Drama: Pengaruh Buruk Teman

TEMA: PERGAULAN REMAJA

JUDUL: “PENGARUH BURUK TEMAN”

Penulis: Fahira Sabila Y dan teman2 XII UPW1 SMK 1 Samarinda

PEMAIN :
– Dwi Apriliana : Dwi, Teman Yohana
– Elisa Fitriani : Elisa, Teman Yohana
– Nafi’ah Amin M. : Nafi’ah, Teman Yohana
– Tasbiah : Ibu dari Farchan dan Yohana
– Yohana Elvira : Yohana, Adik Farchan
– Guruh Saputra : Guruh, Anggota Geng
– Jimmi Maulana : Jimmi, Anggota Geng
– Khalifaturrahman : Bapak dari Farchan dan Yohana
– Muhammad Ilyas : Ilyas, Bos Geng
– M. Farchan Jihad S. : Farchan, Kakak Yohana

Sinopsis:
Disuatu sekolah, terdapat beberapa murid yang sibuk membicarakan murid pindahan di sekolah mereka. Siswa baru tersebut adalah Farchan dan Yohana. Kakak-Adik yang baru saja pindah dari luar kota. Mereka berdua sama-sama sudah kelas 12. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Dan apa hubungannya dengan judul “Pengaruh Buruk Teman”? Mari kita lihat bersama-sama.

Narasi:
Terdapat 3 orang siswi yang suka bergosip sedang sibuk membicarakan sesuatu pada pagi hari itu. Yaitu Dwi, Elisa, dan Nafi’ah. Terlihat Elisa yang bersemangat sekali bercerita.

Elisa, Nafi’ah, Dwi masuk
Elisa: “eh, tau ga? Katanya ada anak baru taulah”
Nafi’ah: “ih masa sih??
Dwi: “Kamu tau darimana?”
Elisa: mendengus “ya taulah. Udah nyebar kali. Katanya sih bersaudara gitu”

Yohana masuk
Elisa: “nah yang itu tuh”
Dwi: “kakaknya kelas 12 juga kan?”
Elisa: “iya kelas 12 juga. Cuma dia kelasnya diatas”
Nafi’ah: “gimana kalo kita ajak ngobrol? Kasian tau sendirian gitu kaya jones”
Eisa: sewot “Ih ngaca dulu bisa kali”

Dwi: “Ah, udah ayo samperin aja”
Mereka bertiga mendekati Yohana
Dwi: “Kamu anak Jakarta ya?”
Yohana: terkejut “Engg, iya”
Elisa: “Kenalan dong. Aku Elisa. Ini namanya Dwi, terus ini Nafi’ah”
Yohana: “Oh iya, nama ku Yohana”
Elisa: “hah? Kamu dari Jakarta tapi namamu kaya Timur gitu ya”
Dwi: mencubit kecil Elisa “Namanya bagus kok. Maaf ya, dia emang suka gitu. Mulutnya kemana-mana”
Yohana: “Iya gapapa kok”
Nafi’ah: berbisik ke Elisa “Yang kamu bilang bener sih. Tapi ga bilang secara langsung gitu juga kali”
Elisa: berbisik ke Nafi’ah “Ya, tapi bener kan?”

Dwi, Nafi’ah, Yohana, Elisa keluar

Narasi:
Lalu terjadilah pula perbincangan antar siswa Guruh, Jimmi, dan Bos Genk mereka yang terkenal bengal di sekolah tersebut

Guruh, Jimmi, Ilyas, masuk
Guruh: “eh, denger-denger ada anak baru tuh”
Jimmi: “coba ajakin nongkrong gimana yas?”
Ilyas: “Jangan dulu lah. Kita mulai pelan-pelan aja dulu”
Guruh, Jimmi, Ilyas, keluar

Narasi:
Lalu pada saat jam istirahat berlangsung, semua anak-anak berhamburan ke kantin. Termasuk Farchan dan Genk Bengal. Disaat yang bersamaan Dwi, Elisa, Nafi’ah, dan Yohana juga ke kantin.

