Paradigma Baru Pengajaran Bahasa Inggris

 Oleh : Drs. Yoseph Payong Ado, M. Pd *)

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

YosephPADPengajaran bahasa inggris di sekolah-sekolah  harus dikemas sedemikian rupa agar peserta didik mempunyai gairah khusus untuk belajar. Hal ini penting, karena bahasa Inggris bukanlah merupakan mata pelajaran yang sangat diminati oleh para siswa di negara kita. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa  ada sebagian siswa kita sangat menggandrungi mata pelajaran yang satu ini, namun jumlahnya di dalam satu kelas masih dapat dihitung dengan jari. Alasan utama yang menyebabkan siswa tidak menyenangi  mata pelajaran bahasa Inggris adalah karena  sesungguhnya bahasa Inggris bagi negara kita adalah bahasa asing (foreign language) bukan bahasa ke dua (second language). Sebagai bahasa asing, bahasa Inggris hanya bisa digunakan oleh siswa pada saat mereka belajar di sekolah, akan tetapi, setelah pulang dari sekolah, siswa tidak pernah menggunakan bahasa itu lagi dalam interaksi sosialnya. Mereka kembali menggunakan bahasa Indonesia atau bahkan menggunakan bahasa ibunya masing-masing. Dalam hal ini mereka (para siswa) tidak pernah diperhadapkan pada suatu tantangan yang ‘memaksa’  mereka harus menggunakan bahasa Inggris. Dengan demikian maka apa yang mereka pelajari di sekolah tidak pernah mereka wujud-nyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika demikian maka kemasan (packaging) pelajaran bahasa Inggris di sekolah sudah saatnya harus berubah yang dapat menghantar para siswa untuk terus menggunakannya setelah keluar dari sekolah.

Pemandangan yang berbeda manakala kita menyaksikan para siswa di negara-negara  yang  menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ke dua (second language). Katakanlah negara Malaysia. Ketika penulis bersama rombongan guru-guru bahasa Inggris se kaltim berkunjung ke salah satu negara bagian Malaysia, Sabah, kami semua tercengang menyaksikan suatu situasi yang hampir tidak pernah penulis dapatkan di negara kita, sekurang-kurangnya di samarinda. Para siswa di sana (setingkat SMA/SMK) mampu mempresentasikan hasil kerjanya dalam bahasa Inggris tanpa teks. Di saat sesi tanya jawab, merekapun dengan lancar memberikan jawanban dalam bahasa Inggris yang faseh sekali (very fluently). Bahkan di tempat kami menginap (di hotel Borneo Adventure) kami menemukan bahwa para cleaning service pun dapat menggunakan bahasa Inggris tingkat intermediate. Memang berbeda. Di samping para siswa  belajar bahasa Inggris di sekolah,  ada suatu tuntutan bagi mereka untuk harus tetap menggunakannya di luar sekolah di saat mereka berinterkasi sosial karena kondisi masyarakat yang menghendaki situasi tersebut harus terjadi. Jika tidak, maka sudah bisa dipastikan tidak akan terjadi interaksi sosial yang lancar. Jika di dalam hal bisnis, kemampuan bahasa Inggris sangat dibutuhkan dalam menghandle suatu transaksi bisnis di tingkat manapun. Sehingga dapat dikatakan bahwa di setiap sektor kehidupan sosial  masyarakat di sana selalu diwarnai oleh penggunaan bahasa Inggris. Ada suatu hal yang bisa sangat ‘memalukan’ bagi tenaga kerja kita, adalah di saat kami ngobrol-ngobrol dengan para office boy dan waiter  di hotel tempat kami menginap tentang keberadaan tenaga kerja di sana.  Terungkaplah bahwa  tenaga kerja dari Indonesia sulit bersaing dengan para tenaga kerja dari negara-negara  lain, misalnya Philipna, Thailand, Srilangka dsb. Hanya karena tidak memiliki kemapuan berbahasa Inggris yang baik. Sehingga apabila tenaga kerja Indonesia dapat diterima bekerja di sebuah hotel atau restoran, maka mereka hanya bisa bekerja di bagian belakang, misalnya, cuci piring, memasak, membersihkan kamar dsb. Kondisi ini pasti membawa konsekuensi logis bahwa sudah pasti tenaga kerja Indonesia kalah bersaing dalam hal pendapatan finasialnya.

