Arsip

Keterampilan Proses

Oleh: FalahYu

Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri individu peserta didik. Pendekatan keterampilan proses sebagai pendekatan yang menekankan pada pertumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru yang bermanfaat baik berupa fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 77-78).

Sejalan dengan asumsi di atas, maka belajar-mengajar dipandang sebagai suatu proses yang harus dialami oleh setiap peserta didik atau peserta didik. Belajar mengajar tidak hanya menekankan kepada apa yang dipelajari, tetapi juga menekankan bagaimana ia harus belajar. Para guru dapat menumbuhkan dan mengembangkan potensi, kemampuan dan keterampilan-keterampilan peserta didik sesuai dengan taraf perkembangan pemikirannya.

Pendekatan Proses (pendekatan keterampilan proses) ini senada dengan pendekatan inkuiri, karena memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu : a) mendambakan aktivitas peserta didik untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber (misalnya dari observasi, eksperimen dan sebagainya); b) guru tidak dominan melainkan selaku organisator dan fasilitator. Pendekatan ini disebut pendekatan proses karena memiliki ciri-ciri khusus yang berkenaan dengan proses pengolahan informasi yaitu 1) ilmu pengetahuan tidak dipandang sebagai produk semata, tetapi dan terutama seagai proses; 2) anak didik dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan memproses informasi dalam pikirannya sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Misalnya terampil dalam observasi termasuk pengukuran (panjang, lebar, waktu, ruang, berat) keterampilan mengklasifikasi termasuk membedakannya berdasarkan berbagai aspek (bentuk, warna, berat dan sebagainya). Peserta didik juga dilatih untuk membuat hipotesis dan mengujinya melalui eksperimen. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:38).

Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan demikian, keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar peserta didik aktif. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan pendekatan proses. (Conny Semiawan dkk, 1985 :18).

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses adalah kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pengembangan keterampilan peserta didik dalam memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, sikap dan nilai.

Sehubungan dengan kerangka berpikir dalam pendekatan keterampilan proses bahwa pendekatan keterampilan proses dalam pelajaran IPA adalah suatu pendekatan dalam pelajaran IPA (Fisika, biologi) itu terbentuk dan berkembang melalui suatu proses ilmiah yang juga harus dikembangkan oleh peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna yang menjadi bekal perkembangan diri selanjutnya. Tujuan belajar dari pendekatan keterampilan proses adalah memperoleh pengetahuan suatu cara untuk melatih kemampuan-kemampuan intelektualnya dan merangsanag keingintahuan serta dapat memotivasi kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperolehnya. (Lambang Subagiyo, 2002:1).

Conny Semiawan dkk, merinci alasan yang melandasi perlunya diterapkan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari :
2. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada peserta didik.
Untuk mengatasi hal tersebut, peserta didik diberi bekal keterampilan proses yang dapat mereka gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tanpa tergantung dari guru.
3. Para ahli psikologi umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.
Tugas guru bukanlah memberikan pengetahuan, melainkan menyiapkan situasi menggiring anak untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep sendiri.
4. Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi, teori baru yang prinsipnya mengandung kebenaran yang relatif. Jika kita hendak menanamkan sikap ilmiah pada diri anak, maka anak perlu dilatih untuk selalu bertanya, berpikir kritis, dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Dengan perkataan lain anak perlu dibina berpikir dan bertindak kreatif.
5. Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak anak didik. Konsep disatu pihak serta sikap dan nilai di lain pihak harus disatu kaitkan. (Conny Semiawan dkk, 1985 : 15-16)

Pengembangan pendekatan keterampilan proses merupakan salah satu upaya yang penting untuk memperoleh keberhasilan belajar yang optimal. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai dan dihayati oleh peserta didik bila peserta didik sendiri mengalami peristiwa belajar tersebut. Selain itu, tujuan pendekatan proses ini adalah :
1. Memberikan motivasi belajar kepada peserta didik karena dalam keterampilan proses ini peserta didik dipacu untuk senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
2. Untuk lebih memperdalam konsep, pengertian, dan fakta yang dipelajari peserta didik karena hakikatnya peserta didik sendirilah yang mencari fakta dan menemukan konsep tersebut
3. Untuk mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan hidup dimasyarakat sehingga antara teori dengan kenyataan hidup akan serasi.
4. Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat sebab peserta didik telah dilatih untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah
5. Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggung jawab dan rasa kesetiakawanan sosial dalam menghadapi berbagai problem kehidupan. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 78).