Farchan masuk

Farchan: “Laparnya heh. Apa mau dimakan penuhnya begini?”
Guruh, Jimmi, Ilyas, masuk
Jimmi: menabrak Farchan “Eh, sorry ga sengaja”
Farchan: “Eh iya gapapa”
Guruh: berbisik ke Ilyas “Yang ini sudah yas orangnya”
Ilyas: “Ohh” mengangguk lalu merangkul Farchan “Anak baru ya? Aku Ilyas. Ini Jimmi, yang ini Guruh”
Farchan: canggung “Oh iya, aku Farchan”
Ilyas: “Kamu diem aja daritadi disini. Mau makan?”
Farchan: “Iya. Tapi penuh begini”
Ilyas: “Ahh, gampang lah kalo itu. Jim, Gur, kayak biasa. Kamu mau apa han?” menyuruh Jimmi dan Guruh untuk membeli makanan
Farchan: “Gausah lah yas. Aku bisa sendiri”
Ilyas: “Ahh udahlah, anggap aja sebagai salam perkenalan. Jadi kamu mau apa?”
Farchan: ragu-ragu “Hmm, yaudah aku mau nasi campur. Makasih loh yas”
Ilyas: “Oke bro” kemudian sedikit berteriak kepada Guruh dan Jimmi “Sama nasi campur satu!”

Guruh dan Jimmi menatap bingung Ilyas

Ilyas memainkan mata
Guruh: berbisik ke Jimmi “Tumben begitu”
Jimmi: “Gatau juga”

Narasi:
Disaat yang bersamaan, Dwi, Elisa, Nafi’ah, dan Yohana pun melihat mereka.

Dwi, Elisa, Nafi’ah, Yohana, masuk
Elisa: mendengus “Hhhhh penuh banget”
Nafi’ah: “Ga pernah sepi apa ini kantin?”
Dwi: “Udah buruan pesen. Ntar keburu habis”
Yohana: melihat Farchan “Itu kakakku”

Dwi, Elisa, Nafi’ah, melihat Farchan
Dwi: “Oh, yang tinggi, putih itu ya?”
Yohana: “Iya yang itu”
Nafi’ah: “Siapa nama kakakmu?”
Yohana: “Farchan”
Dwi: “Tapi kok seangkatan?”
Yohana: “Iya aku telat sekolah sebenarnya”
Dwi, Elisa, Nafi’ah, mengangguk paham
Elisa: “Eh, coba liat dia (Farchan) sama siapa”
Nafi’ah: “Astaga! Iya! Sama mereka!”
Yohana: “Loh? Memangnya ada apa sama mereka?”
Dwi: menghela nafas “Mereka bertiga itu murid bengal disekolah ini. Yang itu namanya Ilyas, itu Guruh dan sampingnya itu Jimmi. Mereka sudah sering bikin masalah. Tapi, karena orang tua Ilyas donatur utama sekolah, pihak sekolah jadinya enggan untuk mengeluarkan Ilyas. Termasuk Guruh dan Jimmi”
Elisa: “Mending kakakmu itu berteman sama yang lain aja deh”
Nafi’ah: “Iya. Ntar bawa pengaruh buruk lagi”
Yohana: termenung
Semua pemain keluar

Narasi:
Jam istirahat pun berakhir. Mereka kembali ke kelas masing-masing. Farchan, Ilyas, Guruh, dan Jimmi pun kembali ke kelas bersama-sama.

