Izinkan Aku Merasakan Cinta

Cerpen karya: Fitriah Andreyani, Irma Ervina, Nilam Sari, Yuniar Cahya Wardani Putri-XAP1 smkn1samarinda

 

Disudut kelas terlihat seorang wanita cantik sedang melihat jendela. Dia tersenyum-senyum sendiri. Ya dia adalah Rani kelas X IPS 1. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya “ciee ngeliatin kak Rangga ya?”, kata Nilam. Nilam adalah sahabat Rani orang yang paling suka meledek, termasuk Yuni dan Fitri. Mereka sangat suka meledek Rani yang sedang jatuh cinta kepada kak Rangga.

Hari Senin dikanker otakmana semua murid berkumpul di lapangan upacara, saat itu juga Rani senang karena kak Rangga menjadi pemimpin upacara. Muhammad Rangga atau sering disapa Rangga adalah seorang yang sangat pintar, dia kelas X IPS 2 selain itu dia aktif dalam ekstrakurikuler OSIS dan BRIGADE. Setiap minggu Rangga dan kawan-kawan memasuki tiap kelas untuk meminta sumbangan untuk acara SMA Peduli. Hal itu juga membuat Rani senang karena bisa melihat dengan jelas wajah Rangga.Saat upacara berlangsung Rani sering tersenyum sendiri saat dia mencuri-curi pandang. Rasa cinta itu tumbuh semenjak Rangga menolong Rani karena Rani mau terpeleset saat menginjak lantai yang baru dipel.

Namun ditengah-tengah upacara berlangsung tiba-tiba Rani merasa pusing dan Rani pun mimisan dan pingsan. Dengan sigap PMR membawa Rani ke UKS untuk diberi pertolongan pertama. Setelah sadar ia melihat Rangga berada di sebelahnya. Lalu Rangga bertanya: “kamu sudah sadar?”, Rani hanya mengangguk.

Disebelah Rangga juga ada sahabat-sahabat Rani yang tertawa kecil karena melihat pipi Rani tersipu malu karena melihat senyum Rangga. Setelah merasa lebih baik, Rani kembali kekelas diantar Rangga dan juga sahabat-sahabatnya.

Bel pulang berbunyi Rani bergegas kembali kerumah. Sesampai di rumah ia langsung meminum obatnya. “Tunggu minum obat?”, ya Rani sedang sakit kepala parah. Sudah hampir setengah tahun Rani mengidap penyakit pusing , mual dan muntah bahkan akhir-akhir ini sering mimisan dan pingsan. Dia menganggap ini penyakit pusing biasa karena asam lambungnya naik, jadi cukup dibelikan obat magh dan pereda rasa sakit. Tetapi, tak ada seorang pun yang peduli kesehatan Rani bahkan orang tuanya.

Hari ini Sabtu malam minggu Rani di depan cermin sedang berdandan. Malam minggu istimewa ini ada janjian dengan Rangga untuk ketemu di taman hutan kota yang dulu bekas sekolah SMP 1 dan SMA 1 Samarinda. Rani menggunakan sweater hello kitty, jeans warna hitam serta wedges berwarna coklat. Terlihat anggun dengan rambutnya terurai di bahu. Sementara itu di taman Rangga sedang menyiapkan kejutan. Kejutan lilin-lilin berbentuk hati.

Ketika Rani sampai dipojokan taman, terlihat sosok Rangga yang gagah, tampan, tinggi besar sekilas mirip Saher Sheikh, itu bintang film Bollywood pemain drama televisi serial Mahabharata yang tayang di ANTV, yang berperan sebagai Arjuna. Berdebar-debar Rani mendatangi Rangga, ada rasa malu dan risih dihatinya.
“Would you be my girlfriend”, kata Rangga dengan gaya membungkuk dengan tangan kiri memegang lilin , tangan kanan menyalakan korek disulutkan ke sumbu lilin, seketika itu lilin berbentuk hati bertuliskan “ I LOVE YOU RANI” nampak terlihat jelas.
Muka Rani merah padam, tidak menyangka kejutannya terlalu cepat. Rangga menembak langsung ke hatinya.
“OK, repeat again. Would you be my girlfriend, Rani?”, tukas Rangga
Semakin kelu lidah Rani, namun akhirnya dia mengangguk. Rangga bangkit dan langsung memeluk Rani.
“Oh my sweet, I love U, so much!”, bisik Rangga di telinganya.
Tiba-tiba Nilam, Yuni, dan Fitri keluar dari persembunyian dan bersorak: ”selamat Rani, jangan lupa PBJnya ya, cieeee”. Rani buru-buru melepaskan pelukan Rangga dan ganti memeluk sahabatnya.