Menyimak kondisi riil di atas, Mari kita menoleh ke belakang melihat kondisi di negara kita. Sudah sejauh mana kita menjadikan bahasa Inggris sebagai  suatu kebutuhan atau malah menjadi konsumsi ke dua dalam hidup kita dan anak-anak bangsa kita.  Sudah saatnya penguasaan Bahasa asing khususnya bahasa Inggris tidak dapat ditawar-tawar lagi, apalagi di dalam menghadapi era masyarakat Asean di tahun 2015 ini. Jika tidak, kita harus rela menjadi orang asing di negara kita sendiri. Oleh karena itu, harus ada suatu keinginan yang kuat (strong desire)  untuk memberdayakan penguasaan terhadap Bahasa Inggris ini. Kita harus berani membuat suatu penetrasi dalam membudi-dayakan kemampuan bahasa Inggris ini di kalangan masyarakat dan bangsa kita. Tidak ada yang salah memang. Namun kita semua, pada posisi masing-masing mempunyai andil di dalam menciptakan suatu situasi di mana ‘memaksa’ kita untuk menggunakan bahasa Inggris ini di dalam keseharian kita. Dan untuk itu Sekolah sebagai suatu institusi formal yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kecerdasan  bangsa harus memandang kondisi di atas sebagai suatu tantangan untuk mau berbuat lebih di dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut.

2.  Rumusan Masalah

Agar jelas bagi kita untuk melangkah maju di dalam menanggapi fenomena di atas, maka permasalahan yang muncul dapatlah dirumuskan sebagai berikut.

1). Sejauh mana pentingnya paradigma baru dalam pengajaran Bahasa Inggris?

2).   Apakah ada pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran Bahasa Inggris?

  1. Tujuan Penulisan

1).  Untuk memberikan perbendaharan pengetahuan bagi guru-guru bahasa Inggris akan adanya usaha untuk meningkatkan kwalitas pengajaran bahasa Inggris di sekolah.

2).  Untuk memberikan masukan yang bermanfaat bagi guru-guru bahasa Inggris akan adanya paradigma baru pengajaran bahasa Inggris yang seharusnya dikembangkan disekolah.

 TINJAUAN PUSTAKA

 1. Pengertian Paradigma

Menanggapi kondisi di atas, adalah penting bagi kita untuk  mempunyai paradigma yang jelas dalam memandang sesuatu. Karena hal ini dapat menuntun kita untuk meraih sesuatu yang lebih berguna bagi kehidupan kita sendiri maupun orang lain. Lewat paradigma yang dimiliki diharapkan dapat membantu kita untuk memecah kebuntuan yang kita hadapi dalam kehidupan sosial kita. Sehingga Thomas Kuhn dalam bukunya “The Structure of Science Revolusion” menjelaskan paradigma dalam dua sisi. Di satu pihak dia memandang paradigma  merupakan suatu keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain ia menjelaskan bahwa paradigma sejenis unsur pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas. Pada pengertian yang ke dua dari Kuhn ingin mengajak kita untuk merefleksikan diri dalam kehidupan sehari-hari terlebih pada saat di di mana segala sesuatu terlalu menjadi teka-teki bagi kita. Kita harus terus berusaha menemukan solusi terbaik dari teka-teki hidup kita itu dengan berupaya menemukan cara terbaik untuk keluar dari teka-teki itu.

Sangat penting bagi kita untuk memiliki suatu paradigma dalam setiap menghadapi persoalan hidup kita sehari-hari.  Karena lewat paradigma itu kita terbantu untuk  merumuskan apa yang seharusnya kita pelajari,  persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.  Kamus psychology menjelaskan paradigma diartikan sebagai  1) suatu model atau pola untuk mendemonstrasikan semua fungsi yang memungkinkan kadar dari apa yang tersajikan . 2) rencana riset berdasarkan konsep-konsep khusus, dan, 3) satu bentuk experimental. Dari penjelasan ini sangat mungkin bagi kita bahwa, lewat paradigma dapat membantu kita untuk selalu berusaha menemukan model atau pola terbaru untuk membimbing kita mencapai hasil yang menggembirakan dari suatu usaha dalam bidang ilmu pengetahuan, juga kita dituntut untuk selalu berexperimen terhadap sesuatu yang baru guna membuat apa yang hendak kita lakiukan itu lebih berhasil guna. Karena secara etimologi arti paradigma adalah suatu model dalam teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir.