Selanjutnya Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati mengemukakan kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses yang antara lain :
1. Pengamatan, yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan indera
2. Menggolongkan (mengklasifikasikan), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu. Untuk membuat penggolongan perlu ditinjau persamaan dan perbedaan antara benda, kenyataan, konsep sebagai dasar penggolongan
3. Menafsirkan (menginterpretasikan), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda, kenyataan, peristiwa, konsep dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan, penghitungan, penelitian atau eksperimen.
4. Meramalkan, yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecenderungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi. Misalnya, berdasarkan pengalaman tentang keadaan cuaca sebelumnya, peserta didik dapat meramalkan keadaan cuaca yang akan terjadi.
5. Menerapkan (aplikasi) yaitu menggunakan hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan. Melalui penerapan hasil belajar dapat dimanfaatkan, diperkuat, dikembangkan atau dihayati.
6. Merencanakan penelitian, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian. Keterampilan ini perlu dilatih karena selama ini pada umumnya kurang diperhatikan dan kurang terbina.
7. Mengkomunikasikan, yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, gerak, tindakan, atau penampilan. (Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, 2000 : 79).

Sementara itu Hendro Darmodjo dan Jenny RE. Kaligis merinci keterampilan-keterampilan proses dalam pendidikan IPA itu meliputi :
1. Keterampilan mengobservasi, yang meliputi kemampuan untuk dapat “membedakan”, “menghitung” dan “mengukur” termasuk mengukur suhu, panjang, luas, berat dan waktu.
2. Keterampilan mengklasifikasi, yang meliputi menggolong-golongkan atas dasar aspek-aspek tertentu, serta kombinasi antara menggolongkan dengan mengurutkan.
3. Keterampilan menginterpretasi, termasuk menginterpretasi data, grafik, maupun mencari pola hubungan yang terdapat dalam pengolahan data.
4. Keterampilan memprediksi, termasuk membuat ramalan atas kecenderungan yang terdapat dalam pengolahan data
5. Keterampilan membuat hipotesis, meliputi kemampuan berpikir deduktif dengan menggunakan konsep-konsep, teori-teori maupun hukum-hukum IPA yang telah dikenal.
6. Keterampilan mengendalikan variabel, yaitu upaya mengisolasi variabel yang tidak diteliti sehingga adanya perbedaan pada hasil eksperimen adalah dari variabel yang diteliti.
7. Keterampilan merencanakan dan melakukan penelitian, eksperimen yang meliputi penetapan masalah, membuat hipotesis, menguji hipotesis
8. Keterampilan menyimpulkan atau inferensi, yaitu kemampuan menarik kesimpulan dari pengolahan data
9. Keterampilan menerapkan atau aplikasi, atau menggunakan konsep atau hasil penelitian ke dalam perikehidupan dalam masyarakat
10. Keterampilan mengkomunikasikan, yaitu kemampuan peserta didik untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuannya, hasil pengamatan, maupun penelitiannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis. (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992:52).

Sumber Pustaka:

Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara

Iskandar Sri. M dan Eddy M. Hidayat, 1997, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, bagian Proyek Pegembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jakarta

Kartono Kartini, 1980, Pengantar Metodologi Research, Alumni, Bandung

Nasution. S. 2004. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sardiman, A. M. 2008. Interaksi dan Motivasi Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Suharsimi Arikunto, 1993, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta

Sutrisno Hadi, 2000, Metodologi Research, Andi Offset, Yogyakarta

Semiawan Conny, dkk, 1985, Pendekatan Keterampilan Proses, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

Usman Moh. Uzer dan Setiawati, Lilis, 2000, Upaya Optimalisasi Kegiatan
Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Iklan

Aktivitas Belajar

Oleh: FalahYu

Proses pelajaran yang baik hendaknva menempatkan peserta didik sebagai pencari ilmu sehingga perlu dibiasakan memecahkan dan merumuskan sendiri hasilnya (Johar, 2002:2). Intervensi dari orang lain diberikan dalam rangka memotivasi mereka. Perumusan atau konseptualisasi juga dilakukan oleh peserta didik sendiri. Posisi guru dalam proses pelajaran bukan sebagai informator dan penyuap akan tetapi sebagai organisator program pelajaran, sebagai fasilitator bagi pelajaran peserta didik dan sebagai evaluator keberhasilan pelajaran mereka.