***

Rangga sedang mentraktir Rani dan sahabatnya di kantin sekolah, menunya adalah Roti burger spesial dari BurgerOne yang tersohor di kota Samarinda. Minumnya es durian Aziza yang leker. Ini traktiran sebagai hari jadi Rani dan Rangga yang keseratus hari, mereka terlihat bahagia sekali.
“Ayo tambah teman-teman, habisin semua menu burger di kantin ini”, seloroh Rangga.
“Benar, nih. Rangga. Cukupkah modalmu?”, ejek Nilam
“Ehm, jangan kuatir teman-teman. Pokoknya ini hari istimewa, Rangga gitu!”, kata Rangga sambil nepuk dada, padahal dalam hatinya agak ciut juga kalau mereka mau makan banyak bisa-bisa duwitnya tidak cukup.

Ditengah-tengah sendau gurau tiba-tiba Rani merasa pusing.
“Rani, hidungmu. Ke … keluar darah”, teriak Yuni.
“Oh ya Ran, kamu kenapa”, timpal Fitri bergegas mengambil tisu untuk melap darah yang keluar dari hidung Rani.
Rani berkata dalam hati : “jangan sekarang, jangan sekarang”. Namun daya tahan tubuhnya cepat drop iapun terkulai telungkup di meja makan, pingsan.
“Rani!”, teriak mereka bersamaan.
Hebohlah kantin itu, tapi dengan tangkas Rangga membopong Rani.
“Lapor, ke pak Falah bahwa Rani pingsan”, teriak Rangga gugup
“Cepat!”
“iya, ya aku mau ke Pak Falah”, Nilam menjawab sambil ngeloyor ke ruang pak Falah yang menjabat wakil kesiswaan di sekolah mereka.
Dengan cepat mereka membawa Rani ke rumah sakit. Rani langsung dibawa ke ruang ICU. Kelihatan orang yang paling khawatir adalah Rangga, orang ke dua yang khawatir adalah para sahabat Rani, sedang pak Falah kelihatan tenang-tenang saja.
Satu jam kemudian dokter keluar dari ruangan mencari keluarga Rani. “Siapa diantara kalian keluarga dari pasien ini?”, tanya dokter.
“Orang Tua Rani sedang berada di luar kota saya mewakili keluarga Rani”, jawab Rangga dengan tangkas.
“ehm, kamu siapa, kalian siapa. Eh Bapak ini siapa?, tanya dokter dengan pandangan sebelah matanya.
“Maaf pak dokter. Saya gurunya, Ini Rangga dan yang ini Nilam, Yuni dan Fitri teman-teman Rani”, jawab pak Falah dengan nada sopan.
“Apa kami bisa mewakili keluarga Rani, Bapak?.
“ehm, tidak bisa, tidak bisa. Harus orang tuanya atau kerabat dekatnya yang lebih dewasa. Ini agak serius penyakitnya sih, jadi saya perlu bicarakan dengan orang tuanya. Maaf ya Bapak hanya gurunya, sedang adik-adik ini cuma teman saja. Ndak bisa, jadi begini saja, sementara biar Rani di rawat dulu di sini. Bapak guru end kamu end Kamu segera hubungi orang tuanya”, kata dokter itu sambil ngeloyor pergi.
”Baik dok, terimakasih”

