Belajar Jangan Dipaksa

Penulis: Drs. Yoseph Payong Ado, M. Pd.

Pertumbuhan dan perkemangan setiap organ dalam diri seorang anak manusia itu membutuhkan proses. Proses itu berjalan seiring dengan bertambahnya usia si anak tersebut. Dengan demikian maka terdapat adanya tahap-tahap perkembangan psikologis dalam diri seorang anak manusia yang harus dilewatiya. Dari sinilah seorang anak itu berkembang dan tumbuh menjadi pribadi yang matang. Untuk mendapatkan pribadi yang matang, maka tahapan-tahapan perkembangan psokologis itu haruslah dilaluinya dengan baik dan teratur. Analoginya, adalah YosephPADsangat tidak mungkin seorang anak  yang belum bisa berjalan akan tetapi menuruti keinginan orangtuanya maka dipaksa untuk bisa jalan. Hal ini akan berdampak sangat fatal bagi berkembangan anak tersebut selanjutnya.

Demikian halnya dengan proses belajar mengajar di sekolah, guru janganlah sekali-kali memaksa anak didiknya untuk belajar. Karena belajar itu pun memerlukan proses yang panjang. Belajar tidak bisa terjadi atas inisiatif guru, tapi, biarkanlah itu menjadi inisiatif dari anak atau peserta didik itu sendiri, sehingga dapat memberi hasil yang luar biasa. Demikianlah ide dasar teori belajar kognitif (Discovery learning) oleh Jerome Bruner (1966), menjelaskan bahwa, siswa akan mudah mengingat suatu konsep jika konsep tersebut mereka dapatkan sendiri melalui proses penemuan (discovery).  Guru, selanjutnya, disebut sebagai orangtua di sekolah, haruslah bertindak sebagai fasilitator, yang bertugas untuk membimbing, mengarahkan dan menuntun para peserta didik untuk belajar menemukan apa yang menjadi kerinduannya untuk masa depannya. Guru, harus memandang peserta didiknya sebagai pribadi yang unik, yang di dalamnya terdapat berbagai macam potensi yang siap dikembangkan untuk menjadi sesuatu yang luar biasa. Untuk itu, maka tugas guru adalah memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengembangkan potensinya di bawah kendali guru. Dengan begitu, maka, pada gilirannya, anak dapat menemukan dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang handal dalam hidupnya di kemudian hari.

Anak juga harus dipandang sebagai pribadi yang memiliki bakat yang luar biasa dalam dirinya yang pasti berbeda satu dengan yang lainnya. Pada titik ini, kehadiran guru juga dibutuhkan untuk mendampingi dan melatih serta memberi peluang untuk anak atau peserta didik itu mengembangkan bakat yang mereka miliki itu. Sehingga, David Ausebel (1969) mengatakan bahwa, “guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna”.  Jika hal ini terjadi, maka peserta didik nantinya akan dapat memanfaatkan bakat yang dimilikinya untuk kemajuan dan perkembangan diri sendiri dan orang lain di masyarakat. Waren, dalam bukunya, “Dictionary of psychology” mengatakan,”Bakat (aptitude) dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi atau disposisi-disposisi tertentu yang menggejala pada kecakapan seseorang untuk memperoleh dengan melalui latihan satu atau beberapa pengetahuan keahlian atau suatu respon seperti kecakapan untuk berbahas, musik dsb”.  (Blum and Balinsky, Counseling anPsychology, Hal. 74). Jelas bagi kita bahwa, tidak perlu memaksa anak  untuk belajar menguasai suatu kecakapan tertentu  yang berasal dari guru. Guru hendaknya hanya ‘menggerakan’ setiap organ yang ada dalam diri si anak untuk dapat di latih secara maksimal dan biarlah kecakapan apapun yang muncul dari diri si anak, maka itulah bakat dan keahlian  si anak yang harus dikembangkan secara terus menerus untuk menjadikan ‘mutiara’ bagi masa depannya.

