Majuku Dari Kota Beriman

Cerpen Karya : Faisal Fath Junaidi – SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin Balikpapan

balikpapan kota beriman

“Wah ! senang rasanya dapat kembali !. Berapa lama ya! ? sampai bahasa Jawaku nggak kelihatan lagi”, ucap seseorang paruh baya yang telah selesai mengisi surat-surat passport di Bandara Sepinggan lewat gate internasional, setelah itu ia keluar dan nampaknya dia amat tidak sabar untuk berjalan-jalan di kota Balikpapan.
“Tuan, bagaimana dengan penginapan ?”, tanya seorang yang sejak awal mengikutinya, ia berpakaian tuxedo mewah berbeda jauh dengan orang paruh baya itu.
“Ah! tidak perlu…!. Inikan hometown saya, jadi saya sudah punya banyak pengalaman walau sudah hampir delapan tahun tidak pulang!”, jawab seorang paruh baya itu.
“Baiklah!. Saya mengerti….apa tuan ingin ke tempat kerabat-kerabat tuan?”, tanya seorang berpakaian tuxedo tadi ternyata ia adalah sekretaris yang bekerja untuk orang paruh baya itu tadi.
“Ha ha ha!. Kota Balikpapan dan penduduknya adalah kerabat-kerabat terbaikku!”, ucap orang paruh baya itu lagi, kali ini dengan senyum ramah dari wajah bijaknya dan rambut yang sedikit beruban itu.
“Oh ya, karena sedang liburan…aku minta kamu juga berlibur, termasuk dalam tugasmu ! OK !”, instruksi pada sekretarisnya.
“Terima kasih tuan Falah !. Info dan jadwal-jadwal mengenai bisnis anda di Adelaide, akan saya atur, agar liburan anda menyenangkan!”, balas sang sekretaris atas pelayanan pada atasannya. Ternyata orang berpakaian sederhana itu, bernama Falah, memang tidak disangka sebelumnya kalau Falah adalah atasan atau terlihat sebagai orang penting yang punya bisnis di Australia, tepatnya di kota Adelaide.
“Baiklah!. Lakukan sesukamu, aku pergi dulu….Assalamualaikum!”, mengucapkan dengan bergegas ke jalan raya, mengabaikan ucapan sekretarisnya, seperti ingin segera bebas dan berbaur dengan keadaan sederhana. Ia memanggil angkot yang lewat di depan begitu saja tanpa pilih-pilih, ingin kabur dari instruksi-instruksi dan info dari sekretarisnya.

Memasuki angkot yang di penuhi bapak-bapak dan ibu-ibu, Falah merasa ini saat kesempatan baginya untuk mulai interaksi dengan orang-orang umum di Balikpapan.
“Piye kabare mas!?”, ucapnya dengan asal bahasa Jawa yang masih diingat kepada pak sopir, karena kebetulan posisinya saat itu ia duduk di kursi paling depan di sebelah pak sopir. Sudah kebiasaannya sejak dulu saat dalam kendaraan roda empat di Adelaide hampir delapan tahun, Falah selalu duduk di depan.
“Api’-api’ wae mas!, Sugeng endang kutho Balikpapan!, Ape neng endi to mas!?”, balas pak sopir. Dugaan Falah benar bahwa pak sopir tadi adalah orang Jawa, namun karena sudah tak menguasai bahasa jawa lagi, Falah hanya iya-iya saja dan akhirnya hanya mengamati pemandangan di kota Balikpapan yang telah ia tinggalkan lama.

Nostalgia Falah di kampung halaman memenuhi ruang suka cita dalam dirinya, mengingat jalan hidup menuju gerbang sukses dimulai dari Balikpapan. Ia terus mengamati perubahan-perubahan yang mencolok di kampung halaman ini, entah kenapa matanya berbinar-binar seraya kagum dan tak percaya akan apa yang dilihat. Hotel-hotel bintang 5 dengan arsitektur bangunan megah mencakar langit tertata dengan susunan kota yang rapi, asri serasi dengan jalanan yang rapi, terkendali dan indah. Pepohonan teduh dan taman-taman bunga yang berjejer di sepanjang jalan, di mulai sejak permulaan ia naik angkot.