Menurut Poerwadarminta (2003:23), aktivitas adalah kegiatan. Jadi aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan peserta didik yang menunjang keberhasilan belajar. Dalam hal kegiatan belajar, Rouseuau (dalam Sardiman 2004:96) memberikan penjelasan bahwa segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri baik secara rohani maupun teknis. Tanpa ada aktivitas, proses belajartidakmungkin terjadi.
Menurut Sardiman (2010:76) Aktivitas adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus selalu berkaitan. Dalam proses pelajaran diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkahlaku (melakukan kegiatan). Tidak ada belajar bila tidak ada aktivitas. Hal tersebut menyebabkan aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Sedang menurut Hamalik (2003:172) Aktivitas belajar diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik pada proses pelajaran, dimana peserta didik bekerja atau berperan aktif dalam pelajaran, dengan demikian peserta didik tersebut memperoleh pengetahuan, pengalaman, pemahaman dan aspek-aspek lain tentang apayang ia lakukan.

Belajar bukanlah proses dalam kehampaan. Tidak pula pernah sepi dari berbagai aktivitas. Tak pernah terlihat orang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya. Apalagi bila aktivitas belajar itu berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berfikir, latihan atau praktek dan sebagainya.

Sekolah merupakan salah satu pusat kegiatan belajar, sehingga sekolah merupakan sarana untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh peserta didik di sekolah, tidak hanya mencatat dan mendengar. Dielrich dalam Sadirman (2005:101) menggolongkan aktivitas belajar peserta didik sebagai berikut:
a. Visual activities, misalnya: membaca, memperhatikan gambar, dan mengamati percobaan.
b. Oral activities, misalnya: merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, dan berdiskusi.
c. Listening activities, misalnya: mendengarkan diskusi dan penjelasan guru.
d. Writing activities, misalnya: menulis laporan, menulis pelajaran, dan menyalin.
e. Drawing activities, misalnya: menggambar atau membuat grafik.
f. Motor activities, misalnya: melakukan percobaan, bermain, dan berkebun.
g. Mental activities, misalnya: memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, dan mengambil hubungan.
h. Emotional activities, misalnya: menaruh minat, merasa gembira, merasa bosan, dan berani.

Klasifikasi belajar seperti yang diuraikan, menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup bervariasi. Bila berbagai macam aktivitas tersebut dapat diciptakan di sekolah maka pelajaran akan menjadi lebih menarik dan peserta didik tidak akan merasa bosan, sehingga sekolah dapat menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal. Untuk itu diperlukan pemilihan strategi pelajaran yang menekankan pada keaktifan peserta didik, sehingga aktivitas belajar peserta didik dapat berkembang, tidak hanya membaca dan menulis.

instrumen aktivitas belajarSumber Pustaka:

Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara

Sardiman, A. M. 2008. Interaksi dan Motivasi Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kreativitas Belajar

Oleh : Falah Yunus

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maupun Kurikulum 2013 di desain agar peserta didik dapat aktif, kreatif dan inovatif dalam bealajar. Dengan kata lain, KTSP dan penerusnya yaitu Kurikulum 2013 telah merubah paradigma pembelajaran, yaitu dari pembelakaran berpusat di guru (teacher centered) beralih ke pembelajaran berpusat di peserta didik (student centered). Sikap aktif, kreatif dan inovatif terwujud dengan menempatkan peserta didik sebagai subyek pendidikan. Peran guru adalah sebagai fasilitator dan bukan sumber utama pembelajaran. Para guru yang peduli dengan masalah ini terus berusaha menyusun dan menerapkan berbagai model yang bervariasi agar peserta didik tertarik dan bersemangat dalam belajar

Menurut Utami Munandar (2009:25), kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam memecahkan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Menurut Fadelis E. Waruwu yang diterjemahkan oleh Monti P Satiadarma (2003: 109), kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada. Conny Semiawan (1984:7) mendefinisikan kreativitas ialah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi ciri-ciri aptitude seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas) dalam pemikiran maupun ciri-ciri non aptitude seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencri pengalaman baru

Berdasarkan uraian tentang pengertian kreativitas di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah adalah potensi daya kreatif pada setiap pribadi sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan hubungan – hubungan yang baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara – cara lain dalam menghadapi suatu masalah yang datang dari diri sendiri berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berekreasi.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kreativitas penting dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak sebagaimana diungkapkan oleh Utami Munandar (2009:45), yaitu: 1) Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. 2) Kreativitas sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal. 3) Bersibuk diri secara kreatif dapat memberikan kepuasan kepada individu. 3) Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.