Suatu paradigma hanya bisa cocok digunakan  untuk suatu bidang ilmu pada suatu permasalahan dan pada suatu periode tertentu. Karena jika kita mengikuti pendapat Kuhn di atas maka lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya terikat oleh ruang dan waktu. Dari sinilah kita sedapat mungkin selalu berinovasi terhadap sesuatu dalam hubungannya dengan suatu ilmu pengetahuan agar tidak ketinggalan oleh derasnya arus perubahan di segala bidang kehidupan kita. Kita diminta untuk tidak bertumpu pada sesuatu yang kita yakiini adalah baik yang pada dasarnya sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman,  jika kita ingin berusaha untuk mendapatkan  suatu yang terbaik untuk diri kita juga orang lain. Maka menjadi keharusan bagi kita untuk berpindah dari suatu paradigma ke paradigma lain jika hal itu mampu memberikan ‘mutiara’  dalam usaha dan perjuangan kita. Untuk sampai pada titik itu, pastilah bukan hal yang mudah. Kita butuh suatu perjuangan yang besar yang harus pula didukung oleh hal-hal yang lain yang membuat kita memiliki semangat juang yang tinggi untuk terus berkreasi memanfaatkan setiap potensi diri kita dalam meraih mutiara tersebut di atas.

Memiliki paradigma berarti juga memiliki kemampuan memandang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup kita. Jika sesuatu yang kita pandang itu ternyata baik, maka kita butuh suatu keberanian untuk merubah sesuatu yang yang sudah ada, sudah kita miliki dan gunakan dengan  sesuatu yang  lebih baik itu. Di sinilah Patton (1975) mendefinisikan paradigma sebagai “A world view, a general perspective, a way of breaking down of the  complexity of the real world”. (Suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata). Sesuatu yang baik menurut patton ini adalah yang mampu menjawab problematika yang tengah kita hadapi saat ini. Seiring dengan itu kamus filsafat juga menjelaskan bahwa paradigma merupakan cara pandang sesuatu yang sekaligus menjadi dasar untuk menyeleksi  problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Dari pengertian paradigma di atas jelaslah bagi kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita membutuhkan suatu paradigma yang jelas yang mampu membawa kita kepada suatu perubahan yang lebih baik. Paradigma yang kita miliki haruslah sesuai dengan apa yang ingin kita lakukan, apa yang menjadi problema dalam hidup kita yang harus kita pecahkan dan apa yang harus kita perjuangkan untuk mendapat sesuatu yang terbaik dalam hidup kita. Kita butuhkan suatu keberanian yang luar biasa untuk keluar dari kebuntuan dalam usaha untuk memperbaiki apa yang sedang kita hadapi, betapapun kita butuh dukungan yang berarti dari pihak-pihak yang terkait agar apa yang kita impikan pada gilirannya menjadi kenyataan. Memang berat. Akan tetapi jangan putus asa, apabila apa yang kita pandang itu baik yang dapat memecah kebuntuan dan mampu menunjang perjuangan kita, dan apabila kita siap melaksanakannya dengan iklas maka pada saatnya akan memberikan mutiara  yang luar biasa bagi kita.