Farchan, Ilyas, Guruh, Jimmi, masuk

Ilyas: “Han, pulang ini mau ga jalan sama kita?”
Farchan: “Mau kemana memangnya yas?”
Ilyas: “Yah, jalan aja. Ke café atau kemana kek”
Jimmi: “Iya mau ga?”
Guruh: “Kita emang biasa begini”
Farchan: “Hmm, kayanya ga hari ini deh yas maaf banget. Besok besok aja”
Ilyas: “Yahh, okelah”
Farchan: “Eh, aku mau ke wc dulu ya”
Guruh: “Iyaudah sana. Ngapain bilang-bilang? Kaya cewek aja” bercanda
Farchan: “Yahh, siapatau ada yang mau ikut”
Ilyas, Guruh, Jimmi: serentak “Idiihh”

Farchan keluar

Narasi:
Selagi Farchan pergi ke wc, Ilyas, Jimmi, dan Guruh pun memperbincangkan sesuatu

Guruh: “Yas, tumben baik?”
Jimmi: “Iya yas. Aku heran sama kamu”
Ilyas: “Aku udah bilang. Selow ajaa”
Guruh dan Jimmi: mengangguk
Farchan kembali ke kelas

Narasi:
Tak berapa lama setelah Farchan kembali ke kelas, jam pulang pun telah tiba. Para siswa pun keluar kelas dengan ramai..
Farchan: “Aku duluan ya!”
Ilyas: “Eh barengan aja kali. Sama sama aja”
Guruh: “Iya, ayok”
Jimmi: “Ayodah”
Semua pemain keluar

Narasi:
Dikelas lain, Yohana tergesa-gesa keluar kelas menemui kakaknya. Sebelum pulang, ia sempat berpamitan dengan teman-teman barunya itu.
Yohana: tergesa-gesa “Eh duluan ya! Sorry buru-buru!”
Dwi, Elisa, Nafi’ah: serentak “Hati-hati!”
Semua pemain keluar

Narasi:
Dilapangan, Yohana pun bertemu dengan Farchan, yang sudah menunggu nya. Ilyas, Guruh, dan Jimmi pun terlihat bersama Farchan.

Yohana, Farchan masuk
Yohana: berlari kecil menuju Farchan “Kak!”
Farchan: “Nah ini daritadi ditungguin juga”
Yohana: “Iya maaf. Kelas juga jauh begitu”
Ilyas: “Kak? Ini adekmu han?”
Farchan: “Iya ini adekku”
Guruh: “Adekmu cewek?”
Farchan: “Lah? Ga liat ini cewek?”
Guruh: “Hahahahaha. Kukira adekmu cowok”
Farchan: “Yah ini sih depannya aja cewek. Aslinya preman”

Yohana memukul Farchan

Yohana: kesal “Apasih kamu kak!?”
Farchan: “Aduh!”
Jimmi: “Kelas berapa adekmu han?”
Farchan: “Seangkatan juga sama kita. Cuma kelasnya diatas. Iyakan yon?
Yohana: mengangguk memasang muka datar
Farchan: “Eh duluan ya, udah dijemput nih!”
Ilyas, Guruh, Jimmi: “Yok, hati hati han”
Semua pemain keluar

Narasi:
Farchan dan Yohana pun pulang kerumah. Sesampainya dirumah, Yohana pun berbicara dengan Farchan.

Farchan, Yohana masuk
Yohana: “Kak, kamu temenan sama mereka?”
Farchan: “Iya. Baru juga kenal. Kenapa? Kamu tau mereka?”
Yohana: “Aku tau dari teman-temanku sih kak. Dan temanku bilang mereka itu premannya sekolah”
Farchan: “Ah, jangan sok tau kamu. Tadi itu Ilyas bayarin aku makan”
Yohana: “Yah kan kita juga baru disitu kak. Teman-temanku dikelas kan pasti sudah lebih tau seluk beluk nya”
Farchan: “Ah gatau lah. Capek. Aku mau istirahat”
Farchan keluar

Yohana: menghela nafas

Narasi:
Tak berapa lama, pulanglah kedua orang tua Farchan dan Yohana.