***

Rani mengidap penyakit kanker saat ini sudah stadium 4, itulah yang di dengar Rangga dan para sahabat Rani dari orang tuanya. Mereka semua histeris dan menangis tersedu-sedu mendengar kata-kata itu. Kanker otak stadium 4, pantesan Rani sering pusing hebat sampai muntah-muntah dan pingsan. Mereka mengira dia terkena penyakit Magh, tapi ternyata kanker otak.
Tumor di otak bagian tengah harus segera di operasi. Tengkorak kepalanya dibelah dengan digergaji lalu tumornya di buang sampai ke akar-akarnya. Jika selamat Rani masih punya harapan hidup, tapi mungkin akan mengalami kelumpuhan. Selanjutnya untuk mematikan sel kanker Rani harus menjalani kemoterapi. Itu semacam pengobatan yang memakan waktu lama bisa 10 sampai 12 kali kemoterapi. Efeknya bisa membuat rambut Rani rontok, lidahnya tidak bisa merasakan rasa. Nafsu makan turun drastis, bisa-bisa Rani yang sintal berisi ini jadi kurus kering dengan kelopak mata menghitam dan matanya yang indah itu menjadi sayu.

Rangga tahu itu, Rani mungkin menjadi tidak cantik lagi. Atau Rani menjadi lumpuh. Tapi cinta memang mengalahkan segalnya. Dia besarkan hatinya, ia harus mensupport Rani. Saat ini yang penting empati untuk Rani. Rangga berjanji akan mendampingi Rani, membantu merawat. Toh banyak juga orang terkena kanker bisa sembuh kembali. Mereka yang memperoleh dukungan dari sekitarnya, ditambah dengan semangat hidup yang tinggi tentu ada upaya dan doa untuk kesembuhan, bisa sembuh.

***

Rangga berada di teras rumah sedang memanaskan motornya, kemarin Rani mendadak sembuh setelah 3 bulan tergolek di ranjang rumah sakit. Senyumnya riang, malahan bergurau dengan teman-teman dan sahabatnya. Tiba-tiba kakinya yang lumpuh bisa digerak-gerakan, dia bisa duduk kembali. Rangga bahagia sekali melihat kemajuan ini, walaupun kepala Rani plontos dan mukanya sekarang lonjong dan berwajah kuyu, Rani tetap gadis paling cantik di hatinya.
“Alhamdulillah, aku tidak jadi lumpuh”, teriak Rani sambil sesenggukan
Pikir Rangga , sejalan dengan kesembuhannya lambat laun Rani bakal kembali seperti dulu cantik dengan matanya yang belok-belok. Digeber motornya segera ke rumah sakit tak lupa Rangga membawa bunga mawar dan coklat kesukaannya.

Sampai di rumah sakit Rangga melihat dari kejauhan orang tua Rani dan sahabat-sahabatnya sedang menangis. Ada apa?, Seketika tenggorokan Rangga tercekat , bunga mawar dan coklat di tangan Rangga pun jatuh. Spontan ia berlari ke sana, dia lihat tubuh Rani sudah ditutupi kain putih. Rangga terpaku, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Rani telah meninggalkan dia selama-lamnya.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!”
“Relakan Rani nak Rangga, Rani sudah tenang disisiNya”, kata Ibu Rani lirih, kelihatan Ibu Rani sangat terpukul dan merasa bersalah.
“Ibu sangat menyesal, kurang memperhatikan Rani selama ini”
“Rani, kenapa kamu tinggalkan Kakak?”.
“Kenapa sayang?”
“ oh ya Nak Rangga, ini ada surat titipan Rani”, kata ibu Rani

Dengan berurai air mata, Rangga menerima sepucuk surat itu, kemudian membukanya,  membaca:

“Happy Anniversary yang ke 2 tahun ya, maaf kalo Rani gak bisa temenin kak Rangga lagi

Kakak harus tau Rani bahagia banget karena Kakak telah hadir dikehidupan Rani

Trima kasih atas waktu yang Kakak beri, terima kasih atas semuanya

maafkan Rani kak, semoga Kakak dapat yang lebih baik dari Rani”

Rani, always Love U

Hari ini jasad Rani dikuburkan, orang tua, kerabat dan sahabat-sahabat Rani telah meninggalkan kuburan, tinggallah Rangga sendiri di atas pusara Rani yang masih basah.
“Terima kasih Rani, kamu sudah menjadi bagian dari kehidupan kakak, kamu udah menemani kakak di setiap detik kehidupan, sayang untukmu akan selalu ada walau pun nanti kakak sudah nikah dan punya anak”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s