Model Pembelajaran Think Talk Write

Oleh : Falah Yu

copy-cropped-img_46311.jpgPembelajaran model Think Talk Write (TTW) diperkenalkan oleh Huinker dan Laughin (dalam Ansari, 2003:36). Teknik ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis. Alur TTW dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen antara 3-5 orang peserta didik. Dalam kelompok ini peserta didik diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar, dan membagi ide bersama teman, kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.

Pembelajaran model Think Talk Write (TTW) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat merangsang peserta didik untuk menjadi lebih aktif dalam mengkonstruk atau membangun pemahamannya secara mandiri. Model ini lebih dikenal dengan pembelajaran individu dalam kelompok. Kelebihan dari model ini adalah memiliki tahapan-tahapan yang tidak terlalu sulit dan rumit bagi peserta didik, sehingga dapat memudahkan peserta didik dalam menulis suatu karya tulis ilmiah (makalah).

Pembelajaran model Think Talk Write (TTW) dimulai dengan bagaimana peserta didik memikirkan penyelesaian suatu tugas atau masalah, kemudian diikuti dengan mengkomunikasikan hasil pemikirannya melalui forum diskusi, dan akhirnya melalui forum diskusi tersebut peserta didik dapat menuliskan kembali hasil pemikirannya. Aktivitas berpikir, berbicara, dan menulis adalah salah satu bentuk aktivitas belajar-mengajar matematika yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif.

Adapun prosedur pembelajaran model Think Talk Write (TTW) adalah :

  1. Think (Berpikir)
    Aktivitas berpikir peserta didik dapat terlihat dari proses membaca suatu teks soal, kemudian membuat catatan kecil dari apa yang telah dibaca. Catatan peserta didik tersebut dibuat dengan bahasanya sendiri, berupa apa yang diketahui, dan tidak diketahui dari teks soal, serta bagaimana langkah-langkah penyelesaian masalah.

Menurut Wiedehold (dalam Ansari, 2003:36) membuat catatan berarti menganalisis tujuan isi teks dan memeriksa bahan-bahan yang ditulis. Selain itu, belajar rutin membuat/ menulis catatan setelah membaca, dapat merangsang aktivitas berpikir sebelum, selama, dan setelah membaca. Membuat catatan dapat
mempertinggi pengetahuan peserta didik, bahkan meningkatkan keterampilan berpikir dan menulis.

  1. Talk (Berbicara)
    Pada tahap kedua ini, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri atas 3-5 orang peserta didik yang heterogen. Hal ini dimaksudkan agar dalam tiap kelompok terdapat kemampuan peserta didik yang berbeda-beda sehingga terdapat peserta didik yang membantu anggota lain dalam menyelesaikan masalah.

Selanjutnya, para peserta didik berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata dan bahasa yang mereka pahami. Peserta didik menyampaikan ide yang diperoleh pada tahap think kepada teman-teman diskusi sekelompoknya yaitu dengan membahas hal-hal yang diketahui dan tidak diketahuinya. Pemahaman dibangun melalui interaksinya dalam diskusi. Diskusi diharapkan dapat menghasilkan solusi atas masalah yang ada dalam LKS. Selain itu dalam tahap ini peserta didik memungkinkan untuk terampil berbicara.

Diskusi yang terjadi pada tahap talk ini merupakan sarana untuk mengungkapkan dan merefleksikan pikiran peserta didik.

3. Write (Menulis)
Tahap yang terakhir adalah write, peserta didik menuliskan hasil diskusi pada Lembar Kerja Siswa (LKS). Aktivitas menulis berarti mengkonstruksikan ide, karena setelah berdiskusi atau berdialog antarteman, kemudian peserta didik mengungkapkannya ke dalam bentuk tulisan.

Langkah-langkah Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) adalah sebagai berikut.
a. Guru membagikan LKS yang memuat soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik serta petunjuk pelaksanaannya.
b. Peserta didik membaca teks dan membuat catatan kecil berupa hal-hal yang diketahui dan tidak diketahuinya (think).
c. Peserta didik berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok untuk membahas sisi catatan kecil (talk).
d. Peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang memuat pemahaman ke dalam tulisan argumentasi (write).

Menurut Silver dan Smith ( dalam Ansari, 2003: 40), peranan dan tugas guru dalam mengefektifkan penggunaan teknik Think Talk Write adalah:
a. mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan, dan menantang setiap peserta didik untuk berpikir;
b. mendengarkan secara hati-hati ide peserta didik;
c. menyuruh peserta didik mengemukakan ide secara lisan dan tulisan;
d. memutuskan apa yang digali dan dibawa peserta didik dalam diskusi;
e. memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasi persoalan-persoalan, menggunakan model, membimbing dan membiarkan peserta didik berjuang dengan kesulitan;
f. memonitoring dan menilai partisipasi siwa dalam diskusi dan memutuskan kapan dan bagaimana mendorong setiap peserta didik untuk berpartisipasi.

Disarankan para guru hendaknya mempunyai kemauan untuk melaksanakan model pembelajaran Think Talk Write melalui program pelajaran yang terencana, hindari kebiasaan pelajaran. Perlu dipersiapkan secara matang sehingga hasilnya dapat tercapai sesuai keinginan. Perlunya dikembangkan model pembelajaran Think Talk Write yang sangat bagus bagi peserta didik untuk berpikir kreatif dengan ditunjukkan peserta didik mau membaca dan membuat catatan sesuai pikiran dan bahasanya (think), peserta didik berani berbicara mengemukakan pendapat, ide dan gagasan serta mampu menjawab dan berargumentasi dengan baik (talk) dan peserta didik mampu menulis, merangkum, dan menunjukkan hasil karyanya di depan kelas (write).

Sumber Pustaka:

Muhibbin Syah, 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru , Bandung: Remaja Rosdakarya

Nana Sudjana, 2005. Penilaian hasil proses belajar mengajar.Bandung: Remaja Rosdakarya

Nasution. S. 2004. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Sardiman, A. M. 2008. Interaksi dan Motivasi Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Usman Moh. Uzer dan Setiawati, Lilis, 2000, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Yamin, M dan Ansari, B. I. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individu Peserta Didik. Jakarta: Gaung Persada Press

Zaenal Arifin, 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik Prosedur, Bandung: Rosda Karya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s