Bapak, Ibu masuk
Bapak, Ibu: serentak “Assalamualaikum!”
Yohana: “Wa’alaikumsalam. Bapak, Ibu, tumben sudah pulang?”
Ibu: “Iya kebetulan kerjaan dikantor ga banyak juga”
Bapak: “Dek, tolong ambilkan bapak minum. Bapak haus”
Yohana: “Iya pak, sebentar” mengambilkan minum
Bapak: sambil meminum air “Mana kakakmu?”
Yohana: “Lagi istirahat dikamar pak”
Ibu: “Gimana sekolahmu nak? Sudah ada teman baru?”
Yohana: “Sudah bu. Namanya Dwi, Elisa, Nafi’ah”
Ibu: “Syukurlah. Berteman yang baik ya.”
Bapak: “Belajarmu juga ditingkatkan dek”
Yohana: tersenyum “Siap pak, bu!”
Semua pemain keluar

Narasi:
Sedangkan Farchan dikamarnya, asik chattingan dengan Ilyas. Rupanya, Ilyas mengajaknya untuk nongkrong di pub.

Farchan masuk
Farchan: “Hmm, pergi ga ya? Ah pergi ajadeh. Mumpung ga ada kerjaan”

Farchan tergesa-gesa keluar. Ia terkejut melihat Ibu dan Bapaknya sudah pulang

Farchan: “Eh, tumben ibu sama bapak sudah pulang?”
Bapak: “Kamu kaya kaget banget ngeliat ibu sama bapak pulang cepat?”
Farchan: “Iyalah, tumben-tumbenan bapak sama ibu jam segini sudah dirumah”
Ibu: “Kamu mau kemana kak? Sudah rapi begitu?”
Farchan: berbohong “Iya. Aku mau jalan dulu bu sama teman-temanku. Ke café aja”
Bapak: “Sama teman baru mu?”
Farchan: “Iya pak”
Ibu: “Iya sudah. Jangan pulang terlalu larut malam”
Farchan: “Oke bu, pergi dulu ya!”
Bapak, Ibu: serentak “Hati-hati!”
semua pemain keluar

Narasi:
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Farchan pun pergi ke Pub yang sudah dikatakan oleh Ilyas.
Guruh: “Wehh, akhirnya datang jugaa”
Jimmi: “Sini han!”
Farchan: menyalami mereka satu persatu “Udah lama disini?”
Ilyas: “Engga kok. Baru 15 menitan”
Jimmi: menyodorkan rokok ke Farchan “Nih”
Farchan: sedikit terkejut “Aku belum pernah ngerokok”
Guruh: “Hah? Serius? Cupu hahahahahaha”
Ilyas: “Ya coba aja dulu han”
Farchan: akhirnya mencoba “Oh begini rasanya?”
Ilyas: menyodorkan minuman beralkohol “Nih, coba yang ini”
Farchan: “Apalagi ini?”
Guruh: “Yah, itu biar seger aja han”
Farchan: meminumnya sedikit “Uhg, agak keras rasanya”
Jimmi: “Tapi enak kan han?”
Farchan: “Iyasih hahaha”

Narasi:
Farchan pun akhirnya larut dengan suasana malam itu. Dan semenjak itu pula, perilaku Farchan menjadi jauh berbeda dari sebelumnya. Hampir setiap malam ia selalu keluar rumah entah kemana dengan Ilyas, Guruh, dan Jimmi. Yohana pun tidak dapat berbuat apa-apa karena kakaknya itu menjadi sulit sekali untuk ditegur, sedangkan kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka berdua jarang sekali berada dirumah karena seringnya keluar kota untuk urusan kerja.

Waktu pun berlalu. Sebentar lagi akan mendekati ujian akhir nasional. Yohana pun menjadi sangat kalut, karena selain sibuk menyiapkan ujian, ia juga mendapat surat peringatan dari sekolah untuk kakaknya. Karena sudah sering sekali kakaknya itu tidak masuk sekolah.

