Mawar Untuk Mama

Cerpen oleh: Amanda Atika Yuliani Puteri, Rosma Faradilla – XAP1 smkn1samarinda

gadis_mawarAku berlari dengan kekuatan penuh menuju bukit di perbatasan gang rumahku. Angin bergerak bebas dan awan mulai berubah warna , aku berusaha melawan kecepatan awan.
“Ini satu satunya jalan rahasia terdekat menuju sekolah” gumamku.
DVD drama Korea baru yang menjadi awal semua kesialanku pagi ini, rasa penasaran akan kelanjutan episode membuat cap mata panda di mataku semakin melebar, dapat dibayangkan jam alarm pagiku pun belum mampu membuatku tersadar hingga wajah bu Nendan tiba tiba muncul dibalik selimut hangatku dan tentu saja sontak membuatku terbelalak dan tambah syok saat melihat jam menunjukan pukul 7 pagi.

Gemuruh langit pagi ini menambah kesialanku , jalan setapak rahasia ini pun tidak menjadi penyelamatku untuk sampai di depan sekolah dengan tepat waktu. Aku berhenti berlari saat melihat sesosok gadis yang beberapa detik sebelumnya membuatku terhenyak.
“Seragam itu”
Rasa penasaran membuatku menghampiri sosok gadis yang berjongkok membelakangiku, hal yang membuatku berani mendekatinya karena seragam sekolah yang sama denganku, rambutnya hitam terurai sebahu wangi samphonya sangat selaras dengan wangi rerumputan.
“Nera?”, ucapku pelan.
Dia terkejut dengan kedatanganku dan berusaha melindungi sesuatu di belakang punggungnya yang pastinya tidak akan berhasil karena aku cukup tinggi untuk melihat sesuatu yang disembunyikannya. Mawar. Setidaknya itulah yang kulihat . Tanaman yang aneh untuk tumbuh di perbukitan yang dominan rumput musim panas ini.
“Kenapa kau ke sini?”, ucapnya gemetaran.
“Oh iya aku hanya lewat dan melihatmu disini jadi ak … “,  belum selesai aku menjelaskan kedatanganku di tempat yah kemungkinan tempat rahasianya karena tempat ini cukup tertutup oleh rerumputan yang menjulang tinggi.
“Jangan katakan kepada siapapun tentang ini”, ucapnya seperti memohon.
“Iya tapi, kenapa? Apa yang kamu lakukan disini?”,  tanyaku heran .

Gadis ini berada di kelas yang sama denganku dia cukup pintar hanya saja sangat pendiam hingga tidak memiliki teman di kelas, aku mengenalnya pun hanya karena aku ketua kelas dan setidaknya tugas wajibku menghafal nama teman plus dengan wajahnya.
“Menemani mama”,  jawabnya singkat. Dia jongkok dan mulai membelai tanaman mawar yang tadi ia sembunyikan dariku.
“Mama siapa?” , tanyaku bingung memperhatikan sekitar tempat ini.
“Tapi hanya ada aku dan kamu”.

****

“Masih menemani mama?”, tanyaku.
Ketika aku menemui Nera di hari berikutnya, setidaknya dia tidak terkejut lagi saat melihatku setelah kejadian kemarin sungguh kejutan yang baru di bulan February dihukum berdua dengannya karena terlambat datang kesekolah.

Hari ini aku sengaja bangun sepagi mungkin, feeling wanitaku mengatakan Nera ada di tempat kemarin dan benar saja, pagi buta seperti ini.
“Iya”, ucapnya singkat.
Aku duduk beberapa senti di sampingnya ikut melihat tanaman mawar merah bak ratu di bukit ini dikelilingi rerumputan layaknya prajurit pelindung ratu. Dia aneh , wajahnya menampakkan kesedihan.
“Mama kesepian” , ucapnya singkat seperti menjawab pertanyaan dari kebingungan di wajahku.
Aku terdiam, merenungkan sepotong kata yang diucapkannya. Aku heran, bahkan kata yang diucapkannya pun belum menjawab pertanyaan apapun setidaknya dalam dunia nyata.
“Mama pergi… dan hanya meninggalkan tanaman mawar ini. Mama pernah berjanji saat mawar ini mekar dia akan menemuiku. Aku menunggu saat itu”, Ucapnya lirih.
Dia menatap kejauhan seperti mengharapkan sesuatu. Dia tersenyum. Ini pertama kali sunggingan bibirnya yang merah muda mulai merekah.
“Kurasa…. aku mulai mengerti jalan pemikiran gadis ini”, pikirku.
Aku bertopang dagu berusaha melihat kedepan, pemikiran – pemikiran ini membawaku sampai pada satu titik wajah yang sangat familiar “mama” sungguh sulit dikira bahkan disisi lain ada seseorang yang merelakan segala harapannya hanya untuk bertemu sosok “mama”.

Kurasa semua hal yang telah kujalani  sangat bertolak belakang, mamaku setia menungguku di rumah dengan segala senyumnya yang kurindukan. Hingga saat ini aku masih bersyukur setidaknya mamaku “nyata“.
“Jadi, ini alasanmu setiap pagi berada disini? Menemani mawar ini ?”, tanyaku sebelum beberapa saat terdiam memikirkan mamaku yang sekarang pasti sedang berkutat dengan bahan makanan untuk makan siangku.
“Ya, beberapa hari ini cuaca mendung , dia tidak mendapat cukup cahaya matahari, dia tidak mekar, kurasa mama akan senang jika melihatnya mekar, mungkin ini membuat mama kesepian”, ucapnya panjang lebar dia menengadah seperti berharap kepada matahari agar muncul setidaknya untuk tersenyum.
“Tapi mengapa harus melakukan ini ?”.
“Mama janji akan menemuiku saat mawar ini mekar , walau terlambat aku berharap mawar ini akan mekar dan…” , dia menghentikan ceritanya.  Menunduk dan bening kristal itupun mulai meleleh membasahi lengannya yang putih pucat, kurasa dia tidak mendapat cukup nutrisi.
“Aku berharap mama menemuiku dan membawaku bersamanya” , lanjutnya di sela isak tangisnya.
Aku berhenti memandanginya, kata terakhir diucapkannya cukup membuatku melotot. Dia ingin pergi jauh bersama mamanya.