Sesekali ia merujuk pada smartphone-nya, memeriksa website kota Balikpapan, untuk tahu lebih dalam apa-apa saja perubahan pesat pada kotanya. Industri yang berpotensi menghasilkan PAD tinggi marak beredar, murni tanpa adanya campur tangan investor asing. Berdiri pula bangunan industri-industri lokal sebagai penyeimbang yang turut memberi keuntungan kota maupun warganya. Kota pemasok nomor satu minyak bumi untuk devisa Indonesia dan pengguna listrik tenaga air laut terefektif di Indonesia. Pembangunan Flyover yang briliant telah memecahkan kemacetan. Dijumpai pula jalan tol penghubung Samarinda-Balikpapan yang telah berfungsi dua tahun terakhir dan jembatan penghubung Penajam–Balikpapan sudah aktif selang setahun terakhir. Namun tidak mematikan peran penyeberangan perahu tradisional. Balikpapan sendiri menjadi kota yang mempunyai jalur lalulintas internasional setelah di barengi suksesnya konstruksi pembaharuan operasional Bandara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang. Kota yang letaknya yang strategis sebagai jalur perdagangan antar Asean.

Di tahun 2018 Balikpapan menjadi kota tersehat dengan kuantitas kurang dari 2% anak penderita gizi buruk sesuai pendataan kesehatan sejak 2016 hingga 2018 dan tiap tahunnya pun, presentasenya semakin berkurang.
“Wah tidak cuma penghargaan Adipura lima tahun berturut-turut dimulai 2015, di tahun 2020 ini Balikpapan menjadi The Most Grean, Clean and Healthy City berdasar penilaian Asean Journal Foundation!”, Falah bicara pada dirinya sendiri sebagai respon hasil dari browsingnya di internet.

Kota Balikpapan benar-benar mencapai masa depannya, Falah ingat delapan tahun lalu rata-rata gedung dan pusat perbelanjaan maksimal hanya mencapai lantai tujuh, kini telah menjadi dua kali lipatnya, cerdasnya strategi pengembangan kota ditopang majunya sumber daya manusia yang berkualitas, telah mengurangi campur tangan pihak-pihak asing, ini kota telah dimandirikan kesejahteraannya oleh warganya sendiri.

Perjalanan singkat dengan angkot dipenuhi kesan luar biasa tentang masa depan Balikpapan, nampak daerah Kebun Sayur yang telah maju dengan plazanya yang besar nan megah, daerah pasar Inpres dimana barang-barang tradisional khas Kaltim dipasarkan telah menjadi persinggahan turis internasional yang tidak pernah sepi karena barang-barangnya mempunyai kualitas seni bernilai tinggi di mata dunia. Tak ingin menghilangkan khas tradisional pasar tersebut, desainnya tetap sederhana, masih ada pedagang kaki lima yang eksis berjualan di sekitar pasar, membuat turis-turis ingin mengenal lebih jauh tentang kebudayaan Indonesia.

Turun dari angkot Falah sungguh terpukau, di trotoar mengamati benar-benar daerah tersebut,
” Kangennya!. Dulu aku selalu makan makanan terenak di dunia di sini, pakle’ Joko mana ya!?”
Mengekspresikan kekangenannya ia langsung masuk ke gerbang pasar Inpres dan menuju ke lokasi para PKL menjual aneka kuliner, Falah adalah termasuk pencinta kuliner dari kotanya. Walau Falah telah mencoba berpenampilan sederhana dan berusaha menyamarkan identitasnya, namun gaya berjalan seperti orang kelas atas dengan bersih penampilannya membuat banyak orang yang memerhatikan. Takut identitas aslinya ketahuan ia akhirnya mengubah gerakannya menjadi orang ling-lung dan aneh agar orang berprasangka lain dan melupakan dugaan bahwa ia benar-benar Falah. Betapa senangnya ia berjalan-jalan disana, bukan hanya makin sejuk dan tentramnya Balikpapan, tetapi karena rasa kerinduan tingginya dengan kota beriman.

Puas berkeliling di daerah PKL, ia bertemu orang yang mirip pakle’ Joko, terakhir Falah bertemu itu 12 tahun yang lalu saat pakle’ Joko masih berumur 24 tahun dan Falah masih berkuliah di Universitas Mulawarman Samarinda sebelum akhirnya ia meneruskan S2 Bisnis Management di Cambridge University, Inggris, melalui beasiswa Kaltim Cemerlang.
“Waktu itu aku menyempatkan libur kuliahku kemari, sudah lama sekali. Pasti pakle’ Joko sudah berkeluarga”, gumamnya sambil berhenti sejenak kembali mengenang masa-masa ia saat masih kuliah dulu. Falah ingin membuat kejutan pada pakle’ Joko, hubungannya sangat akrab dulu bahkan komunikasi mereka selalu tersambung sebelum berpisah untuk kuliah ke Inggris dan menjadi wirausahawan sukses yang memproduksi kain wol batik Kaltim di Adelaide, Australia.

