaha. Sungguh keterlaluan, setelah kami tidak bisa bertemu sang idola kami yang maco, hukumannya malah baru saja terjadi. Aku yakin, pak Simoni tidak tertarik sebagai TU, aku tahu persis sebab beliau itu orangnya perhatian banget dan menjiwai keguruanya.

Dalam sekolah ini pak Simoni termasuk guru yang paling rajin selain Pak Yoseph Payong Ado, pak Asrori, Ibu Martini, pak Nisun, pak Sugiyono dan beberapa guru lainnya. Hanya kebetulan saja waktu kejadian perkelahian Pak Simoni sedang mengurusi istrinya yang sedang sakit parah, katanya sih komplikasi ginjal, darah tinggi, dan ada benjolan di rahim. Sebagai Perantau dari Jawa memang Pak Simoni tidak punya saudara sama sekali di Samarinda, jadi yang menunggu dan mengurus istrinya selama sakit ya pak Simoni sendiri, mau minta tolong siapa lagi. Belum lagi pak Simoni mengurus anak-anaknya yang tiga laki-laki terutama yang paling kecil baru masuk TK, untuk sekolahnya, makannya. Dari hal seperti itu aku baru sadar bahwa Pak Simoni sungguh lelaki yang maco, rajin dengan banyak beban.

***
Tidak ada lagi yang aku tahu dari Pak Simoni, sebab aku dan teman-teman jarang bertemu lagi. Apalagi setelah aku lulus dari sekolah kejuruan ini aku langsung masuk Diploma 3 Sekretaris dan bekerja di almamaterku di Universitas Mulawarman. Hanya pagi ini aku kebetulan membaca koran yang suka mengespos kriminal, pembunuhan, dan seks dan membaca sebuah judul berita kecelakaan : Keluarga Simoni pulang Jalan-Jalan ditabrak Pemuda Berandalan”
“Simoni, siapa dia?”

Penasaran, aku membaca terus beritanya : Setelah pulang dari jalan-jalan bersama istri dan ketiga anaknya. Ketika menyebarang jalan di perempatan Mall Lembuswana di tabrak dengan mobil Galant, dengan nomor polisi KT251292FY yang sedang melaju kencang. Mobil yang dikendarai oleh anak-anak muda yang sedang mabuk itu, melaju kencang dan berliak-liuk, menerobos lampu merah dan langsung menabrak keluarga Simoni. Dalam peristiwa itu ketiga anak dan istrinya meninggal di tempat kejadian, sedang Simoni terlempar sekitar 3 meter dari jalan raya. Menurut dr. Anda Supanda dokter bedah dari RSU A. wahab Syahrani keadaan Simoni masih koma dan kakinya yang sebelah kanan kelihatannya tidak tertolong lagi. Dalam peristiwa ini ….

Tiba-tiba, kepalaku berkunang-kunang. Badanku lemas sekali, pandanganku serba gelap aku lihat, aku lihat dalam pikiranku Pak Simoni sedang berjuang melawan kematian, jika dia berhasil dia akan mendapati kekecewan hidup lagi, kakinya hilang, istrinya hilang, anaknya hilang …. dan harga dirinya juga akan hilang. Semakin berat mataku ku buka, semakin gelap, semakin gelap dan semakin gelap … aku tidak tahu lagi …, semua serba gelap (*).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s