****

Minggu pagi yang menyenangkan cuaca cukup cerah setidaknya tidak terlalu buruk untuk membuka pintu dan merasakan terpaan cahaya matahari pagi.
“Dia pasti bahagia, mawar itu pasti mekar sekarang”, gumamku.
Aku menghempaskan diri di kasur kesayanganku yang telah menemaniku beberapa tahun ini, usang memang tapi segala macam kenanganku ada di kasur ini bersamaan dengan mimpi burukku tentang guru matapelajaran Ekonomi bu Nendan, terakhir aku memimpikanya dia berjalan garang kearahku membawa tas hijau lumutnya yang dapat kutebak harganya pasti selangit ini membuatku mual setiap mengingatnya. Aku mengambil beberapa novel favoritku hingga, cover novel penuh warna itu menggambarkan ladang mawar yang sangat indah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Berjinjit-jinjit sambil menoleh kiri kanan untuk sekedar tahu mamaku tidak sedang ada di halaman Aku berencana mengambil beberapa tanaman mawar yang tumbuh subur di halaman rumahku setidaknya ini tidak seperti pencurian, toh ini rumahkukan. Aku berlari pelan menuju bukit perbatasan gang rumahku ini menyenangkan cahaya pagi seperti menyerap ke dalam pori pori wajahku. Sesuai dugaan. Gadis itu berdiri menghadap mawar pemberian orang tercintanya, kulihat dia membelai mawar itu sedetik kemudian dia menjerit tangannya berdarah. Namun wajahnya lebih menampakkan kekecewaan daripada sakit yang dirasakan karena darahnya.
“Mama kenapa”, ucapnya lirih.
Dia tidak melihatku datang ,  aku mendekatinya.
“Kamu tidak apa?”.
“Kamu?…”
“Duduk dulu”, aku mencoba mengobati lukanya yang tidak terlalu parah.
“Tunggu sebentar”, perintahku seraya mengeluarkan beberapa tanaman mawar dari kantong plastik yang kubawa. Aku mulai menggali tanah tidak jauh dari tanaman mawar gadis ini, dan mulai menanam mawar yang kubawa. Dia terkejut.
“Apa yang kamu lakukan sekarang ?”
Dia cukup terkejut melihat warna-warni bunga mawar yang mengelilingi tanaman mawarnya. Aku membersihkan tanganku tanpa menghiraukan ketidak setujuannya, aku berusaha tenang dan mengambil nafas dalam aku berfikir ini akan menjadi pembicaraan yang berat. Aku berbalik menghadap tepat didepannya, jarak yang cukup dekat setidaknya untuk membuatku sedikit berceramah tanpa harus mengeluarkan tenaga lebih.
“berhentilah, apa kamu tidak pernah berpikir?,  mamamu pasti sangat sedih melihatmu seperti ini, apa menemani bunga ini adalah segalanya, apa duduk disini berjam-jam adalah segalanya?. Berhentilah”. Aku diam sejenak.
“Semakin lama kamu seperti ini semuanya akan semakin buruk, ini tidak hanya menyakiti mamamu yang melihatmu di dunia lain ini juga akan menyakitimu, berhentilah berharap relakan semuanya. Kamu tidak akan pernah bertemu mamamu kamu dan mamamu sudah berbeda alam, begitupun bunga mawar ini… dia kesepian karena bersama seseorang yang tidak seharusnya dia harus bersama dengan bunga-bunga yang lainnya, pasti mamamu ingin kamu hidup dengan baik. Jangan serahkan semua harapanmu dengan bunga ini, pikirkan masih banyak orang di dunia ini yang menyayangimu. Pasti ayahmu akan sangat khawatir denganmu yang seperti ini”. Kataku panjang lebar aku berusaha untuk menyadarkannya.
Entah kenapa Dia malah menangis menangis. Dia memandangiku dengan seksama, lama sekali. Kukira dia akan marah dan mulai membentakku. Tapi tidak. Mulutnya yang mungil itu mulai bergerak-gerak.
“Maafkan aku”, ucapnya lirih.
Aku yakin kalimat itu bukan untukku.
“jalani hidupmu dengan seharusnya biarkan bunga ini mekar bersama teman-temannya berhentilah berharap seakan hanya kamu yang dia butuhkan,  kamu juga butuh kebahagiaan yang lain, kamu hanya perlu untuk memulai mencari itu”.
“Kamu benar “, ungkapnya lirih.
“Terima kasih sudah menyadarkanku “
Kali ini dia tersenyum. Senyumnya kelihatan indah dan manis, wajahnya mulai berseri-seri. Kamipun tersenyum bersama sambil menatap tanaman bunga mawar warna-warni di bukit ini.
“Ma, kamu pasti bahagia berbahagialah”, ucapnya seraya menggenggam tanganku. Kamipun meninggalkan tempat itu dengan saling tersenyum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s