Crow and Crow  dalam bukunya, “General Psychology”  juga menjelaskan bahwa, “Bakat (aptitude) adalah suatu kualitas yang nampak pada tingkah laku manusia pada suatu lapangan keahlian tertentu seperti musik, seni pengarang, kecakapan dalam matematka, keahlian dalam bidang mesin, atau keahlian-keahlian lainnya”. (Crow and Crow, General syhology; 129).  Dari sinilah dapatlah disimpulkan bahwa bakat itu merupakan suatu disposisi.  Dalam hal ini disposisi kadang dapat berkembang dan juga kadang tidak dapat berkembang. Semuanya tergantung pada adanya kesempatan berlatih atau tidak. Jika, si anakmempunyai kesempatan yang cukup untuk berlatih, maka disposisi itu dapat berkembang secara maksimal. Sebaliknya, jika si anak tidak mempunyai kesempatan untuk berlatih, maka disposisi itu tidak berkembang. Apabila disposisi berkembang maka akan membawa si anak kepada suatu kehidupan yang lebih baik di asa yang akan datang, jika, tidak berkembag, maka selanjutnya disposi itu dikatakan sebagai bakat yang terpendam.

Untuk itulah, belajar janganlah dipaksa. Biarkanlah anak menemukan dirinya sendiri akan kecakapan atau keahlian apa yang bakal dimilikinya lewat latihan atau pendidikan yang diarahkan oleh guru. Dalam belajar dan latihan tersebut, guru juga perlu memahami bahwa daya tangkap seorang anak berbeda dari satu dengan yang lainya. Karena bakatpun mempunyai kualitas tertentu yang berbeda satu dengan yang lain pada diri seorang anak manusia normal. Jika dipaksakan maka  akan mengalami hambatan yang berarti di dalam perkembangan kognitif dan psikomotoriknya. Sehingga, adalah, salah sekali, jika guru menginginkan dan memaksa anak harus pintar seketika di saat selesai guru mengajar. Karena urusan pintarpun memerlukan proses yang pajang. Kalau memerlukan proses, maka guru perlu memberikan kesempatan yang seluas-luasnnya kepada anak untuk mengasah organ berpikirnya guna melewati proses untuk sampai pada tingkat kecakapan tertentu. Jika hal ini yang terjadi, maka belajar tida merupakan sesuatu yang membebani, akan tetapi justru menjadi sesuatu yang mejadi kebutuhan para peserta didik. Untuk itu, di dalam proses belajar ini, timingya pun harus diperhatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan para peserta didik. Artinya, bahwa, tidak semua waktu digunakan untuk belajar. Harus ada pemanfaatan waktu yang sebak-baiknya, kapan mereka harus belajar, kapan mereka harus beristirahat. Jangan ‘dirampas’ waktu istirahat para peserta manakala sudah waktunya untuk mereka beristirahat, tapi tetap dipaksakan untuk belajar, dengan alasan supaya dapat menguasai materi yang sedang diberikan itu.

Berangkat dari uraian di atas, belajar itu juga memerlukan penciptaan suasana yang menyenangkan, yang membuat para peserta didik memiliki kerinduan besar untuk ‘menikmati’ proses belajar itu.  Maka, keberadaan guru di depan peserta didik haruslah memberikan nuansa kekeluargaan yang dirasakan oleh para peserta didik, seperti jika mereka berada di rumah. Nuansa tersebut memungkinkan suasana kelas yang harmonis yang mencerminkan kedekatan emosional yang sangat apik antara guru dan peserta didik sehingga apa yang disampaikan oleh guru bukanlah merupakan sesuatu yang ‘terpaksa’ mereka terima, akan tetapi menjadi suatu kebutuhan yang bagi para peserta didik terbersit kerinduan bahwa sayang kalau tidak dikuasai dengan baik. Para peserta didik harus di bawah kepada pemahaman yang demikian, sehingga belajar akan menjadi kebutuhan bagi para peserta didik dalam rangka ,mempersiapkan masa depan yang cemerlang dan bukan sesuatu dipaksakan.      Semoga!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s