Falah berlagak menjadi pelanggan biasa dan memesan makanan favoritnya yaitu bakso, menurut pengamatan Falah, pakle’ Joko tidak banyak berubah. Tetap saja rapi, ramah dan bersih, karena walau dia pedagang kaki lima ia pedagang yang adil, rajin ibadah, melayani dengan tulus, jujur, ikhlas dan bersahabat. Falah dari dulu kemanapun ia jika di Balikpapan, selalu mampir ke tempat pakle’ Joko untuk membeli bakso, selalu berbagi cerita layaknya teman akrab. Dulu suasana kota agak kumuh, namun kebijakan yang sama di terapkan seperti di Singapura menjadikan Balikpapan sebagai kota terbersih di seluruh Asia Tenggara.
“Ini pesanannya mas …!. Silahkan dinikmati, oh ya ini ada koran Kaltim Post hari ini jika mas ingin membacanya!”, ucap pakle’ Joko, karakternya tetap sama seperti dulu, selalu menyuguhkan koran kepada pelanggan. Kebetulan pagi masih sepi pelanggan, karena penduduk kota sedang beraktifitas rutin bekerja, hanya pedagang souvenir sibuk melayani turis-turis domestik dan luar negeri sedang mengoleksi kerajinan terutama hasil karya etnis asli Kalimantan yaitu Dayak.

Setelah dipersilahkan, Falah langsung menyantap bakso itu, memakan dengan lahap dan antusias, memang agak unik dalam kebiasaan menyantap bakso, selalu merasakan rasa asli tanpa tambahan saus dan kecap, pakle’ Joko mulai mengamati karena pelanggan yang punya gaya seperti itu hanya langganan akrabnya dulu yaitu Falah.
Saat ia tersedak makanan, Falah mencoba diam, kebiasaannya memesan minuman setelah makan, membuat ia tetap tersedak hingga pakle’ Joko merespon sekaligus memastikan apakah ia Falah, Pakle’ Joko pun menyuguhkan es jeruk nipis yang biasa dulu Falah pesan setiap makan.

Falah melirik pakle’ Joko yang sedang membaca sebuah novel yang tidak asing lagi baginya.
“Novel ini benar-benar telah menginspirasi saya, tokohnya yang orisinil dan punya kesetiaan, rela berkorban, ya benar-benar memotivasi saya!”, ucap pakle’ Joko mengekspresikan novel yang ia baca, untuk memancing Falah, ialah novel berjudul: “FATE” karangan Falah sendiri. Falah kaget dan kacau ternyata ia ketahuan oleh pakle’ Joko. Senyumlah pakle’ Joko, ia menang.
“Apa kabar mas Falah!, Balikpapan sudah sukses sekarang, bagaimana di luar negeri!?, berkatalah pakle’ Joko sambil memegang pundak Falah. Falah tersentuh dan merangkul pakle’ Joko, keduanya berpelukan haru setelah sekian lama tidak berjumpa.
“Luar biasa kamu sekarang!, Kukira kamu sudah gak mau kembali lagi ke Balikpapan!”, ucap pakle’ Joko dengan nada bersahabat.
“Tidak mungkin!. Dari dulu aku selalu ingin kemari sejak aku di Inggris, kalau bukan karena Balikpapan!. Aku tidak akan jadi orang seperti sekarang !”, balas Falah, ia mencoba bicara dengan nada santai sambil menutupi tangis terharunya, setelah melepas kerinduan. Baginya Pakle’ Joko sudah seperti keluarga sendiri. Falah adalah orang sebatang kara, ketika kuliah di Unmul hampir saja berhenti karena tidak punya biaya, berkat bantuan dari SMAnya di KM 10, Karang Joang tepatnya di SMA Muhammadiyah 2 Al-Mujahidin, akhirnya kelar kuliahnya.

Ia sekarang sukses menjadi novelis yang mencatatkan namanya sebagai nominasi “The World Best Fiction” dan sebagai nominasi 5 besar pengusaha tersukses se Asia.
“Kalau bukan karena pakle’ beri aku harga murah, bahkan gratis!, mungkin aku sudah tak lagi disini!”, kali ini isakannya mulai reda dengan wajah benar-benar bahagia pada pakle’ Joko.
“Syukurlah kamu masih tidak berubah rupannya, Alhamdulillah!”, kali ini pakle’ Joko berusaha tegar dan melegakan perasaan Falah. Mereka berdua berbincang-bincang layaknya kawan lama tidak bersua.

Keduanya memang termasuk bukan orang yang menjalani hidup dengan mudah.
“Kini jika kamu ingin pulang pergi ke Samarinda, tidak perlu waktu lama dan tidak membosankan lagi, jalan tol penghubung telah tersedia. Pusat rekreasi alam, flora, fauna asli Kalimantan, telah ada, ini setara dengan Taman Nasional Ujung Kulon, letaknya di km.15 sampai km. 23!”, terang pakle’ Joko yang senang membanggakan Balikpapan.
“Ya … ya aku lihat wacana keseluruhannya di Internet, pemanfaatan batu bara dengan metode penyedotan dengan mekanik canggih juga berhasil membangun industri Balikpapan tanpa adanya pengrusakan alam. Ini semua seperti mimpi yang jadi kenyataan!”, Respon Falah.