2. Pembahasan

Dalam pengajaran bahasa Inggris tidaklah cukup bagi para guru bahasa Inggris untuk bertahan dalam menggunakan suatu metode pengajaran dalam kesehariannya. Guru bahasa Inggris mempunyai tugas untuk menjawab  kondisi real di atas dalam usaha menjadikan bahasa Inggris sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk menghadapi percaturan global yang semakin keras ini. Oleh karena itu guru bahasa Inggris sangatlah diharapkan menemukan suatu pendekatan yang membuat para siswa menyenangi pengajaran bahasa Inggris, sehingga dengan demikian para siswa mau belajar dengan hati yang senang, gembira dan sungguh-sungguh dan kemudian mampu menggunakannya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Untuk membuat situasi ini terjadi, kreatifitas guru dalam menciptakan iklim belajar yang menyenangkan sangatlah diharapkan. Situasi pembelajaran bahasa Inggris yang harus ada  seperti misalnya, teknik menyapa siswa di saat memulai pelajaran, bagaimana memulai pelajaran. Guru bahasa Inggris hendaknya tidak langsung masuk pada materi pelajaran yang akan diajarkan pada hari itu. Mulailah dengan menciptakan suat kondisi yang membuat siswa bisa tersenyum atau malah tertawa sebelum memulai pelajaran. Untk membuat mereka tertwa, guru haruslah berkreasi dengan menampilkan apa saja yang langsung bersentuhan dengan hati para siswa. Misalnya, membuat kuis yang segar, atau bercerita tentang suatu kehidupan yang dirasakan langsung oleh para siswa, dsb.  Guru harus juga berusaha mendekati siswa secara pribadi untuk memberikan motivasi dengan pertanyaan – pertanyaan tentang bagaimana belajar bahasa Inggris. Kedekatan emosional dengan para siswa itu sangatlah penting dan patut  selalu dijaga agar siswa merasakan kehadiran guru memang sangat dibutuhkan. Di sinilah guru harus memiliki kepekaan positif bagaimana mengelola kelas di saat siswa tengah belajar dan mengalami kesulitan dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Jangan biarkan para siswa berjuangan memecahkan kesulitannya tanpa ada guru di sampingnya. Pada kondisi ini guru bahasa Inggris harus mampu memposisikan dirinya sebagai teman belajar yang siap membantu para siswa. Teman belajar, dimaksudkan bahwa, guru harus memposisikan dirinya untuk menjadi orang disenangi tapi tetap disegani, dan hindari perasaan ‘ditakuti’ oleh siswa dalam belajar. Pada posisi yang demikian dapat memungkinkan para siswa untuk selalu menantikan guru tersebut jika jam pelajaran itu tiba.

Untuk menjawab sekaligus memecah kebuntuan seperti yang dilukiskan di atas, maka penulis menyodorkan ada dua paradigma pengajaran bahasa Inggris yang harus diketahui oleh para guru bahasa Inggris. Paradigma pengajaran yang pertama adalah, yang menekankan gramatika bahasa, yang selanjutnya dikenal dengan learn English to use (belajar dulu barulah menggunakan). Pada paradigma ini, pengajaran bahasa Inggris selalu mengutamakan penguasaan pengetahuan tata bahasa Inggris sebanyak-banyaknya. Pola pendekatannya selalu menggunakan GTM (grammatical translation method) di mana porsi penekanan pengajaran tata bahasa sangat besar. Siswa diharapkan menghafal sebanyak-banyaknya semua aturan tata bahasa yang diberikan dengan tidak terlalu mempedulikan latihan penggunaan bahasa Inggris itu dalam praktek hidup sehari-hari. Hal iini pada akhirnya memunculkan kemampuan siswa dalam bahasa Inggris adalah penguasaan secara gramatikal, kemudian jika kembali ke masyarakat para siswa menjadi sulit sekali untuk mengimplementasikan kemampuan berbahasa Inggrisnya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Inilah yang kemudian mengakibatkan siswa kita memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang pasif. Jika selesai di suatu tingkatan pendidikan, bisa kita bayangkan mereka akan mengalami kesulitan yang luar biasa manakala menghadapi suatu situasi kompetitif yang menghendaki kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris. Mereka praktis tersingkir untuk mendapatkan peluang yang lebih baik dan menunggu jika ada peluang lain yang lebih rendah yang tidak terlalu menuntut penguasaan kemampuan berbahasa Inggris. Inilah kondisi riil yang harus kita sikapi dengan bijaksana, karena kita semua bertugas  untuk membawa anak-anak bangsa kita untuk tidak menemukan situasi hidup yang seperti diungkapkan di atas.

Paradigma kedua adalah Use English to learn (Gunakan dulu barulah belajar). Pada paradigma pengajaran bahasa Inggris ini, pola pendekatannya adalah Communicative Approach, di mana guru bahasa Inggris berupaya sekuat tenaga untuk menggiring para siswa mengutamakan latihan berbicara. Diawali dengan greeting  pada saat memasuki kelas, guru terus berusaha  berinteraksi dengan para siswa dalam bahasa Inggris. Para siswa diharapkan dapat didorong untuk berbicara bahasa Inggris di saat bertanya kepada guru atau menjawab pertanyaan ataupun dalam menyampaikan pendapat. Guru harus mau ‘membiarkan’ para siswanya membuat kesalahan gramatikalnya dalam berbicara bahasa Inggris, dan tidak selalu dikoreksi setiap kesalahan yang terjadi. Pada posisi ini guru diharapkan membuat catatan tentang kesalahan apa saja yang terjadi pada saat siswa berbicara. Setelah selesai proses pembelajaran, pada bagian penutup barulah guru memberikan umpan balik (feedback) terhadap apa saja yang ada dalam catatan guru tersebut. Guru menjelaskan semua kesalahan siswa, baik dari segi grammar, intonasi, pengucapan, diksi dan atau ungakapan-ungkapan yang digunakan. Di sinilah penekanan pembelajaran tentang grammar terjadi. Grammar hanya dipelajari setelah siswa selesai belajar menggunakan bahasa Inggris dalam situasi pergaulan sehari-hari baik di situasi resmi atau tidak resmi sesuai dengan topik yang diajarkan pada saat itu. Sehingga dalam paradigma pengajaran ini, porsi latihan penggunaan bahasa Inggris jauh lebih besar dari pada pengajaran tentang tata bahasa (grammar).