Menurut Utami Munandar (2009 : 71) bahwa ciri-ciri kepribadian kreatif yang diharapkan yaitu : 1) Rasa ingin tahu yang luas dan mendalam, 2) Sering mengajukan pertanyaan yang baik, 3) Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah, 4) Bebas dalam menyatakan pendapat, 5) Mempunyai rasa keindahan yang dalam, 6) Menonjol dalam salah satu bidang seni, 7) Mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi/sudut pandang, 8) Mempunyai rasa humor yang luas, 9) Mempunyai daya imajinasi, 10) Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah.

Sedang menurut Sund (dalam slameto, 2003: 147-148) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut : 1) Hasrat keingintahuan yang cukup besar, 2) Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru, 3) panjang akal, 4) Keinginan untuk menemukan dan meneliti, 5) Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit, 6) Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan, 7) Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas, 8) Berpikir fleksibel, 9) Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak, 10) Kemampuam membuat analisis dan sintesis, 11) Memiliki semangat bertanya serta meneliti, 12) Memiliki daya absrtaksi yang cukup baik, dan 13) Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.

Contoh penjabaran di atas dapat digunakan untuk Penelitian Tindakkan Kelas (PTK) model pembelajaran Think Talk Write dengan 10 indikator kreativitas yaitu: 1) Memberikan banyak gagasan atau usulan terhadap suatu masalah; 2) Menanggapi pendapat teman, 3) Mengajukan pertanyaan kepada pengajar, 4) Memiliki alternatif dalam menyelesaikan masalah, 5) Dapat menjawab pertanyaan dengan baik, 6) Membahas hal-hal yang diketahui dan tidak diketahuinya, 7) Catatan peserta didik yang dibuat dengan bahasanya sendiri, 8) Menulis hasil kerja kelompok dengan rapi dan benar, 9) Lancar dalam mengemukakan ide secara lisan dan tulisan, 10) Lengkap dan rapi dalam memaparkan hasil kerja kelompok

Contoh instrumen kreativitas belajar pada model pembelajaran Think Talk Write (TTW)

instrumen kreativitas peserta didikSumber Pustaka :

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Utami Munandar. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah: Petunjuk Bagi Para Guru dan Orang tua. Jakarta: PT Gramedia Widiasaran.

Yamin, M dan Ansari, B. I. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individu Peserta didik. Jakarta: Gaung Persada Press

Model Pembelajaran Think Talk Write

Oleh : Falah Yu

copy-cropped-img_46311.jpgPembelajaran model Think Talk Write (TTW) diperkenalkan oleh Huinker dan Laughin (dalam Ansari, 2003:36). Teknik ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Alur TTW dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen antara 3-5 orang peserta didik. Dalam kelompok ini peserta didik diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar, dan membagi ide bersama teman, kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.

Pembelajaran model Think Talk Write (TTW) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat merangsang peserta didik untuk menjadi lebih aktif dalam mengkonstruk atau membangun pemahamannya secara mandiri. Model ini lebih dikenal dengan pembelajaran individu dalam kelompok. Kelebihan dari model ini adalah memiliki tahapan-tahapan yang tidak terlalu sulit dan rumit bagi peserta didik, sehingga dapat memudahkan peserta didik dalam menulis suatu karya tulis ilmiah (makalah).

Pembelajaran model Think Talk Write (TTW) dimulai dengan bagaimana peserta didik memikirkan penyelesaian suatu tugas atau masalah, kemudian diikuti dengan mengkomunikasikan hasil pemikirannya melalui forum diskusi, dan akhirnya melalui forum diskusi tersebut peserta didik dapat menuliskan kembali hasil pemikirannya. Aktivitas berpikir, berbicara, dan menulis adalah salah satu bentuk aktivitas belajar-mengajar matematika yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif.

Adapun prosedur pembelajaran model Think Talk Write (TTW) adalah :

  1. Think (Berpikir)
    Aktivitas berpikir peserta didik dapat terlihat dari proses membaca suatu teks soal, kemudian membuat catatan kecil dari apa yang telah dibaca. Catatan peserta didik tersebut dibuat dengan bahasanya sendiri, berupa apa yang diketahui, dan tidak diketahui dari teks soal, serta bagaimana langkah-langkah penyelesaian masalah.