Dwi, Elisa, Nafi’ah, Yohana masuk
Yohana: muka sedih
Dwi: “Kamu kenapa?”
Nafi’ah: “Iya. Kamu murung terus belakangan ini”
Elisa: “Coba cerita kalo kamu mau”
Yohana: menghela nafas “Coba kamu lihat. Kakakku udah kesekian kalinya dapat surat peringatan. Orang tuaku sama sekali ga perduli soal ini. Mereka terus keluar kota. Sedangkan Farchan hampir setiap hari ga ketahuan pergi kemana. Setiap kali aku hubungin orang tuaku, pasti sibuk terus”
Dwi: “Coba kamu utarakan lagi sama kakakmu pelan-pelan. Atau hubungi langsung kantor orangtua mu”
Elisa: “Iya yon. Coba aja”
Nafi’ah: “Kalo butuh apa-apa, kamu bisa hubungin kita”
Yohana: mengangguk lesu
semua pemain keluar

Narasi:
Jam pulang telah tiba. Yohana pulang dengan lesu kerumah. Sesampainya dirumah, betapa terkejutnya ia dirumah melihat kakaknya dan ketiga temannya sedang dalam keadaan mabuk.
Yohana masuk
Yohana: membentak KAK! KAMU NGAPAIN MABOK-MABOKAN BEGINI DIRUMAH?!”
Farchan: dalam kondisi mabuk “Pub belum buka jam segini. Jadi ya dirumah aja. Hahahaha”
Yohana: “Kurang ajar kamu kak! Nih! Surat peringatan dari sekolah! Mau bilang apa kamu sama Bapak Ibu?!”
Ilyas: “Aduhh farchaannnn! Berisik banget sih adekmu!”
Guruh: “Coba kurung aja kek”
Farchan: “Ga punya kerangkeng aku bray. Hahahahahaha”
Jimmi: “Itu kuliat ada kandang kucing tadi. Hahahahaha”
Farchan: “Ga cukup po. Hahahahahaha”
Yohana: menggeram kesal

Narasi:
Dalam situasi seperti itu, tak disangka kedua orangtua Farchan dan Yohana pulang kerumah secara tiba-tiba setelah mereka dihubungi oleh pihak sekolah tentang surat peringatan Farchan.
Bapak: membentak “APA-APAAN INI?!”
Farchan, Ilyas, Guruh, Jimmi: terkejut
Ibu: membentak “FARCHAN!”
Bapak: “KELUAR SEMUANYA!”

Ilyas, Guruh, Jimmi keluar
Bapak: “Jadi begini kelakuan kamu selama bapak ibu ga ada?!”
Ibu: “Tega kamu begini han!”
Yohana: “Aku sudah berkali-kali coba telpon bapak sama ibu soal kakak. Tapi selalu sibuk”
Farchan: Emosi “Dengar apa yang Yohana bilang pak, bu? Untuk angkat telpon pun bapak ibu gabisa! Bapak sama ibu ga pernah punya waktu buatku! Selalu sibuk! Pernah terpikir sama bapak ibu rasanya jadi anak yang punya orangtua tapi ga dapat perhatian?! Bapak ibu kemana pas aku butuh?! Oh iya, aku lupa. Harta dan jabatan lebih penting buat bapak sama ibu!” keluar
Ibu: berteriak “Farchan!”
Yohana: “Aku sudah gabisa apa-apa pak, bu. Sudah seringkali kutegur dia, tapi tetap bebal”
Bapak: “Yang dibilang Farchan ada benarnya juga. Ini semua salah bapak sama ibu.”

Narasi:
Akhirnya Farchan pun pergi keluar rumah entah kemana. Sedangkan orangtua nya termenung menyesali kesalahan mereka. Bagaimanapun juga, anaknya menjadi seperti itu karena kurangnya perhatian dari mereka dan lingkungan yang buruk.

Moral:
“Seorang anak yang beranjak dewasa, sangatlah membutuhkan perhatian penuh dari orangtua untuk mengarahkan anaknya tanpa harus memaksakan kehendak, serta perlunya selektif dalam memilih teman agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.”

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s