Dari uraian diatas dapatlah dikatakan bahwa bukan berarti pengajaran tata bahasa itu tidak penting. Dalam mempelajari bahasa apa saja, tata bahasa (grammar) sangat penting untuk diketahui. Karena Sophie Loannou, mengungkapkan bahwa, “The ultimate goal of teaching grammar is not for children to learn forms and abstract rules but also to be able to convey their intended meaning effectively.” Bagaimana mungkin kita bisa mengerti seseorang dan dimengerti oleh orang lain apabila kita berbicara dengan tata bahasa yang kacau dan tidak teratur. Sehingga lebih lanjut, Sophie mengatakan bahwa, “Although communication is the primary goal, no one can communicate effectively and appropriately if their use of language is inaccurate.” Lewat tata bahasa yang baik dan benar pasti akan membawa kita kepada suatu interaksi  sosial yang lancar, saling mengerti dan memahami, dan akhirnya menjadi cerminan kepribadian kita sendiri dalam berbahasa (language always mirrors the personality of the users). Oleh karena itu, bagaimanapun, tata bahasa sangat penting untuk dipelajari. Namun haruslah disadari bahwa, bahasa itu harus diucapkan dan bukanlah dituliskan semata (language is spoken not writing). Inilah bedanya antara seorang yang berqualifikasi bahasa dengan orang yang berqualifikasi disiplin ilmu lainnya. Seorang yang berqualifikasi bahasa akan diketahui kompetensinya lewat sejauh mana ia mampu berbicara dengan baik dan benar dari bahasa yang menjadi bidangnya itu, akan tetapi seorang dari disiplin ilmu lain akan ketahuan kompetensinya setelah yang bersangkutan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan bidang keahliannya.

Paradigma use English to learn seperti digambarkan di atas merupakan paradigma baru pengajaran bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh para guru bahasa Inggris sebelum  mempersiapkan diri untuk tampil di depan kelas. Bahwa mengajar bahasa Inggris berarti kita mengajar orang lain (siswa) untuk bisa menggunakan bahasa Inggris itu dalam kesehariannya. Oleh karena itu kelas bahasa Inggris haruslah diupayakan menjadi suatu kelas di mana situasi komunikatif sungguh mewarnai  proses yang ada dalam kelas itu. Ada kesempatan siswa berbicara, ada kesempatan siswa berargumentasi dengan bebas namun terarah dan ada kesempatan siswa di bawah bimbingan guru bernyanyi atau memainkan kegiatan lain yang pada prinsipnya membawa para siswa untuk terus berlatih berbicara bahasa Inggris. Dengan demikian kelas bahasa Inggris diharapkan menjadi kelas yang lebih ‘hidup’ dibandingkan kelas yang lain. Jika kita sudah sampai pada titik itu, maka kebuntuan yang kita hadapi selama ini di mana siswa hanya bisa menghafal konsep-konsep kebahasaan  tanpa bisa menggunakannya secara aktif di masyarakat terpecahkan. Dan inilah ciri dari model pembelajaran yang dikembangkan di kursus-kursus bahasa Inggris. Kita bertanya, kenapa orang yang hanya mengikuti kursus bahasa Inggris selama tiga atau enam bulan akhirnya bisa berbicara bahasa Inggris, sedangakan di tingkat sekolah bahasa Inggris diajarkan selama bertahun-tahun namun tidak bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik. Jawaban  atas pertanyaan ini mungkin baik menjadi permenungan kita semua sehubungan dengan paradigma pengajaran bahasa Inggris yang kita anut seperti yang dijelaskan di atas.