Sesaat kemudian mereka melihat tiga bocah penjual koran yang terlihat menghitung uangnya untuk membeli makanan, mereka ditolak banyak PKL penjual makanan karena kurangnya uang mereka. Mereka menuju ke tempat pakle ‘Joko. Falah yang hanya diam iba melihat ke tiga anak itu tak sadar, pakle ‘Joko telah menyuguhkan tiga porsi, bakso lengkap dengan tiga gelas es teh untuk ketiga anak itu.
“pakle’ tapi kami cuma punya uang sepuluh ribu!?”, ucap anak-anak yang polos dan usianya masih berkisar sepuluh tahunan itu.
“Makan aja nak, ini gratis buat kalian bertiga, yang penting kalian kenyang!”, balas pakle’ Joko pada ketiga anak itu. Saat itu sungguh wajahnya bagai bercahaya atas ketulusannya dalam menolong. Pakle’ membiarkan mereka bertiga makan dengan lahap, mengerti betapa laparnya mereka, pakle’ sengaja memberi porsi lebih agar mereka puas.
“Pemerintah kota sebentar lagi akan melakukan kebijakan untuk menangani gepeng, PKL, pengamen dan juga termasuk anak-anak yang bekerja di bawah umur, namun banyak yang menolak karena belum jelas kepastian selanjutnya!, kasihan anak seperti mereka, hanya itu yang bisa kulakukan paling tidak cukup membuat mereka tersenyum sekali saja sudah keajaiban bagiku, aku berpikir merekalah anak-anakku yang harus kujaga”, ucap pakle’ Joko dengan bijak dan benar-benar peduli layaknya aktifis yang rela berkorban. Falah kembali merenung dan merasa malu pada pakle’ Joko, padahal ia hanya seorang pedagang bakso tapi rasa dermawannya lebih besar.

Setelah makan tiga anak itu mengucapkan terima kasih pada pakle’ Joko.
“Om ini bacaannya apa!?”, salah seorang bocah bertanya pada Falah dengan antusias sambil menunjukkan wacana di Koran.
“Oh ini di bacanya Balikpapan Gerbang Indonesia, pintu Indonesia Menuju Masa Depan!”, jawab Falah.
“Adik-adik sekalian boleh om borong semua korannya!?”.
“Iya dong om, boleh!, Kalau begitu kami mau bayar makanan kami tadi, oh ya terima kasih banyak om!”, kata seorang bocah lagi.
“Tapi syaratnya kalian harus mau om sekolahkan!, mau ya!”, permintaan Falah pada anak-anak itu, pakle’ dan anak-anak itu kaget, entah kenapa tiba-tiba ia berkata begitu usai menghitung harga semua ia memberikan tiga lembar uang seratus ribu pada masing-masing anak itu, syukur respon anak itu luar biasa mereka berantusias. Sebenarnya Falah terinspirasi dengan keikhlasan pakle’ Joko.
***

Falah mewujudkan rencana pada kotanya, ia yang telah di dewasakan di Balikpapan merasa berhutang budi. Ia mau membantu pemerintah kota dalam melakukan kebijakan untuk menangani gepeng, PKL, pengamen dan juga termasuk anak-anak yang bekerja di bawah umur. Pada kesempatan ini ia memutuskan membuat yayasan “Falah Foundation”, ia mau menanamkan keuntungan perusahaan untuk misi kemanusiaan, di mulai dari Balikpapan dulu tentunya. Falah Foundation memberikan bantuan modal kerja kepada PKL, beasiswa kepada pengamen untuk mendalami musik di sekolah musik di Balikpapan, menyekolahkan anak-anak jalanan dan ternyata hampir semuanya antusias untuk sekolah, para gepeng diberi life skill seperti menjahit, perbengkelan dan ketrampilan hidup lainnya sesuai minat, bakat dan kemauan. Untuk itu Falah berkoordinasi dengan LSM dan pemerintah kota Balikpapan dalam gerakannya. Sebagai pengusaha ternyata ia mampu mengajak koleganya baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk andil dalam penyelamatan masa depan orang-orang yang kurang beruntung ini.

Balikpapan memang modern namun masih sedikit menyisakan kemiskinan, masih saja ada anak yang terlantar dan manusia-manusi yang kurang beruntung. Tentu bukan pilihan hidup mereka. Ini juga bukan hanya pemerintah kota Balikpapan yang harus sendirian memikirkan warganya, orang-orang sukses seperti Falah tentu saja punya peran dan kewajiban yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s