Menurut Wiedehold (dalam Ansari, 2003:36) membuat catatan berarti menganalisis tujuan isi teks dan memeriksa bahan-bahan yang ditulis. Selain itu, belajar rutin membuat/ menulis catatan setelah membaca, dapat merangsang aktivitas berpikir sebelum, selama, dan setelah membaca. Membuat catatan dapat
mempertinggi pengetahuan peserta didik, bahkan meningkatkan keterampilan berpikir dan menulis.

  1. Talk (Berbicara)
    Pada tahap kedua ini, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri atas 3-5 orang peserta didik yang heterogen. Hal ini dimaksudkan agar dalam tiap kelompok terdapat kemampuan peserta didik yang berbeda-beda sehingga terdapat peserta didik yang membantu anggota lain dalam menyelesaikan masalah.

Selanjutnya, para peserta didik berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang mereka pahami. Peserta didik menyampaikan ide yang diperoleh pada tahap think kepada teman-teman diskusi sekelompoknya yaitu dengan membahas hal-hal yang diketahui dan tidak diketahuinya. Pemahaman dibangun melalui interaksinya dalam diskusi. Diskusi diharapkan dapat menghasilkan solusi atas masalah yang ada dalam LKS. Selain itu dalam tahap ini peserta didik memungkinkan untuk terampil berbicara.

Diskusi yang terjadi pada tahap talk ini merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran peserta didik.

3. Write (Menulis)
Tahap yang terakhir adalah write, peserta didik menuliskan hasil diskusi pada Lembar Kerja Siswa (LKS). Aktivitas menulis berarti mengkonstruksikan ide, karena setelah berdiskusi atau berdialog antarteman, kemudian peserta didik mengungkapkannya ke dalam bentuk tulisan.

Langkah-langkah Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) adalah sebagai berikut.
a. Guru membagikan LKS yang memuat soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik serta petunjuk pelaksanaannya.
b. Peserta didik membaca teks dan membuat catatan kecil berupa hal-hal yang diketahui dan tidak diketahuinya (think).
c. Peserta didik berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok untuk membahas sisi catatan kecil (talk).
d. Peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang memuat pemahaman ke dalam tulisan argumentasi (write).

Menurut Silver dan Smith ( dalam Ansari, 2003: 40), peranan dan tugas guru dalam mengefektifkan penggunaan teknik Think Talk Write adalah:
a. mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan, dan menantang setiap peserta didik untuk berpikir;
b. mendengarkan secara hati-hati ide peserta didik;
c. menyuruh peserta didik mengemukakan ide secara lisan dan tulisan;
d. memutuskan apa yang digali dan dibawa peserta didik dalam diskusi;
e. memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasi persoalan-persoalan, menggunakan model, membimbing dan membiarkan peserta didik berjuang dengan kesulitan;
f. memonitoring dan menilai partisipasi siwa dalam diskusi dan memutuskan kapan dan bagaimana mendorong setiap peserta didik untuk berpartisipasi.

Disarankan para guru hendaknya mempunyai kemauan untuk melaksanakan model pembelajaran Think Talk Write melalui program pelajaran yang terencana, hindari kebiasaan pelajaran. Perlu dipersiapkan secara matang sehingga hasilnya dapat tercapai sesuai keinginan. Perlunya dikembangkan model pembelajaran Think Talk Write yang sangat bagus bagi peserta didik untuk berpikir kreatif dengan ditunjukkan peserta didik mau membaca dan membuat catatan sesuai pikiran dan bahasanya (think), peserta didik berani berbicara mengemukakan pendapat, ide dan gagasan serta mampu menjawab dan berargumentasi dengan baik (talk) dan peserta didik mampu menulis, merangkum, dan menunjukkan hasil karyanya di depan kelas (write).

Sumber Pustaka:

Muhibbin Syah, 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru , Bandung: Remaja Rosdakarya

Nana Sudjana, 2005. Penilaian hasil proses belajar mengajar.Bandung: Remaja Rosdakarya

Nasution. S. 2004. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sardiman, A. M. 2008. Interaksi dan Motivasi Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Usman Moh. Uzer dan Setiawati, Lilis, 2000, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Yamin, M dan Ansari, B. I. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individu Peserta Didik. Jakarta: Gaung Persada Press

Zaenal Arifin, 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik Prosedur, Bandung: Rosda Karya