Pasti kita semua sepakat, bahwa apabila anak didik kita pada gilirannya mampu meraih sukses di masyarakat karena memiliki kemampuan yang merupakan hasil jerih payah kita, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia. Jika demikian maka, kita juga harus sepakat bahwa mengajar itu seni (teaching is an art). Lewat pemahaman ini, kita sebagai guru bahasa Inggris harusnya belum puas apabila siswa kita belum mampu berbicara bahasa Inggris. Untuk sampai pada tingkat ini, kita, para guru bahasa Inggris selalu selalu mengusahakan agar kelas bahasa Inggris itu merupakan kelas yang penuh dengan warna warni kebahasaan di mana kita dan para siswa sibuk berlatih untuk membuat yang terbaik dalam penggunaan bahasa Inggris.

Dalam berekspresi kebahasaan, kita harus ‘membiarkan’ para siswa menyampaikan pendapat, pertanyaan ataupun jawabannya  yang variatif saat mereka berbicara bahasa Inggris, baik dari segi ungkapan bahasa Inggrisnya, pilihan katanya, ataupun terminologynya. Yang paling penting dilakukan oleh kita guru bahasa Inggris adalah berusaha sekuat tenaga agar tujuan kita membuat anak itu menguasai pengetahuan bahasa Inggris baik tertulis maupun lisan, tercapai dengan baik. Itulah yang menjadi kebahagiaan kita guru bahasa Inggris yang berhasil menjadikan pengajaran bahasa Inggris sebagai suatu seni dalam kehidupan karier kita.

PENUTUP

 1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa adalah sangat penting bagi kita untuk terus membuat suatu terobosan yang baru yang dapat meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Inggris, agar para siswa kita akhirnya dapat menyenangi pengajaran bahasa Inggris sehingga pada saatnya mereka kembali ke masyarakat atau dunia kerja, mereka mampu bersaing dengan para pencari kerja dari manapun mereka berasal.

Paradigma baru yang ditampilkan dalam makalah ini penting sekali untuk dikembangkan di sekolah-sekolah kita, apalagi kita yang berkecimpung di sekolah kejuruan yang sudah menjadi kewajiban kita dalam  mempersiapkan para lulusan kita untuk bersaing dengan orang lain, bukan hanya dari segi kompetensi mereka masing-masing, tapi juga kemampuan berbahasa Inggris yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Dengan demikian, jika kita telah mengaplikasikan paradigma baru di atas dengan konsekuen, maka pasti akan membawa pengaruh yang signifikan terhadap kualitas pengajaran bahasa Inggris. Dengan terus didorong untuk berbicara bahasa inggris, para siswa kita akhirnya terbiasa untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris jika suatu saat mereka diperhadapkan ke suatu situasi yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Karena hal ini sudah berhasil dibuktikan oleh lembaga-lembaga kursus Inggris

2. Saran – Saran

Dari kesimpulan di atas,  penulis menyampaikan beberapa saran, sbb :

1).  Bagi para guru bahasa Inggris hendaknya menjadikan paradigma baru di atas sebagai pendekatan yang harus dikembangkan pada waktu mengajar bahasa Inggris di kelas.

2).   Untuk dapat melaksanakan paradigma baru di atas, para guru bahasa Inggris  hendaknya terus meningkatkan kreatifitasnya untuk pada waktu mengajar sehingga kelasnya menjadi jauh lebih hidup dari biasanya.

3).   Bagi sekolah hendaknya memperhatikan dan mengapresiasi kreatifias guru dalam pengembangan paradigma baru ini, dalam bentuk dukungan terhadap apa saja yang dibutuhkan oleh para guru agar mereka tetap bersemangat.

Daftar Rujukan

 Georgo, Sophie loannou & Pavlos Paclou, 2013. Assessing Oung Learners,  Resource  Book for Teachers, series editor, Ala Maley. Oxford University Press, New York

http://elanulaela.blogspot.com/2011/03/ pengertian-paradigma.html.

*) Drs. Yoseph Payong Ado, M. Pd adalah guru senior bahasa Inggris pada SMK Negeri 1 Samarinda, Dosen Bahasa Inggris pada S T Kateketik Pastoral Katolik, Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda, Dosen Bahasa Inggris pada FaHutan Universitas Mulawarman Samarinda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s